"Jadi sangat mencurigakan. Saya akan lapor ke hakim pengawas. Saya nggak tahu nih ada apa. Kalau misalkan dia nggak siap, ya sejak awal diumumkan ditunda dari pagi," ungkapnya.
Sementara itu, Nanang Herjunanto tak berkomentar banyak selain bicara soal kewenangan majelis hakim.
"Bahwasannya pengacaranya tidak ada, kemudian majelis hakim melanjutkan sidang dengan acara penundaan pembacaan putusan, ya itu kewenangan majelis hakim," kata Nanang ketika dihubungi Kompas.com.
SPM ditangkap polisi pada 4 Juni 2020 setelah korban dan pengurus sebuah gereja katolik di Depok menggelar investigasi internal atas keterlibatan SPM dalam kejahatan seksual terhadap anak-anak yang ia seharusnya bimbing dalam kegiatan di gereja.
Tigor menyebutkan, ada lebih dari 20 anak korban kekerasan seksual oleh SPM di gereja dengan rentang waktu kejadian yang berbeda-beda sebab SPM sudah menangani kegiatan anak-anak itu sejak awal tahun 2000.
Dari sedikitnya 20 kasus itu, mayoritas sulit dilaporkan ke polisi karena susahnya mencari alat bukti dan beberapa korban maupun orangtuanya belum siap secara psikis.
SPM dituntut penjara 11 tahun oleh jaksa penuntut umum, ditambah denda Rp 200 juta subsider kurungan 3 bulan, serta ganti rugi sekitar Rp 18 juta untuk 2 korban subsider 3 bulan kurungan.
Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone. Syarat & Ketentuan