JAKARTA – Liesbeth Hesselink, seorang peneliti Belanda begitu menaruh ketertarikan untuk mencari jejak seorang wanita Kawanua bernama Marie E Thomas. Peneliti itu tercatat pernah datang ke Bukittinggi, Sumatra Barat untuk menggali informasi mengenai sosok wanita yang tercatat sebagai dokter wanita pertama di Indonesia.
Liesbeth, datang ke Bukittinggi pada Oktober 2013. “Saya sangat berharap bisa mendapatkan catatan atau informasi tentang Marie Thomas di Bukittinggi,” ujar dia seperti dikutip dari Harian Haluan, edisi Jumat, 23 Oktober 2013.
Marie E Thomas dilahirkan 17 Februari 1896 di desa Likupang, sebelah utara kota Manado. Dia putri sulung dari pasangan Adriaan Thomas dengan Nicolina Maramis. Dia hanya memiliki seorang adik laki-laki.
Ayah Marie adalah tentara. Oleh sebab itu, semasa kecil keluarga ini harus berpindah-pindah hidupnya. Ia menyelesaikan pendidikannya di Europese Lagere School (ELS). Sekolah ini berisikan anak–anak Eropa dan bumiputera beragama Kristen di Manado. Marie lulus dari ELS pada 1911.
Setahun setelah kelulusan, dia mendengar kabar penting. School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia/Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) yang didirikan di Batavia pada Maret 1902 dan NIAS (de Nederlandsch Indische Artsenschool) atau sekolah kedokteran di Surabaya yang berdiri pada 1912, membuka kesempatan untuk menerima siswa perempuan.
Hanya saja, kaum perempuan masih dipersulit dengan beberapa hal seperti membayar biaya pendaftaran dan menanggung biaya hidup mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan kaum calon siswa laki–laki yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.
Peluang bagi wanita untuk sekolah kedokteran ini dipelopori oleh Aletta Jacobs, dokter wanita pertama di Belanda. Dia melobi pemerintah Batavia kala itu agar membuka Stovia bagi siswa perempuan.
Aletta menemui Gubernur Jenderal Batavia kala itu AWF Idenburg, pada 18 April 1912. Pertemuan diwarnai perdebatan itu dimenangkan Aletta. Karena di Batavia diperlukan dokter wanita pribumi untuk ditempatkan di rumah sakit.
Aletta menjelaskan, sebelum pertemuan itu, para gadis yang mendaftar ke Stovia selalu ditolak. Karena itu Aletta yang sebelumnya sudah menyuarakan pentingnya dokter wanita di Belanda, menggagas dana bantuan untuk biaya pendidikan para gadis itu untuk menjadi dokter di Batavia. Bantuan dana itu dikumpulkan dalam wadah the Vereeniging tot Vorming van een Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen atau perkumpulan donor untuk siswa perempuan di sekolah kedokteran.
Mengutip buku Healers on the Colonial Market, Marie tercatat sebagai siswa perempuan pertama yang diterima di Stovia. Dia harus menunggu dua tahun dan dua kali penolakan untuk sekolah di Stovia. Menurut Liesbeth, Marie adalah satu-satunya siswa perempuan dari sekira 180-an siswa calon dokter yang belajar di Stovia.
Dua tahun kemudian, Anna Warouw, yang berasal juga dari Minahasa, diterima di Stovia. Mereka menjadi teman dan disebut 'si Kembar'. Di tempat itu pula, Marie berkenalan dengan Mohammad Yusuf, siswa Stovia dari Sumatra.
Dasawarsa Pendidikan
Butuh 10 tahun bagi Marie untuk lulus menjadi dokter, yakni pada 1922. Tatkala lulus, Marie masuk dalam sejumlah siswa yang berprestasi. Prestasi akademik Marie sempat ditulis dalam koran Belanda kala itu, Rotterdam Nieusblad dengan menyebutnya sebagai bakeleker.
Setelah kelulusannya, Marie bekerja di dinas sipil di Pusat Kesehatan Rakyat (CBZ/Central Bergelijk Ziekenin Rachting ), rumah sakit besar di Batavia. CBZ terletak di Oranye Bourlevaar yang kini berganti menjadi Jalan Diponegoro. CBZ kini menjadi RS Cipto Mangunkusumo.
CBZ sejak didirikan merupakan Rumah Sakit Rakyat. Ia merupakan kelanjutan dari Sekolah Dokter Jawa yang berdiri pada 1851 yang dilatarbelakangi timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada 1874 di Banyumas, Jawa Tengah.
Pemerintah kolonial membangun CBZ pada 1919 sebagai rumah sakit rakyat, tempat praktik, dan laboratorium mahasiswa Stovia, cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sejak itu, penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan kedokteran semakin maju dan berkembang di masyarakat luas.
Sempat pula dia mendalami kebidanan di Medan selama empat tahun. Setelah lulus ditempatkan selama empat bulan di Manado. Akhirnya kembali ke CBZ di Batavia.
Saat itu dia asisten Nicolaas JAF Boerma, spesialis bidang kebidanan dari Belanda. Dia juga tercatat sebagai pengajar ginekologi dan obsteri di sekolah kedokteran di Batavia.
