Toni Kroos gerah dengan wacana pembentukan Liga Super Eropa. Menurutnya, pesepakbola bukanlah badutnya FIFA dan UEFA.
Toni Kroos menuduh FIFA dan UEFA memperlakukan para pesepakbola layaknya "badut" dengan menciptakan turnamen baru di level klub dan internasional.
Kroos akan mewakili Jerman di UEFA Nations League, kompetisi yang dibentuk dua tahun lalu dengan tujuan untuk menggantikan agenda laga persahabatan.
FIFA Piala Dunia Antarklub juga baru-baru ini diperluas dan ada wacana untuk membentuk kompetisi baru bernama Liga Super Eropa [European Super League] untuk tahun-tahun mendatang.
Namun, sang gelandang Real Madrid berada di baris terdepan untuk melawan ide ini. Dia menegaskan, jadwal yang ada sekarang saja sudah cukup padat, bagaimana mungkin akan ditambah dengan kompetisi baru.
"Dengan penemuan hal-hal baru ini, kami tampak seolah menjadi badutnya FIFA dan UEFA," tegas Kroos.
"Kompetisi-kompetisi semacam ini diciptakan untuk menyedot segalanya dari setiap pemain secara fisik dan menyedot uang sebanyak mungkin," urai sang gelandang.
"Ketika hal-hal tertentu berjalan dengan baik [kompetisi yang sudah ada], sebaiknya biarkan saja," tandasnya.
Kroos telah menikmati karier sukses di Madrid. Baru-baru ini diamenyatakan siap mengakhiri petualangan profesionalnya sebagai pesepakbola di Santiago Bernabeu, meski secara reguler dia dikaitkan dengan klub seperti Manchester United.
"Saya selalu senang kembali ke Jerman, sebab itu adalah negara saya dan itu adalah bahasa saya, namun saya benar-benar menikmati kehidupan di Madrid dan bermain untuk Real Madrid," lanjutnya.
"Saya memiliki sejumlah penawaran, tapi saya tidak pernah berbicara dengan klub lain karena rencana saya adalah mengakhiri karier saya di Real Madrid," pungkasnya.
Kroos saat ini berada di skuad Jerman untuk tiga laga internasional pekan ini. Mereka akan menjamu Republik Ceko dalam laga uji coba sebelum memainkan dua laga Nations League kontra Ukraina dan Spanyol.