Berkenaan dengan tema “Kepioniran Dalam Masyarakat” yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul “Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat” di www.darwinsaleh.com., saya berpandangan bahwa: Sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan hidup masyarakat yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Meskipun jauh dan terpencil, mereka tetap bagian dari Indonesia.
Di era globalisasi ini, banyak hal yang tadinya tak mungkin menjadi mungkin. Banyak hal yang tadinya biasa menjadi luar biasa. Begitu juga negeri kita Indonesia. Para ahli telah mengakui, bagaimana kayanya negeri ibu pertiwi. Para pengamat juga telah sepakat, tentang besarnya potensi yang kita miliki. Sayangnya, pemerintah terkesan menutup mata dengan semua ini. Pemerintah hanya sibuk mencari harta untuk memperkaya diri sendiri.
“Macan Asia yang tertidur” inilah julukan Indonesia sekarang. Pada masa kediktatoran Soeharto, Indonesia pernah menyandang julukan “Macan Asia”. Julukan ini, membuat Indonesia menjadi bangsa yang paling disegani di seluruh seantero negeri. Namun julukan ini mulai luntur tergerus oleh zaman dan peliknya permasalah di Negara ini. Mulai dari krisis pangan sampai kasus korupsi yang tak kunjung berhenti.
Di Arab Saudi, seorang wakil rakyat yang terbukti merampas uang rakyat akan dihukum potong tangan. Di China malah lebih tragis lagi, wakil rakyat yang terbukti merampas uang rakyat dapat dikenakan hukuman gantung. Sementara di Indonesia, bukan manusianya yang dihukum gantung. Namun kasusnya dibiarkan menggantung meski Sang wakil rakyat tersebut sudah menyandang status tersangka. Bahkan tidak jarang para tersangaka koruptor tersebut dipotong masa tahanannya.
Masih ingatkah kita pada sila ke-5 pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?” Sila ini memberikan jaminan pada semua warga Indonesia untuk mendapatkan keadilan sosial. Ya benar.., semua warga Indonesia tanpa terkecuali. Tapi lagi-lagi, asas hidup di Negeri ini cuma menjadi slogan, bualan media, dan iklan politik saja. Pada kenyataanya, selama ini terjadi kesenjangan keadilan distribusi pembangunan antara kawasan Barat dan Timur di Indonesia. Selama orde baru berkuasa dan hingga kini, pembangunan masih saja terpusat di Jawa dan Sumatera. Pertanyaanya, Apakah Indonesia hanya Jawa dan Sumatera saja? Bagaimana dengan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain yang tersebar dari Sabang-Merauke?
Bagaimana dengan asas keadilan sosial yang sering dijanjikan oleh para penguasa negeri ini? Pernahkah kita memikirkan nasib saudara-saudara kita yang tinggal di daerah-daerah pedalaman? Lihatlah Papua. Papua memiliki semuanya : emas, perak, tembaga, aluminium, migas, uranium, hutan, laut yang kaya ikan, bahkan batubara. Semua yang mereka punya berbanding terbalik dengan apa yang mereka terima.
Selama ini sorotan masyarakat Indonesia terhadap Papua, tak lebih dari infomasi yang selalu ditayangkan di media cetak maupun elektronik. Suasana kehidupan dan perkampungan suku-suku pedalaman di pegunungan terpencil yang dililit kemiskinan, kebodohan, fasilitas kesehatan yang minim, alam yang keras, adat istiadat yang mengekang, dan masih banyak lagi. Itulah salah satu alasan mengapa rakyat Papua ingin berpisah dari NKRI. Selama ini mereka tidak memperoleh apa yang seharusnya menjadi hak mereka.
Saudara-saudara kita di Papua terus saja dibodohkan dengan ketidaklayakan mutu pendidikan yang mereka terima. Orang papua yang merantau adalah salah satu contoh orang Papua yang sadar akan kebodohan yang mereka terima. Jika saja pendidikan yang mereka terima memadai, pastilah Papua sudah melepaskan diri dari NKRI sejak lama. Mereka sadar bahwa potensi yang terkandung didalam bumi Papua sangatlah besar. Seandainya pulau yang mempunyai secuil keindahan surga ini berhasil memerdekakan diri, pastilah Indonesia bakal kocar-kacir mencari pemasukan devisa Negara.
Saudara-saudara kita di Papua bukanlah mutiara yang hanya berkilau seperti kilauan bintang menghiasi malam. Mereka adalah “Mutiara Hitam” yang justru berkilau di terik matahari. Sebab mereka adalah Mutiara Hitam yang berani menantang matahari. Ya benar.., mereka punya cara sendiri untuk berjuang dan menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa.