Sebagai asisten Boerma, Marie mendapat pengetahuan sebagai ginekolog atau kebidanan. Pelajaran dan praktik yang dia lakukan sehari-hari bersama ahli genekologi membuat pengetahuan tentang ginekologi jadi bertambah. Maka, dia menjadi ahli dalam bidang ginekolog.
Sebutan ‘asisten kebidanan’ dia cantumkan pada undangan pernikahan dengan Mohammad Yusuf, sesama siswa Stovia. Beberapa hari sebelum pernikahan itu, Marie mengundurkan diri dari CBZ, 16 Maret 1929. Alasan pengunduran diri yang diajukan Marie kala itu karena menikah dengan Yusuf, dokter mata, dan harus pindah ke Bukittinggi. Marie adalah salah satu dokter pertama yang terlibat dalam pengendalian kelahiran, yaitu IUD.
The Museum Boerhaave di Leiden, Belanda memiliki beberapa foto yang diambil saat ia keluar dari rumah sakit wanita, ini dibuat adalah beberapa hari sebelum pernikahannya.
Di balik salah satu gambar menulis NJAF Boerma, dosen kebidanan sejak tahun 1920 di Sekolah Kedokteran dan sebagai seorang dokter perempuan di CBZ, “untuk menghormati Ibu Marie Thomas, yang sayangnya meninggalkan kami.”
Perbedaan
Perkawinan itu tetap langgeng hingga maut memisahkan mereka. Padahal, keduanya berbeda keyakinan dan suku. Buah perkawinan itu, Marie dan Yusuf dikaruniani dua anak, Sonya dan Eri.
Setahun pindah ke Padang, pasangan itu tinggal di Batavia. Dia bergabung dengan administrasi Persatoean-Minahasa (United Minahasa). Partai politik nasionalis yang moderat ini, yang didirikan pada tahun 1927, mendukung pemerintah federal Indonesia dengan jaminan untuk identitas dan otonomi Minahasa. Marie meninggalkan dewan setelah tiga tahun, ketika pasangan itu pindah Fort de Kock (Bukkitinggi) di Sumatra. Marie pergi bekerja di sana di rumah sakit dan juga memiliki pasien pribadi.
Bersama asistennya dia mengunjungi kampung untuk membantu orang yang tidak mampu membayar dokter.
Kemudian pada 1940 ia menjadi bendahara Ikatan Dokter Indonesia di luar Jakarta selama setahun. Selama pendudukan Jepang, dia juga melayani rakyat miskin yang membutuhkan jasanya. Setelah kemerdekaan, pasangan ini tetap tinggal di Bukittinggi.
Pada 1950, dia mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi. Ini adalah sekolah kebidanan pertama di Sumatera dan yang kedua di Indonesia. Dia juga mengajar di sekolah itu. Ciri pendidikan Marie yang diterapkan di sekolah itu tak berbeda saat dia menerima pendidikan di Stovia, yakni disiplin dan kebersihan.
Saat pemberontakan Minangkabau melawan Jakarta sekitar 1958, Marie dan suaminya tetap sebagai dokter tunggal di rumah sakit Bukittinggi. Sedangkan tak sedikit penduduk Bukittinggi yang bertempur melawan pasukan pemerintah.
Pakar sejarah Universitas Andalas, saat mendampingi Liesbeth Hesselink di Bukittinggi menuturkan pada wartawan seperti dikutip dari Harian Haluan, menuturkan Marie bekerja di rumah sakit umum Bukittinggi. Rumah sakit itu kini bernama RS Ahmad Muchtar.
Wali Kota Bukittinggi saat ditemui Liesbeth, Ismet Amziz menuturkan pernah mendengar cerita kebaikan Marie dari orang tuanya.
Menurut Ismet seperti ditulis Harian Haluan, pada era 1980-an masih mendapati rumah yang pernah ditinggali pasangan Marie-Yusuf. Yakni di pertigaan Jalan A Karim, Bukittinggi.
Rumah terbuat dari kayu dengan arsitektur Belanda berada di depan hotel The Hill. Namun, setelah itu, bangunan tersebut berganti menjadi kantor PT Bank Nagari.
Dalam catatan Liesbeth, Marie dikenal sebagai dokter yang selalu siap untuk pasiennya. Dan, banyak membantu mereka secara gratis. Warga sekitar tak mengenal dokter wanita itu dengan nama Marie. Mereka mengenal si penolong berwajah teduh ini dengan panggilan Dokter Thomas.
Seperti biasa di nusantara, rumahnya juga terbuka untuk anggota keluarga yang sering tinggal bersama pasangan itu selama bertahun-tahun. Di Indonesia saat ini, menurut Liesbeth, Marie Thomas telah dilupakan - bahkan sekolah kebidanan yang ia dirikan tidak menanggung nama itu.
Liesbeth menambahkan, catatan tentang ginekolog ini begitu minim, baik di instansi yang membidangi kesehatan Sumatra Barat maupun nasional. Catatan Marie Thomas tersimpan di Belanda. (Leo Wisnu Susapto)
Tulis Komentar
ATAU
MASUK DENGAN