Ketika dia sudah memberanikan diri untuk menjalin hubungan yang serius, dia akan membawa orangtuanya menghadap kepada orangtua kekasihnya untuk melamar. Mental dan keberanian ini dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya karena memang dari dalam dirinya yang sudah siap untuk menikah, kemapanan, rasa sayang, dan tak jarang disebabkan karena desakan pihak wanita yang tidak ingin berlarut-larut dalam hubungan yang main-main.
Setelah melamar orangtua membicarakan mengenai acara pernikahan dan perkawinan, di sinilah “jujuran” menghantui pikiran laki-laki. Apakah laki-laki tersrbut dapat memenuhi jujuran yang diminta?
Selain kemampuan, kesungguhan tekadnya menjadi sangat penting. Akankah jujuran dirasakan sebagai beban halangan menikahi sang kekasih? Ataukah disikapi secara positif, menjadi tantangan yang memotivasinya berusaha dan bekerja lebih keras sehingga mampu membuktikan keseriusan cintanya.
Jujuran menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat. Namun budaya ini seakan tak lekang oleh waktu. Menimbang baik buruknya, keberadaan jujuran semestinya dapat memudahkan satu sama lain di antara kedua pihak yang ingin menikah.
Untuk laki-laki jujuran seharusnya bukan menjadi sesuatu yang ditakuti. Dengan jujuran laki-laki terpacu bekerja lebih keras dan ikhlas, tanpa istilah jujuran pun laki-laki memang harus mempersiapkan pernikahan termasuk dalam hal sumber dana.
Bagi wanita pun demikian, dengan pemahaman agama dan komunikasi yang baik kepada orangtua wanita dapat menjadikan rencana menikah ini lebih mudah, bukan malah menjadi ajang unjuk gengsi yang malah membebani pihak lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Daud, No. 2117; Al-Hakim, 2:181-182). (*)