Anarkisme yang ditunjukkan suporter timnas bukan hanya bakal mengundang sanksi berat dari FIFA. Apa yang mereka lakukan sejatinya menegaskan betapa mentalitas supoter belum siap untuk mendukung perkembangan sepak bola di Indonesia. Kericuhan yang dilakukan oknum suporter Indonesia ini terjadi di pertengahan babak kedua. Kedua tim sempat saling melontarkan yel-yel mengejek satu sama lain. Namun pendukung Indonesia terlihat sudah tidak sabar dan mulai banyak yang masuk ke trek atletik untuk menyerang suporter Malaysia sebelum di hentikan pihak keamanan.
Baca Juga:
Kondisi semakin men jadi-jadi setelah tim kesayangannya kandas 2-3 dari Malaysia. Atas insiden tersebut, kemarin Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi sudah meminta maaf kepada Menteri Belia dan Sukan Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman. Tapi tampaknya permintaan maaf ini tidak menyurutkan langkah Malaysia untuk melaporkan kepada FIFA.
Keprihatinan mendalam atas perilaku suporter itu memang perlu dikemukakan. Kericuhan yang terjadi di Stadion GBK itu, stadion kebanggaan bangsa ini, merupakan akumulasi dari rendahnya mentalitas suporter akibat kurangnya pembinaan terhadap mereka, baik dari klub, PSSI maupun pe merintah. Penilaian demikian tidak berlebihan mengingat kerusuhan suporter hampir tiap tahun terjadi, bahkan sampai memakan korban jiwa. Selama 2019 ini saja, misalnya, tercatat ada dua kerusuhan yang ter bilang besar, yakni saat laga PSS Sleman vs Armea FC di Sleman (15/5) yang mengakibatkan sejumlah orang terluka dan kerusuhan seusai pertandingan Persik Kediri vs PSIM Yogyakarta di Kediri yang menyebabkan puluhan orang terluka.