Pakaian Adat Jawa Barat. Suku Sunda merupakan masyarakat yang mendominasi bagian barat pulau Jawa. Provinsi Jawa Barat termasuk wilayah utamanya, satu di antara wilayah Tatar Pasundan yang khas dalam berbahasa dan berbudaya.
Parahyangan atau Priangan bisa dikatakan sebagai tempat dimana produk kebudayaan Sunda banyak terlahir. Di wilayah yang luasnya mencapai seperenam pulau Jawa itulah, masyarakat Sunda membuktikan kreatifitasnya. Berolah rasa hingga berbagai kesenian pun tercipta. Mentradisi dan senantiasa dikagumi.
Angklung dan Degung yang telah mendunia sedikit banyak telah dituliskan sebelumnya. Dalam artikel ini mari kita lebih dekat dengan pakaian adat Jawa Barat, satu keunikan lain dari budaya suku Sunda. Tidak mencakup semuanya, hanya sebagian sebagai gambaran umum yang mewakili tradisi berbusana suku Sunda.
4 Hal Terkait Pakaian Adat Jawa Barat
Iket atau Penutup Kepala Khas Suku Sunda
Iket atau disebut juga totopong merupakan istilah yang mewakili tutup atau pelindung kepala suku Sunda. Sehubungan dengan hal ini, dikenal juga istilah dudukuy yakni penutup kepala yang terbuat dari bambu, kayu dan daun. Khusus untuk dudukuy fungsinya adalah pelindung kepala dari panas dan hujan.
Iket secara umum difungsikan sebagai kelengkapan pakaian adat Jawa Barat khas Sunda. Di masa lalu ikat kepala ini turut mencerminkan strata masyarakatnya. Dalam tradisi berbusana, iket juga dianggap memenuhi kebutuhan budaya yang berkaitan dengan nilai budaya, adat istiadat dan pandangan hidup.
Nilai Filosofis Iket Sunda
Dalam bahasa Sunda halus, iket disebut juga udeng. Dikenakan sebagai bagian dari anggoan pamenget (busana pria) yang dianggap lebih berharga dari tutup kepala jenis yang lain. Kejelian, ketrampilan, ketekunan, kesabaran dan rasa estetika tinggi diperlukan karena dibuat langsung ketika dangdos (dandan).
Proses pembuatan tersebut turut mencerminkan status simbol pemakainya. Di samping itu, iket juga mengusung nilai pengetahuan dan kepercayaan yang erat kaitannya dengan unsur tauhid dan budaya. Iket berarti ikatan yang terbentuk, sementara disebut juga totopong yang berasal dari kata tepung (bertemu).
Istilah tepung yang dimaksud telah mengalami pengulangan dan perubahan kata dasar te menjadi toto. Istilah ini dimaknai bertemunya ujung kain yang melambangkan silaturahmi. Adapun yang diikat adalah kepala, merujuk pada otak tempat berfikir yang merupakan ciri khas manusia, makhluk mulia ciptaan Tuhan.
Kain iket berbentuk bujur sangkar empat sudut mewakili kareteg haté (niat, ucapan, sikap, raga). Selanjutnya dilipat membentuk segitiga untuk mencerminkan asas tritunggal kesetaraan hidup kemasyarakatan (tritangtu) mencakup resi (pemimpin agama), rama (pemimpin rakyat) dan perebu (pemimpin wilayah).
Asas tersebut diharapkan bisa dijalankan dalam keharmonisan tekad, ucapan, sikap yang terangkum dalam raga. Selain itu, iket juga bermakna ngawengku (mengikat) segala urusan yang ada hubungannya dengan keduniawian. Hal ini seperti yang disampaikan bahwa iket digunakan oleh para Saéhu.
Saéhu dimaknai sebagai seorang pemimpin rakyat yang saé jadi hulu. Saé hubungannana, tiasa ngiket kana sagala persoalan kamasyarakatan jeung kahirupan (bagus untuk dijadikan ketua atau pemimpin, yang bagus hubungan sosialnya, dan juga mampu mempersatukan dan menyelesaikan)
Fungsi dari Iket Sunda
Beragamnya bentuk dan jenis kain dari iket Sunda mewakili simbol identitas, sehingga sangat penting keberadaannya. Juga, sebagai penghormatan terhadap kedudukan seseorang pria seperti ketika seseorang mengenakannya secara khusus apabila menghadap priyayi, pejabat pemerintahan setempat atau ulama.
Di masa lalu, fungsi dari iket, termasuk sebagai pelindung kepala, pelindung diri, alat membawa barang, menyimpan barang. Serta, sebagai sajadah pada saat sholat lima waktu. Saat ini fungsinya lebih kepada penanda etnis Sunda, baik pelengkap pakaian adat Jawa Barat atau busana ketika berkesenian.
Pakaian Pangsi Khas Masyarakat Sunda
Pangsi merupakan salah satu pakaian adat yang dikenakan oleh sejumlah suku di Indonesia dengan keunikannya masing-masing. Selain suku Betawi dan suku Melayu secara umum, suku Sunda pun memiliki busana pangsi yang khas. Pangsi Sunda mewakili pakaian laki-laki yang lebih mencitrakan golongan rakyat biasa.
Pada umumnya, pangsi merupakan setelan pakaian berupa baju kemeja dan celana yang semuanya serba longgar dan memiliki warna polos. Celana pangsi biasanya memiliki panjang tidak melebihi mata kaki. Pangsi Sunda hadir dengan keunikannya sendiri sehingga turut mewakili pakaian adat Jawa Barat.
