Korban diketahui menunjukkan kartun Nabi Muhammad , yang dianggap sebagai penghinaan oleh umat Islam, kepada para muridnya. Pembunuhan sadis terhadap korban pun dianggap sebagai aksi terorisme .
Jaksa anti-teror Prancis mengatakan sedang menyelidiki serangan yang terjadi di Conflans Sainte-Honorine, pinggiran barat laut Paris itu. Presiden Emmanuel Macron juga telah tiba di tempat kejadian pada Jumat malam.
Dalam serangan itu, sumber polisi mengatakan bahwa para saksi telah mendengar penyerang berteriak "Allahu Akbar", atau "Tuhan Yang Maha Besar". Seorang juru bicara polisi mengatakan bahwa informasi ini sedang diperiksa seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (17/10/2020).
Baca Juga:
- Janji Manis Paham ISIS, Saksikan Selengkapnya di iNews Sore Kamis Pukul 16.00 WIB
- Pascaaksi Teror, Petugas Jaga Pintu Masuk Mabes Polri Bakal Diperiksa
- Moeldoko: Tak Ada Tempat Sembunyi Bagi Mereka yang Terlibat Terorisme
Sumber polisi lain juga mengatakan bahwa korban telah dipenggal dalam serangan itu, tetapi hal ini belum dikonfirmasi. Serangan itu terjadi di jalan depan sekolah menengah tempat korban bekerja.
Sebuah utas Twitter yang diposting pada 9 Oktober berisi tuduhan bahwa seorang guru sejarah di Conflans Sainte-Honorine telah menunjukkan kartun kepada murid-muridnya yang dimaksudkan untuk menggambarkan Nabi Muhammad.
Utas berisi video seorang pria yang mengatakan putrinya, seorang Muslim, adalah salah satu murid di kelas. Ia pun mengaku terkejut dan kesal dengan tindakan gurunya itu.(Lihat video: Bali Tuan Rumah Forum Penanganan Bencana Internasional 2022 )
Pria dalam video tersebut mendesak pengguna Twitter untuk mengadu kepada pihak berwenang dan meminta guru tersebut dicopot dari posisinya. Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian video tersebut secara independen.