Mengalami Sejarah
Oleh Syaiful Anuar
Syaiful Anuar sedang menyampaikan piirannya di perhelatan diskusi akhir tahun yang ditaja mahasiswa FIB Unilak
Kerajaan-kerajaan di Riau
Beberapa kerajaan di Riau pernah mencapai peradaban dan juga sebagai imperium bagi kerajaan-kerajaan lainnya. Di antara kerajaan yang pernah menjadi imperium itu yakni, Inderagiri dan Siak.
Inilah nama-nama kerajaan di Riau, lokasi situs, wilayah, dan prakiraan berdirinya:
- Kerajaan Kandis Lubukjambi, Riau Abad ke-3 SM
- Kerajaan Koto Alang Lubukjambi, Riau Abad ke-4 M
- Kerajaan Katangka Kampar, Muara Takus, cikal bakal Sriwijaya, Abad ke-3-4 M
- Andiko 44 Kampar ?
- Kerajaan Keritang Inderagiri ?
- Kerajaan Inderagiri Inderagiri 1298 M
- Kerajaan Sangar Telukmeranti ?
- Kerajaan Pekantua Kampar Kampar Tahun 1392 M
- Kerajaan Gasib Sungai Siak dan Sungai, Tapung Abad ke14 M
- Kerajaan Segati Langgam, Pelalawan, Riau Abad ke-15 M
- Kerajaan Rokan Rokan IV Koto, Rokan Hulu, Abad ke-15
- Kerajaan Pekaitan Siarang-arang, Sintong, Tanahputih Abad ke-15 M
- Kesultanan Siak (pertama di Buantan) Pantai Timur Sumatra (Siak hingga Deli) Tahun 1723
- Kesultanan Pelalawan, Pelalawan (Batang Kampar), tahun 1811
- Kerajaan Gunung Sahilan, Gunungsahilan Kampar Kiri
- 17 Kerajaan Tambusai, Karangbesar, Daludalu, Rantaubinuang, Rantaukasai, Dalu-dalu, Rokan Hulu ?
- Kerajaan Kunto Darussalam ?
- Kerajaan Rambah ?
- Kerajaan Kepenuhan ?
- Kerajaan Rokan 4 Koto ?
Kita, Lingkungan Masa Lalu (sejarah), dan Saat Ini
“Satu kepakan sayap kupu-kupu di Amazon, menyebabkan topan di Arizona”
“Kematian seekor nyamuk dalam suatu ruangan, menyebabkan suhu ruangan menjadi sedikit lebih dingin”
Kedua kalimat di atas adalah bentuk ekoligis yang dapat diterjemahkan secara ilmiah. “Satu kepakan sayap kupu-kupu di Amazon menyebabkan topan di Arizona” semacam pernyataan kebohongan, namun dalam ilmu ekologi menjadi sesuatu yang ilmiah. Angin dari satu kepakan sayap kupu-kupu bergabung dengan angin-angin yang lain sehingga menjadi sangat besar dan kemudian menyapu Arizona. Begitu pula kalimat “kematian seekor nyamuk dalam suatu ruangan, menyebabkan suhu ruangan menjadi sedikit lebih dingin” dapat diterjemahkan bahwa satu partikel metabolisme menghilang, maka udara akan menjadi lebih dingin.
Dari dua kalimat di atas, tampak jelas keterkaitan antara suatu wujud dengan lingkungannya. Sejarah adalah bentuk keterkaitan itu, dirangkum dalam peristiwa yang kita sebut terjadi di masa lampau namun efeknya hingga kini. Pentingnya menghayati sejarah sama halnya dengan pentingnya mengenali diri sendiri. Kehilangan sejarah tentu akan menyebabkan kehilangan jati diri.
Dalam beberapa ruang baca internet, sering kita jumpai sejarah yang diubah suai dengan berbagai kepentingan. Mereka membuat sejarah yang sejatinya apa adanya menjadi simpang siur. Sejarah kerajaan Siak misalnya, dikisahkan sebagai kerajaan yang didirikan oleh Raja Kecik yang berasal dari Johor. Dalam banyak versi baru, dikisahkan berasal dari Pagaruyung. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ekspansi kultur dan juga untuk mengkerdilkan keagungan Siak dalam sejarah.
Asal mula orang-orang asli (proto Malay) seperti Sakai dan Talang Mamak juga mengalami ekspansi kultur. Bentuk sastra urban dari cerita Nabi Nuh a.s. ketika menghadapi kiamat —banjir besar yang merendam bumi— disadap kemudian diputus pada bagian-bagian peristiwa tertentu. Lalu, dibangun cerita asal-usul manusia yang dimulai dari puncak gunung, sedangkan peristiwa orang-orang yang berlarian dari tepi pantai dan sungai menuju puncak bukit dan gunung untuk menyelamatkan diri tidak diceritakan.
Bukan tidak mungkin pada masa mendatang, prinsip ilmiah dari suatu sejarah yang didasari berbagai pembuktian ilmiah, akan pudar. Catatan-catatan keliru yang bertebaran masif menghuni partisi jejaring internet menjadi alur sejarah baru dan diaggap benar di kalangan awam. Sebagai analoginya subjektif, bila satu orang mengatakan A gila, maka A belum tentu gila. Tetapi, bila sudah satu kampung yang mengatakan A gila, maka A akan benar-benar gila, meski secara medis dia tidak gila.
