Ada kalanya kata-kata penyemangat dari kenalan justru terasa menyengat bagi orang-orang yang tengah bermasalah.
Bagi sebagian orang, ucapan “semangat ya”, “kamu pasti bisa”, atau “be positive” cukup ampuh mematahkan pikiran dan perasaan buruk mereka. Namun, bagi sebagian lainnya, hal tersebut justru membuat mereka makin merasa kecil diri, bahkan bisa menjadi pemicu gangguan psikis.
Selasa (7/5), Temali mewawancarai Diah Mahmudah, seorang psikolog dan pemilik Biro Psikologi Dandiah, mengenai fenomena yang biasa disebut Toxic Positivity.
Apa yang dimaksud toxic positivity (TP)?
“Toxic positivity (TP) itu istilah popular. Lalu sebagai psikolog, saya menyimpulkan bahwa TP adalah fenomena di masyarakat kita yang bermaksud memberikan semangat dengan kata-kata positif kepada teman yang sedang mengalami masalah.
Kata-kata yang bisa jadi maksudnya memotivasi seperti : "Ayo, jangan menyerah"; "Masa begitu aja kamu menangis, yang lain ada yang lebih parah dari kamu"; "Sudah lupakan, kita sekarang tatap masa depan" bisa jadi toxic."
Mengapa kata-kata positif tersebut bisa jadi toxic?
"Disebut toxic bagi yang sedang mengalami problema emosional karena teman membutuhkan ruang curhat dulu tentang pengaliran rasa sebelum ia diberikan kata-kata positif.
Ketika ia diminta move on, melupakan, dan lain sebagainya, maka kita meminta dan memaksa orang tersebut memendam berbagai emosi negatif (di alam bawah sadarnya) yang suatu hari akan menjadi toxic baginya, terlebih terus menerus ia tumpuk sepanjang hidupnya.
Bisa jadi ia akan mengalami problema emosional yang lebih parah. Bisa jadi toxic itu menyerang kondisi fisiknya juga kesehatan akalnya. Ia akan menjadi pribadi sumbu pendek : reaktif dan mudah meluapkan amarah. Padahal mengutip Robert Green Ingersoll, "Amarah adalah angin yang memadamkan cahaya lentera yang menerangi pikiran"."
Mengapa toxic positivity bisa terjadi?
“Problem emosional itu menyakitkan sehingga banyak orang yang berusaha melupakan dan mengajak orang melupakan. Ini fenomena sosial di masyarakat kita. Bukti kuat bahwa masyarakat kita belum cerdas mengelola emosi.
Positivity akan berefek positif ketika kita berikan di tahapan akhir. Membantu teman melepaskan rasa perih benar-benar tuntas dan penuh kesadaran bahwa "melepaskan" itulah pilihannya (bukan karena "dipaksa lingkungan eksternal").”
Bagaimana cara kita menghadapi toxic positivity?
“Teman yang melakukan TP itu bisa jadi tidak tahu dinamika jiwa juga emosi. Prinsipnya : Berikanlah ruang curhat sebelum siraman nasehat."
Kenapa kita harus menghindari toxic positivity?
“Agar kita bisa sehat jiwa raga, sehat mengelola emosi secara tuntas. Dengan tidak memendam beragam emosi negatif di jiwa kita maka jiwa kita dipenuhi beragam emosi positif yang membuat kita berdaya dan produktif. Sejatinya, fitrah kita adalah pribadi yang welas asih dan penuh kasih sayang pada diri juga sesama.”
[Penulis: Izzudin | Editor: Tristia]
Konten ini bermitra dengan Eduplex Indonesia, co-working space.
Untuk info co-working, virtual office, dan sewa space kantor dengan suasana cozy di pusat kota Bandung, hubungi Mia (085721285233) atau email ke info@eduplex.id.