Papua memiliki pendapatan daerah yang cukup besar dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Selain itu terdapat kesepakatan dengan pihak-pihak asing dengan kompensasi yang bernilai ratusan bahkan jutaan dolar. Oleh karena itu, Indonesia bersikukuh mempertahankan bumi Papua. Tak seperti Timor Timur. Mengapa dahulu Indonesia seperti tidak terlalu keras mempertahankan Timor Timur? Karena Timor Timur tak berlimpahkan sumber daya alam seperti Papua. Selain itu, melepaskan Timor Timur dianggap dapat mengurangi beban APBN Negara.
Terlepas dari itu semua. Kita tidak bisa terus menerus mengkambing hitamkan korupsi atau sistem pemerintahan di Indonesia tanpa berbuat apa-apa. Semua pernyataan dan kenyataan itu dapat kita ingkari jika kita mau berusaha. Kita bisa memulai usaha kita dari hal yang kecil. Pemerintah harus merangkul para generasi muda Indonesia dengan cara mengutamakan pendidikan. Pemerintah terus saja mencetuskan gumaman mereka tentang pendidikan gratis. Tapi apa nyatanya? Disana-sini pendidikan belum juga gratis. Banyak rakyat hidup dibawah garis kemiskinan. Mereka menganggap pendidikan adalah hal yang mewah untuk mereka dapatkan.
Bukan hanya pendidikan yang harus pemerintah perbaiki. Penyebab utama dari semua masalah ini adalah moralitas. Batasan-batasan dan norma di Indonesia sudah lama terjajah dengan hilangnya kebudayaan luhur bangsa. Kita sebagai orang Timur, yang katanya memiliki segudang perilaku sopan, kepedulian terhadap sesama, dan kejujuran sekarang hanyalah isapan jempol belaka.
Gambar diatas menunjukkan mulai lunturnya moralitas generasi muda penerus bangsa. Selain itu, hal ini menjadi bukti bahwa selama ini sistem pendidikan yang ada di Indonesia telah gagal mencetak generasi muda yang bermoral dan beretika. Pemerintah dinilai lamban dalam mengatasi masalah-masalah moralitas semacam ini.
Mungkin, sebagian orang beranggapan bahwa Sumber Daya Manusia yang Indonesia miliki tidak mampu menelurkan prestasi. Sebenarnya, penyebab Indonesia tidak bisa bangkit adalah hilangnya ruh dan semangat “Macan Asia” yang dahulu kita miliki. Indonesia terlalu banyak mengandalkan kekuatan pihak asing. Indonesia tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Inilah yang membuat Indonesia tidak bisa mandiri dan bangkit dari keterpurukannya.
Gambar ini diambil saat Tim robot Indonesia berhasil menyabet gelar juara I dan juara II sekaligus pada Kontes Robot Internasional Trinity College Robot Contest 2013 di Hartford, Amerika Serikat. Ini adalah salah satu bentuk prestasi membanggakan yang berhasil di ukir oleh putra-putra bangsa. Para generasi muda Indonesia telah mampu menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bisa.
Seringkali kita menghadapi masalah dikarenakan salah dalam menentukan tujuan dan yang lainnya salah menggunakan cara untuk mencapai tujuan. Sadarlah kawan, Indonesia memiliki potensi untuk bangkit kembali menjadi bangsa yang besar. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk mengembalikan kehormatan kita dimasa lalu. Kita masih bisa bangkit dan menjelma kembali menjadi “Macan Asia” yang disegani oleh bangsa-bangsa di dunia.
Bangsa Indonesia terlalu besar untuk memiliki cita-cita yang kecil. Bangsa Indonesia harus kaya, seperti kayanya kebudayaan yang kita miliki dan seperti kayanya sumber daya alam yang terkandung di bumi ibu pertiwi. Saat ini Indonesia memiliki segalanya. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang handal. Coba kita kembali “Menelusuri Jejak dan Kekayaan Nusantara” yang kita miliki. Dengan semua potensi yang kita miliki ini, seharusnya kita mampu menggengam dunia dengan tangan kita.
Kita adalah generasi muda penerus bangsa. Kitalah generasi yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan negeri ini. Saat ini kita memikul tanggung jawab yang besar untuk membawa Indonesia, kembali kepuncak kejayaannya. Wahai generasi muda penerus bangsa, Ayo Bangkit…! Negeri ini menunggu karya besar mu…! Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya. Mari bersama-sama, kita bangunkan kembali “Macan Asia” dari tidur panjangnya di bumi INDONESIA…!
Ditulis Oleh: Rizal Romadhoni Hidayatullah
Link Penulis: http://portalmahasiswa.com/macan-asia-yang-tertidur/
“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”