KOMPAS.com - Tepat 76 tahun lalu hari ini, salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di Indonesia terjadi.
28 Juni 1944, Jepang membantai ribuan orang Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat.
Pembantaian ini dilatarbelakangi desas-desus yang terdengar oleh Jepang.
Dilansir dari buku Peristiwa Mandor Berdarah (2009), Polisi Rahasia Kaigun atau Tokkeitai mendengar adanya persekongkolan pemberontakan melawan Jepang.
Pada masa itu, kebencian rakyat Indonesia terhadap Jepang memang memuncak. Selama pendudukan Jepang, rakyat dipaksa bekerja, disiksa jika tak menurut, kelaparan, hingga tak punya pakaian.
Baca juga: Kedatangan Jepang di Indonesia, Mengapa Disambut Gembira?
Di saat yang sama, Jepang membutuhkan simpati rakyat untuk mendukung perangnya.
Maka Jepang mendirikan Nissinkai, organisasi politik untuk menyalurkan ide-ide politik, yang tentunya tidak mengancam Jepang.
Tokoh politik, pengusaha, dan cendekiawan yang tergabung di antaranya JE Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyiap Sun (Kepala Urusan orang Asing/Kakyo Toseikatyo).
Para tokoh pergerakan ini diam-diam juga memiliki gerakan bawah tanah yang disebut Gerakan Enam Sembilan. Ini karena anggotanya berjumlah 69. Tidak diketahui pasti siapa saja 69 orang itu.
Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone. Syarat & Ketentuan