Saham Unilever turun 11,01 persen sepanjang tahun ini. Padahal, saham UNVR membuka tahun dengan aksi pemecahan nilai saham atau stock splilt 1:5.
Keputusan Unilever melakukan pemecahan nilai saham atau stock split itu membuat banyak investor ritel bergairah. Soalnya, dengan pemecahan nilai saham itu, harga saham berkode UNVR ini lebih terjangkau.
Banyak juga yang berharap beli di level Rp8.000-an per saham bisa keluar di level sebelum pemecahan nilai saham lagi di level Rp40.000-an per saham. Namun itu cuma mimpi mengingat ekonomi global penuh tekanan geopolitik dan ketidakpastian.
BACA INI: Perusahaan Rokok vs Fast Food, Siapa yang Paling Cuan?
Adapun, salah satu keputusan besar Unilever dalam lima tahun terakhir adalah melepas bisnis margarinnya seperti Blue Band pada 2018. Secara global, Unilever melepas bisnis margarinnya senilai 8,04 miliar dolar AS atau setara Rp108,4 triliun ke KKR. Bisnis margarin Unilever di Indonesia juga dilepas senilai Rp2,9 triliun.
Setelah melepas bisnis margarinnya, Unilever langsung ngebut menambah portofolio bisnis makanan dan minumannya, yakni saus sambal bermerek Jawara.
Saham Unilever dan Geliat Bisnis Sambal
Jika melihat segmen pendapatan Unilever dalam 13 tahun, tulang punggung pendapatan perseroan berada di tangan produk perawatan dan kecantikan. Sampai kuartal III/2020, Kontribusi produk perawatan dan kecantikan itu setara dengan 70 persen dari total pendapatan.
Meskipun begitu, bisnis makanan dan minuman Unilever bisa dibilang tumbuh lumayan pesat dalam 13 tahun terakhir. Buktinya, kontribusi pendapatan dari segmen itu tumbuh dari 23 persen pada 2008 menjadi 30 persen pada 2020.
Salah satu andalan saham Unilever di bisnis makanan adalah es krim Walls, salah satu penguasa pasar es krim di Indonesia.
Adapun, pendapatan segmen bisnis makanan dan minuman tidak terdampak terlalu dalam ketika perseroan melepas bisnis margarin. Pendapatan segmen bisnis makanan dan minuman hanya berkurang sekitar Rp20 miliar pada 2019 atau setahun setelah melepas bisnis margarin.
Hal itu bisa menjadi simpulan Unilever ingin merestrukturisasi bisnisnya agar lebih efisien. Toh, bisnis margarin seperti Blue Band dan kawan-kawan yang dianggap besar, mungkin tidak mencatatkan kinerja penjualan yang begitu bagus.
Bisnis sambal bermerek Jawara milik Unilever bisa dibilang belum mampu mengembalikan pos penjualan yang ditinggalkan produk margarin. Buktinya, kontribusi bisnis makanan masih menyusut dari 31 persen sebelum penjualan bisnis margarin menjadi 29 persen setelah penjualannya.
Namun, penjualan itu bisa dianggap juga dampak dari pandemi Covid-19. Secara keseluruhan Unilever sudah mengeluarkan segala cara agar produk sambal barunya bisa penetrasi ke pasar dengan cepat.
Gaet Warunk Upnormal
Jujur, Mistercuan pertama kali lihat produk sambal Jawara ada di kedai mie instan kekinian Warunk Upnormal. Awalnya, saya pikir itu adalah produk dari grup Warunk Upnormal, tetapi ketika produk itu masuk ke pasaran, ternyata ada logo Unilever di baliknya.
Strategi Unilever menggandeng mitra untuk pengenalan produk itu lumayan menarik. Dengan menggandeng tempat makan kekinian, banyak orang yang bisa merasakan perbedaan sambal itu dengan kompetitornya.
Lalu, Jawara juga menawarkan konsep sambal yang berbeda, yakni menggunakan plastik, bukan botol plastik. Secara user experinced, bentuk kemasan sambal Jawara lebih efisien karena bisa menggunakan sambal hingga tetes terakhir. Berbeda jika menggunakan botol di mana kalau sudah mau habis, sambal sulit sekali keluar.
Namun, keputusan membuat produk sambal baru juga cukup menantang karena persaingannya sudah ketat. Beberapa kompetitor besar antara lain, ABC dan Indofood. Lalu, ada pula pemain lokal seperti sambal dua belibis dan cap ibu jari yang sudah tenar lebih dulu.
Kompetitor dari perusahaan besar seperti ABC dan Indofood memiliki kelebihan membuat kebaruan produk dari segi rasa. Misalnya, baru-baru ini ABC baru saja meluncurkan produk sambal bawang ABC yang bahan bakunya asli dari Brebes.
Di sisi lain, kompetitor lokal juga tidak bisa dianggap remeh, mereka sudah memiliki segmen pasar sendiri. Misalnya, sambal dua belibis sudah masuk ke pasar makanan UMKM seperti mie ayam dan sebagainya. Lalu, sambal cap ibu jari sangat melekat untuk dimakan bersama kuliner laut.
Kira-kira bisa enggak Jawara mendisrupsi pasar seperti ketika Mie Sedap masuk ke pasar mie instan untuk mengganggu kenyamanan Grup Indofood?