Para pejabat keamanan AS dari FBI, Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Kehakiman mengatakan China semakin menargetkan kerentanan sistem keamanan AS di dunia maya. Mereka juga memanfaatkan beberapa anggota diaspora untuk mencuri rahasia dan mengancam keamanan nasional AS.
"Ini adalah ancaman kontra intelijen paling parah yang dihadapi negara kita hari ini," kata asisten direktur Divisi Kontra Intelijen FBI, Bill Priestap, kepada Komite Kehakiman Senat AS.
"Kami membutuhkan tanggapan yang lebih luas," sambungnya, memperingatkan bahwa tindakan AS hingga saat ini belum memadai.
Baca Juga:
"Apa yang tergantung pada keseimbangan bukan hanya masa depan Amerika Serikat, tetapi masa depan dunia," cetusnya seperti dikutip dari VOA, Kamis (13/12/2018).
Sementara pejabat Departemen Kehakiman mengatakan bahwa antara tahun 2011 dan 2018, lebih dari 90 persen kasus spionase terhadap departemen di negara itu melibatkan China dan laju operasinya meningkat.
"Buku pedomannya sederhana: curi, tiru dan ganti," ujar Asisten Jaksa Agung John Demers kepada anggota parlemen.
"Curi kekayaan intelektual dari perusahaan Amerika, mereplikasi teknologi itu, dan menggantikan perusahaan Amerika di pasar China dan suatu hari di pasar global," jelasnya.