Apabila pangsi Betawi biasanya berupa baju tanpa kancing dan hadir dengan berbagai warna, pangsi Sunda memiliki kancing dan hanya berwarna hitam. Dalam kebudayaan Sunda, pangsi merupakan pakaian khas adat warisan nenek moyang yang kental dengan makna filosofis sebagai tuntutan hidup bermasyarakat.
Ada yang mengatakan bahwa, dalam budaya Sunda pangsi merupakan singkatan dari “Pangeusi Numpang ka Sisi“. Kalimat tersebut dimaknai pakaian penutup badan yang dikenakan dengan cara dibelit seperti memakai sarung. Dalam hal ini, pangsi terdiri dari tiga susunan, yakni nangtung, tangtung dan samping.
Pangsi Sunda sebenarnya lebih merujuk pada setelan bawah (celana) yang disebut “pangsi“. Adapun setelan atas memiliki nama lain yakni “salontreng“. Hanya saja karena banyak orang yang menyebut pangsi sebagai perpaduan dari keduanya, maka busana pangsi pun dikira memang kedua-duanya, yakni baju dan celana.
Pakaian Adat Jawa Barat untuk Pengantin
Kerajaan-kerajaan di Tanah Pasundan di masa lalu juga turut memperkaya ragam pakaian adat Jawa Barat. Busana pengantin Sunda khususnya. Pemakaian hias sirih tumbal wajik di kedua alis dan hiasan godek kembang turi adalah ciri umum pengantin Sunda. Untuk pakaian pengantin, berikut ini daftarnya:
Busana Pengantin Sunda Putri
Dalam busana pengantin Sunda Putri, rambut pengantin wanita ditata berbentuk sanggul puspasari simetris, sementara rambut aslinya digulung melingkar. Sanggul tersebut dihias roncean bunga melati yang sebagian menjuntai ke dada. Disematkan pula hiasan berupa kembang goyang (cenduk mentul) dan tiara.
Jas beskap Prangwedana yang dikenakan oleh pengantin pria memiliki warna senada dengan baju pengantin wanita. Kain batik kedua pengantin, motif dan warnanya juga sama. Selain itu, pengantin pria juga mengenakan bendo (penutup kepala semacam blangkon Jawa) dan keris yang diselip di pinggang.
Busana Pengantin Sunda Siger
Sama dengan pengantin Sunda Putri, mempelai wanita Sunda Siger juga mengenakan kebaya kartini dengan bawahan batik sidomikti, lereng eneng atau motif garutan. Sanggulnya juga puspasari, namun busana pengantin Sunda Siger ditambahi dengan mahkota yang disebut dengan Siger.
Busana Pengantin Sukapura
Busana pengantin Sukapura merupakan pakaian tradisional pengantin khas masyarakat di sekitar Tasikmalaya. Warna baju pengantin hadir dengan beberapa pilihan warna, merah marun, biru, hijau, merah dan kuning. Warna-warna tersebut biasanya diusahakan bernuansa warna muda yang ringan.
Pengantin Sukapura mengenakan kain dan kebaya khas Sunda serta tatanan rambut berupa sanggul Priangan. Ciri khas utama yang membedakan busana pengantin ini dengan yang lainnya adalah bentuk godek. Tidak dibentuk melingkar keluar seperti godek pada umumnya tetapi mengarah ke dalam.
Busana Santana Inten Kedaton
Busana Santana Inten Kedaton merupakan gaya busana pengantin yang umumnya dipakai masyarakat Ciamis. Dikatakan bahwa, busana pengantin Santana Inten Kedaton merupakan replika busana bangsawan kerajaan Galuh. Ciri utamanya terletak pada warna bungur (ungu) yang berhias payet manik keemasan.
Pada bagian pundak ditutup dengan hiasan berbentuk teratai yang berwarna keemasan. Sementara pada lengan atas berhias klat bahu dan pinggang berhias pending warna keemasan. Sedangkan untuk hiasan kepalanya berupa Siger Ratu Haur Kuning dan ronce melati yang dibiarkan menjutai sampai pinggang.
Kerajaan Galuh dalam sejarahnya dikenal sangat menolak dominasi kerajaan Jawa. Oleh karena itu, dalam busana pengantin tradisional ini tidaklah digunakan kebaya kartini melainkan menggunakan kebaya khas Sunda. Kebaya ini memiliki potongan coak leher dan tanpa lidah serta selalu memakai kain Sunda.
Pakaian Tradisional Resmi: Mojang Jajaka
Busana Mojang Jajaka bisa dikatakan sebagai busana yang mewakili pakaian adat Jawa Barat yang dikenakan untuk acara resmi. Busana para bangsawan dengan warna atasan dan bawahan yang umumnya sama. Dikenakan juga bendo untuk penutup kepala, selop (alas kaki) dan jam rantai sebagai aksesoris.
Untuk wanita, biasanya mengenakan baju kebaya warna polos yang berhias sulaman dan kain batik untuk bawahan. Dilengkapi juga dengan beubeur, kamisol, karembong atau selendang. Juga, selop dengan warna senada dengan kebayanya. Ada juga hiasan yang terbuat dari emas yang bertahtakan berlian.
Demikian, sedikit penjelasan mengenai pakaian tradisional Jawa Barat. Harap dimaklumi jika mungkin masih ada jenis pakaian atau kelengkapan busana adat Sunda lainnya yang belum disertakan dalam artikel ini. Jika berminat baca juga artikel perihal Pakaian Adat Jawa Timur dan Pakaian Tradisional Bali.