Liputan6.com, Jakarta - Muhammad Ja'far Hasibuan putra Indonesia asal Sumatera Utara berhasil sabet medali emas dalam ajang China Sanghai International Exhibition of Inventions (CSITF) di Sanghai, China yang digelar pada 19-21 April 2019.
Ja'far mengembangkan produk yang terbuat dari udang khas Pesisir Selatan Malaka yang di sana dikenal sebagai Udang Halus Kecil Segar yang berhabitat di bawah hutan bakau. Menurut Ja'far, di wilayahnya banyak terdapat udang jenis itu.
Inovasinya ini diberi nama sebagai Biofar Shrimp Skin Care. Menurut Ja'far inovasinya itu bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit serta luka di kulit.
"Uji coba pada manusia yang terkena luka benda tajam, secara positif dapat menyembuhkan rasa nyeri dalam dua jam," kata Ja'far kepada Liputan6.com, Selasa (7/5/2019) malam.
Bukan tanpa alasan Ja'far menamai inovasinya dengan Biofar Shirimp Skin Care. Menurutnya, nama itu diambil dari penggalan nama tengahnya, yakni Ja'far. "Bio kan alami, far itu nama saya, kan Ja'far," ujar dia.
Tidak Berbau
Karena terbuat dari bahan dasar udang, inovasi temuan Ja'far ini kerap disebut sebagi terasi. Namun begitu, Ja'far menolak inovasinya itu disebut sebagai terasi. Berbeda dengan terasi, yang biasa digunakan sebagai bumbu masakan, Ja'far lebih suka inovasinya disebut dengan Biofar.
"Jangan disebut terasi, nanti publik salah persepsi," kata Ja'far.
Menurutnya, inovasinya itu merupakan campuran antara udang lokal di daerahnya (Udang Halus Segar) dengan garam. Ja'far sendiri tidak menceritakan kandungan zat apa di dalam udang itu yang berperan dalam menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Dia hanya menyampaikan bahwa inovasinya itu terinsipirasi dari temuan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Iya saya melihat penelitian ITB tentang kulit udang," kata Ja'far.
Inovasi Ja'far ini berbentuk serbuk dan pasta cair. Meskipun begitu, Ja'far mengaku bahwa olahannya itu tidak berbau. "Tidak berbau seperti terasi," kata Ja'far.
Ja'far sendiri merahasiakan cara pengolahannya. Menurutnya produknya itu difermentasikan dengan teknik tertentu yang belum bisa dipublikasikan.
"Kalau pengolahannya kami rahasiakan," tuturnya.
Harapan Kepada Pemerintah
Menurut Ja'far penggunaan Biofar itu bisa lewat luar atau pun dalam. Jika lewat luar bisa dioleskan ke sekitar luka, sedangkan jika lewat dalam dengan cara dicampur air terus diminum.
"Kalau dicampur air, ambil sesendok teh serbuk Biofar terus tuangkan ke air hangat sebanyak 200 milimeter," kata Ja'far
Dia berharap inovasinya itu dapat didukung oleh pemerintah. Dia juga berencana untuk mempatenkan inovasinya itu supaya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
"Ada dukungan dari Pak Presiden yang berencana mau mengundang saya ke Istana. Sudah dikomunikasikan staf kepresidenan. Ini (Biofar) bisa saya kembangkan," kata Ja'far.
Ia juga berharap jika inovasinya ini bisa berkembang, maka bisa memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat dan bisa dipasarkan ke seluruh dunia.
"Kalau ini berkembang nanti, ini kan bisa dipasarkan ke seluruh belahan dunia. Otomatis kan ada manfaatnya kan," ujarnya.
Latar Belakang Ja'far
Ja'far mengaku bahwa dirinya bukanlah lulusan dari keilmuan eksak, seperti kimia atau biologi. Namun ia mengaku bahwa ia sejak berada di bangku SMP dirinya sudah mandiri.
"Saya hanya lulusan pesantren, kemudian melanjutkan ke Universitas Islam Negeri Sumatera Utara jurusan Bimbingan Konseling (BK)," kata Ja'far.
Ia mengaku sejak kelas 1 SMP ayahnya meninggal dan menurutnya, ilmunya itu merupakan ilmu pemberian dari Allah.
"Kalau dalam Islam itu ilmu laduni kan ilmu yang tak disangka-sangka gitu," terang Ja'far.
Gaet Medlai Emas
Sebelumnya diberitakan, pemuda asal Sumatera Utara Muhammad Ja'far Hasibuan berhasil membawa pulang medali emas di ajang China Shanghai International Exhibition of Inventions (CSITF) di Shanghai China pada 19-21 April lalu.
Ja'far yang tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Rabu 24 April 2019 sore langsung disambut oleh Asisten Deputi Kemitraan dan Penghargaan Pemuda Wisler Manalu. Wisler menyampaikan terima kasih kepada Ja'far yang sudah bisa mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.
"Apa yang dilakukan Ja'far sangatlah luar biasa, dia berhasil membawa harum nama Indonesia di ajang kompetisi penemu inovasi dunia di Shanghai China. Semoga apa yang dilakukan oleh Ja'far ini bisa memberikan inspirasi kepada anak-anak muda Indonesia lainnya untuk terus melakukan inovasi yang bisa membuahkan prestasi untuk Indonesia," katanya.
CSITF merupakan bagian dari kegiatan ke 7 China Shanghai International Technology Fair yang didukung oleh United National Industrial Development Organization, United Nations Development Program dan Work Invention Intellectual Property Associations (WIIPA).
Ja'far sendiri mengucapkan terima kasih kepada Kemenpora yang selama ini sudah mendukung dirinya untuk mengembangkan hasil inovasinya tersebut. Selama di China, pemuda yang juga pernah juara umum Santripreneur Award 2018 Kategori Boga Olahan Makanan Tingkat Nasional tersebut menampilkan salah satu inovasinya yang diambil dengan judul "Use of Terasi as an Alternative Treaatmen for Skin Diseases for Humans and Animal"
"Ketika saya menyampaikan presentasi, banyak masyarakat China yang datang menghampiri saya karena tertarik dengan penemuan saya ini berupa Biofar Shrimp Skin Care. Penemuan saya ini di bidang kesehatan yang mengubah dari bahan terasi bisa menjadi obat kulit. Dengan pertimbangan juri internasional, saya akhirnya diputuskan menang dan mendapatkan medali emas di ajang ini," kata Hasibuan
"Saya berharap apa yang saya lakukan ini bisa menjadi inspirasi bagi pemuda-pemuda Indonesia lainya. Sebagai pemuda jangan pernah gampang menyerah, kalian harus terus berusaha dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpi kalian. Saya juga senang dengan dukungan Kemenpora kepada saya hingga bisa menggapai prestasi ini," tambahnya.
Dalam waktu dekat ini, Ja'far berencana akan secepatnya mengurus hak paten penemuanya tersebut. "Secepatnya saya akan membuat hak paten barang ini, dan terus akan dijadikan produk yang nantinya bisa dipasarkan dan bekerja sama dengan China," harap Ja'far.