SUKASARI, AYOBANDUNG.COM--Selain meninggalkan karya dan buah pikirnya berupa protitipe pesawat di PT. Dirgantara Indonesia, Bandung, sosok Baharudin Jusuf Habibie--presiden ketiga Republik Indonesia--juga memiliki peninggalan di bidang kemanusiaan. Saat ini, peninggalan tersebut masih terus hidup tak jauh dari rumah tinggalnya di Jalan Sersan Bajuri Bandung. Sang istri, Hasri Ainun Besari menjadi orang yang turut menginisiasinya.
Sekitar 500 meter dari rumah tinggal Habibie-Ainun, terdapat sebuah bangunan semi-permanen serupa warung makan bercat hijau dengan lukisan mural bertuliskan "Dapur Jompo". Dapur tersebut sehari-harinya mulai 'ngebul' mulai pukul 8 pagi, dan tutup pada sekitar pukul 11 menjelang siang.
Bukan sembarang dapur, tempat tersebut merupakan dapur umum yang bertugas melayani kebutuhan makan sekitar 20-an warga lanjut usia yang tersebar di 8 RT kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari Kota Bandung. Inilah peninggalan pasangan yang banyak dikenal ramah dan murah hati oleh warga sekitar rumahnya tersebut; aneka masakan cuma-cuma untuk para manula sejak 37 tahun yang lalu.
"Bahan-bahan makanannya dibawa langsung dari rumah Pak Habibie. Selama ini Pak Habibie langsung yang memberi dana," ungkap salah seorang juru masak, Teti (52), ketika ditemui di sela kegiatannya membagikan makanan di Dapur Jompo, Jumat (13/9/2019).
Dia menuturkan, dapur tersebut telah beroperasi sejak 1982. Ainun adalah orang pertama yang menginisiasinya, dan usulan tersebut didukung penuh oleh Habibie. Tujuannya adalah agar para lansia di daerah tempat tinggalnya dapat terjaga kesehatannya karena asupan makanan yang terjamin.
AYO BACA : Habibie dan Cita-cita Mobil Nasional "Maleo"
"Selain untuk manula juga ada bantuan untuk balita. Bentuknya uang tunai, untuk dibelikan keperluan makanan balita," ungkap Teti.
Saat ini, terdapat dua orang juru masak yang bertugas mengolah bahan makanan yang diterima dari kepala pengurus rumah tangga di rumah tinggal Habibie, yakni Teti dan Cucun (47). Keduanya merupakan juru masak generasi ketiga, yang telah bekerja di dapur tersebut sejak 1990.
Setiap pukul 8 hingga 11, para warga lanjut usia ataupun yang mewakilinya berdatangan silih berganti. Teti dan Cucun dengan terampil sudah memasak seluruh bahan makanan yang ada dan telah memilahnya sesuai porsi masing-masing. Setiap warga lanjut usia yang telah terdaftar tersebut dapat membawa pulang dua porsi makanan.
Miah (83) adalah salah satu warga lanjut usia yang kerap menyambangi Dapur Jompo sejak awal tempat tersebut berdiri. Dirinya juga sempat bertemu Ainun yang sesekali mengunjungi dapur tersebut.
"Pernah ketemu Bu Ainun, waktu anaknya masih pada kecil. Ramah sekali, murah senyum dan tara ngahinakeun (tidak pernah memandang rendah orang). Cuma sekali itu saya ketemu," ungkapnya. Miah pagi itu hendak mengambil jatah makanannya yang telah dibungkusi oleh para juru masak.
AYO BACA : Habibie Berpulang, Santri Kehilangan
Saat Ayobandung.com menyambangi dapur tersebut, suasananya cukup ramai dan hangat oleh para warga yang berkumpul. Sebagian warga lanjut usia, sebagiannya lagi keluarga yang mewakili. Satu sama lain telah akrab berbincang, mengingat setiap warga yang memiliki jatah telah didata oleh pengurus dapur.
Selain berperan sebagai area memasak dan membagikan makanan, beberapa tahun lalu area depan Dapur Jompo juga sempat dijadikan tempat bercocok-tanam sayur-sayuran oleh lurah setempat. Sayur yang telah tumbuh kemudian digunakan untuk memasak.
Dalam satu hari , rata-rata para juru masak mengolah sekitar 8 kilogram beras beserta lauk-pauknya. Menu-nya berganti-ganti sesuai pemberian pihak rumah tangga Habibie-Ainun.
"Karena jumlah lansia nya juga berkurang jadi sekarang masak nya enggak sebanyak dulu," ungkap Cucun.
Tepat pukul 11, makanan sudah hampir habis dibagikan. Teti kemudian mengambil sisanya yang akan diberikan kepada salah seorang manula lainnya yang tak sempat hadir. Selepas membereskan area memasak, Dapur Jompo dikunci.
Tak berselang lama, seorang pria lanjut usia mengenakan jaket dan membawa tas tangan nampak berjalan perlahan menghampiri dapur tersebut. Mendapati dapur sudah tutup, dirinya bertanya pada Ayobandung.com dan sejumlah wartawan lain yang masih duduk-duduk di depan area dapur.
"Tapi masih terus ada kan makanan nya? Alhamdulillah, saya sempat sedih waktu tahu beliau meninggal. Takutnya bantuan makanannya juga diberhentikan. Selama ini saya terbantu," ungkapnya seraya berpamitan pulang.
AYO BACA : Trump Sampaikan Bela Sungkawa Atas Wafatnya Habibie