Dalam dunia informasi 4.0 saat ini, pemahaman awam lebih cenderung membenarkan catatan yang mudah ditemukan melalui jejaring internet. Maka, konteks keterkaitan kita dengan lingkungan masa lalu (sejarah) dan saat ini sangat jelas. Titik tumpu untuk meluruskan informasi yang keliru terhadap sejarah kerajaan di Riua khususnya, hanyalah pada kekuatan literasi (menulis). Selain itu, kreativitas yang lebih cepat ditangkap oleh masyarakat awam adalah media visual seperti film dan dokumenter. Semakin banyak tulisandan dokumentasi visual yang benar, maka catatan-catatan yang keliru dapat dinafikan.
Kejayaan Kerajaan Menyebabkan Diaspora
Sering kali kita melihat di suatu kerajaan, kota, bahkan kampung yang dihuni beberapa suku bangsa —keadaan masyarakat yang majemuk—. Keadaan demikian dianggap sebagai gambaran kehidupan yang wajar (pluralisme). Hingga saat ini, keberlansungan diapora (urban) manusia tetap berjalan dan semakin laju. Dalam kajian kultur, pergerakan manusia semacam itu dapat digolongkan dalam dua bagian besar, yakni pergerakan sentripetal dan sentrifugal.
Kecenderungan cara hidup manusia selalu mempengaruhi pola pergerakannya. Misalnya, pedagang akan mengikuti pergerakan sentripetal atau melakukan pergerakan yang mendekati sumbu peradaban. Kejayaan kerajaan Melayu di Riau menarik berbagai kelompok etnik untuk mencari penghidupan di kawasan Riau saat ini. Di Inderagiri, orang-orang Banjar dan Bugis menjadikan wilayah itu sebagai tempat mencari penghidupan. Mereka telah mendiami wilayah Inderagiri sejak beberapa abad silam.
Kedatangan atau urban semacam ini dilihat sebagai bukti bahwa Kerajaan Inderagiri pernah mencapai kejayaan dan peradabannya. Mereka melihat Inderagiri sebagai mahligai, pucuk pumpunan yang menjanjikan penghidupan, tempat berlindung yang aman, dan lain sebagainya. Di Siak, orang-orang Mindanao, Pattani, Brunai, Tumasik, Malaysia, dan Jawa berdatangan untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Sebab, Siak pada masanya menjadi pusat pendidikan di Asia Tenggara. Pergerakan mendekati sumbu peradaban semacam ini juga patut dituliskan lebih rinci dan atau direkam dalam bentuk visual.
Manusia yang melakukan pergerakan sentrifugal cenderung dilakukan oleh mereka yang biasa berladang. Pusat kerajaan (kota) tidak mungkinkan dijadikan sebagai tempat berladang. Sebab, wilayah kota dijadikan sebagai pemukiman dan tempat berniaga. Orangorang Melayu cenderung menjalankan penghidupan dengan cara berladang, meski setelah berladang melakukan perniagaan.
Pergerakan manusia selalu diikuti dengan penandaan. Mereka yang melakukan pekerjaan berladang selalu memberi tanda —secara tradisional dalam perjalanannya menuju hutan tempat berladang— agar mudah mencari jalan pulang ke kampung atau kota untuk menjual hasil berladang. Penandaan semacam akan melekat dan menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan pada generasi berikutnya.
Ahli antropologi sejak Malinowski (1922) dan Mauss (1924 dan 1954) berpendapat bahwa hubungan antara manusia dengan benda sejatinya bervariasi secara kultural. Penandaannya selalu berbeda antara masyarakat satu dengan yang lain. Penandaan sungai kiri dan kanan misalnya, orang di hilir (Riau) menyebut Kampar Kiri berada di Lipatkain dan Kampar Kanan berada di Limakoto. Penandaan tersebut juga dipakai oleh masyarakat di hulu sungai Kampar. Artinya, penandaan yang tidak berbeda itu dapat terjemahkan bahwa asalmuasal masyarakat hulu Kampar berasal dari hilir. Andai saja masyarakat hilir berasal dari masyarakat hulu, maka penandaannya akan terbalik, Kampar Kiri berada di Limakoto dan Kampar Kanan tentulah di Lipatkain.
Kejayaan dan Pradaban Diikuti dengan Perkemangan Kesenian
Kesenian Melayu yang hingga saat ini ada dan terus berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa dahulu, kawasan yang bernama Riau ini pernah mencapai peradaban. Kesenian adalah wujud dari kejayaan masyarakatnya yang dapat dilihat dari pendidikan, ekonomi, dan keamanan. Setelah perperangan 400 tahun, China disatukan Dinasti Tang (618-906) hingga mencapai kemakmuran dalam bidang pendidikan, ekonomi, kemanan, dan kesenian. Mesir dikenal dengan kesenian dan arsitekturnya hingga kini karena didukung cita-cita Firaun —masa kejayaan Mesir kuno— untuk membangun proyek raksasa dan tahan lama. Dalam pendapat lain menyatakan bahwa kemakmuran melenakan manusia, sehingga mereka enggan berkreativitas dan kesenian hanya muncul dari keativitas manusia saja.
Dari kedua pendapat di atas, saya lebih cenderung menerima kesenian yang muncul saat manusia mencapai peradaban. Kesenian di Riau muncul dalam rentang waktu pencapaian peradaban tersebut. Bertahannya kesenian Riau hingga saat ini juga didasari oleh peradaban masa lampau. Lalu bagaimana kesenian di masa mendatang?
Syaiful Anuar adalah peneliti muda Riau. Tulisan ini disampaikan pada perhelatan diskusi akhir tahun yang ditaja mahasiswa FIB Unilak, 31 Desember 2019