TELENEWS.ID – Inovasi baru di dunia kesehatan lahir dari empat mahasiswa universitas swasta di Jawa Tengah yang berhasil menemukan alat untuk mendeteksi penyakit Diabetes Melitus yang hanya dengan mengandalkan sensor cahaya.
Hal ini dilakukan oleh empat mahasiswa jurusan S1 Teknik Biomedis dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Mereka berhasil mengembangkan alat yang diberi nama Gluconov.
Alat berbentuk kotak kecil ini mampu mendeteksi kadar gula yang terdapat pada penderita diabetes hanya dengan memasukkan jari pada lubang yang diberikan sensor cahaya.
Adanya Gluconov membuat pasien diabetes tidak perlu lagi menusukkan jarum ke jari untuk mengecek kadar gula darah secara rutin. Akurasi dari alat tersebut sudah mencapai 95 persen dan diusahakan mencapai 100 persen.
Diana Almas Akrab Rajah, salah satu mahasiswa pencipta Gluconov mengatakan awal munculnya ide ini memang dari dirinya.
Ia merasa kasihan pada ayahnya yang menderita penyakit diabetes melitus akibat genetika dan pola makan yang salah. Ayahnya harus menahan sakit tertusuk jarum pada pagi dan sore hari, hanya untuk mengecek kadar gula darah.
“Melihat ayah yang kesakitan setiap hari, ini yang membuat saya tercetus menciptakan Gluconov. Di luar dugaan, alat ini bukan hanya berguna untuk ayah saya tapi semua masyarakat yang mengalami penyakit serupa dengan ayah,” ujarnya penuh senyum.
Selama uji coba, Diana menggunakan Gluconov pada ayahnya saja hingga akhirnya alat tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam kompetisi berskala internasional, Asean Innovation Science and Entrepreneur Fair 2021 pada 18 Februari 2021 lalu.
Diana juga menjelaskan kelebihan dari Gluconov. Alat ini sudah bisa terkoneksi dengan ponsel pintar dan aplikasinya sudah terdapat aplikasi di Play Store, sehingga alat ini sebenarnya bisa dipasarkan secara global di seluruh dunia.
Cara penggunaan Glunocov juga cukup mudah, hanya perlu meletakkan jari pasien pada slot yang tersedia. Nantinya Light Dependent Resistor (LDR) akan mendeteksi darah melalui pancaran lima jenis cahaya yang tampak secara sekaligus.
Hasil deteksi Gluconov juga sudah dikonversikan ke digital conversion (ADC). Nantinya akan muncul indikasi high dan low, inilah yang akan mendeteksi kadar gula darah tinggi atau darah secara cepat.
Diana berharap dengan adanya Gluconov yang bisa mendeteksi gula darah dengan cara non-invasif dapat memberikan kenyamanan bagi penderita diabetes lainnya.
Selain itu, adanya Gluconov juga akan mengurangi penggunaan limbah medis, karena alat ini tidak mengeluarkan sisa sampah sama sekali dan bisa digunakan berulang kali tanpa mengurangi tingkat akurasi tinggi.
Hingga kini Gluconov sedang dalam tahapan pengurusan hak paten. Sayangnya, penemuan inovatif ini belum mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Karena, Gluconov adalah penemuan yang masih perlu dikaji ulang untuk digunakan dunia medis. J
Hingga kini untuk pengecekan kadar gula darah masih dengan metode penusukan jarum yang ditempatkan di satu alat. Cara ini terbilang menyakitkan, apalagi untuk penderita diabetes mellitus atau gula basah, yang mana luka yang timbul akan sulit sembuh. (Chairunisa)