Anggaran pertahanan 2018 akan sebesar 1,11 triliun yuan (Rp2.410 triliun), menurut laporan yang dirilis saat pembukaan sidang parlemen tahunan, kemarin. Jumlah belanja pertahanan itu diamati seluruh dunia untuk melihat rencana strategis China saat mengembangkan kemampuan militer baru, termasuk jet tempur siluman, pesawat induk dan rudal anti-satelit.
“China akan meningkatkan semua aspek pelatihan militer dan persiapan perang dan memperkuat kedaulatan nasional, keamanan dan pembangunan kepentingan,” papar Perdana Menteri (PM) China Li Keqiang saat sesi pembukaan sidang tahunan tersebut, dikutip kantor berita Reuters.
Dia menyatakan, “Menghadapi berbagai perubahan besar dalam lingkungan keamanan nasional, kepemimpinan mutlak militer oleh Partai Komunis harus diarahkan dan bersatu antara pemerintah dan militer serta rakyat dan militer harus selalu sekuat batu.”
Baca Juga:
Li juga menjelaskan, China telah menyelesaikan upaya untuk memangkas jumlah pasukan bersenjata hingga 300.000. Langkah itu diumumkan Presiden China Xi Jinping pada 2015 untuk memperbaiki efisiensi yang mengakibatkan masalah dalam penetapan pangkat.
Belanja pertahanan 2018 itu meningkat saat pertumbuhan ekonomi China naik 6,9% tahun lalu, percepatan pertama dalam pertumbuhan tahunan sejak 2010. “Meski demikian, China mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2018 sekitar 6,5%, sama dengan 2017, walau melebihi target tahun itu,” ujar Li.
Tahun lalu, belanja pertahanan ditetapkan naik hanya 7%, menjadi 1,044 triliun yuan atau sekitar seperempat dari rencana belanja pertahanan Amerika Serikat (AS) pada tahun itu. Pada 2016, belanja pertahanan China naik 7,6%.
“Pola dan skala peningkatan ini sungguh dramatis. Ini alarm keras bagi Australia dan banyak negara lain di kawasan,” kata Sam Roggeveen, pengamat militer di Strategic and Defence Studies Centre, Australian National University, Canberra, Australia.