Perdebatan Cover Majalah Tempo: yang Hidungnya Panjang Kayak Pinokio Itu Bayangan, Bukan Gambar Jokowinya
Nadirsyah Hosen di Taipei | TWITTER Nadirsyah Hosen
AKURAT.CO, Cover Majalah Tempo terbaru mengundang pro dan kontra sejak kemarin. Judul utama Majalah Tempo kali ini Janji Tinggal Janji.
Di bawah judul, diberi summery berupa pertanyaan: "para pegiat anti korupsi menuding Presiden ingkar janji perihal penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi. Benarkah sejak awal Jokowi mendukung ketua komisi terpilih?"
Tetapi yang jadi perdebatan terletak pada gambar Presiden Joko Widodo.
baca juga:
- Presiden Sampaikan Peran Penting Keterbukaan Informasi dalam Penangan Pandemi di Hari Penyiaran Nasional
- Tol JORR II Diresmikan, Jokowi Minta Pemda Tarik Investasi Lebih Banyak
- Kembangkan Potensi Candi Prambanan, Jokowi: Bhineka Tunggal Ika Adalah DNA Indonesia
Menurut pendapat pemerhati politik Denny Siregar yang disampaikan melalui akun Twitter @Dennysiregar7, gambar tersebut telah menghina Jokowi sebagai Presiden. Dia menekankan, gambar itu sudah keterlaluan.
"Cover majalah @tempodotco ini sangat menghina @jokowi sebagai Presiden RI. Tempo boleh tidak suka dengan revisi UU @KPK_RI - meskipun sebenarnya media tidak boleh berpihak. Tapi membuat sebuah gambar yang menghina simbol negara ini, saya rasa sudah sangat keterlaluan!" kata dia.
Bahkan, mantan direktur Freedom Institute Akhmad Sahal menilai Majalah Tempo seperti mengikuti Obor Rakyat. Tabloid Obor Rakyat memicu kontroversi di tengah kampanye Pemilihan Presiden 2014 karena menurunkan tulisan berjudul 1001 Topeng Jokowi.
"Saya sangat kecewa dengan cover Tempo terbaru. Sah-sah aja kalau @tempodotco bersikap keras terhadap @jokowi soal KPK. Tapi mengkritik tak identik dgn melecehkan... Mosok sekelas Tempo ikut-ikutanan Obor Rakyat sih," kata @sahaL_AS.
Sementara itu Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan kritik dalam cover Majalah Tempo justru memberikan kesadaran untuk bersatu.
"Opini MBM TEMPO, menggugah kesadaran kita untuk bersatu: “Bukan saatnya lagi mendikotomikan publik berdasarkan kategori pendukug Jokowi atau Prabowo Subianto. Mengkritik Presiden bukan berarti mendukung Prabowo. Menolak pelemahan KPK bukan berarti mendukung radikalisme agama," kata dia.
Tokoh Nadlatul Ulama yang juga dosen di Fakultas Hukum Monash University Australia Nadirsyah Hosen melalui akun Twitter @na_dirs memuji cover Majalah Tempo. Dia juga menjelaskan hidung panjang dalam cover itu bukan gambar Jokowi, melainkan bayangannya. Menurut dia, gambar tersebut tidak melecehkan dan Jokowi tidak perlu tersinggung.
"Cover majalah Tempo ini artistik. Yang hidungnya panjang kayak Pinokio adalah bayangan Jokowi, bukan gambar Jokowinya. Ada mesej yang kuat, tanpa melecehkan. Saya yakin Pak @jokowi tidak perlu tersinggung. Kritikan yang artistik dan argumentatif itu perlu dalam demokrasi," kata dia. []
Cover majalah Tempo ini artistik. Yang hidungnya panjang kayak Pinokio adalah bayangan Jokowi, bukan gambar Jokowinya. Ada mesej yg kuat, tanpa melecehkan. Saya yakin Pak @jokowi tidak perlu tersinggung. Kritikan yg artistik dan argumentatif itu perlu dalam demokrasi ???????????? pic.twitter.com/WyMrSAw3MY — Nadirsyah Hosen (@na_dirs) September 15, 2019