BATAM - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan bahwa hingga saat ini 45 persen dari arus barang internasional selalu melewati kawasan Indonesia. Seharusnya, hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hanya saja potensi ini tidak termanfaatkan secara optimal. Padahal, apabila sektor ini dimanfaatkan secara optimal, Indonesia berpotensi menjadi poros maritim di dunia.
"Kita sekarang melihat Indonesia berpotensi menjadi poros maritim dunia. Kita tahu, 45 persen arus barang melewati laut Indonesia. Kalau itu tidak dimanfaatkan sangat sayang," kata Agus di Hotel Radisson, Batam, Jumat (12/8/2016).
Di tengah besarnya potensi pada sektor maritim ini, kata Agus, Indonesia bahkan masih berhadapan dengan persoalan gap kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Tak hanya itu, sektor maritim pun masih menyumbang 4 persen bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
[Baca juga: Indonesia Sudah Terlalu Lama Memunggungi Lautan]
"Potensi Indonesia luar biasa. Kita punya industri manufaktur, galangan kapal. Tapi faktanya kontribusi sektor maritim hanya 4 persen dari GDP. Jepang 28 persen, Filipina 20 persen. Kemudian kita lihat 90 persen jasa pelayanan internasional dilaksanakan oleh kapal asing. Jadi bagaimana? Indonesia perlu bangkit untuk memperbaiki perkapalan ini," jelasnya.
Untuk itu, kata Agus, butuh kebijakan terstruktur dan terintegrasi dalam memanfaatkan potensi ini. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah pun sangat diharapkan agar dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi pada sektor kemaritiman.
"Saya ingin katakan, penguatan ekonomi harus inklusif, maksudnya jangan sampai penguatan ekonomi malah menciptakan jarak yang kaya dan miskin makin luas. Kita harus bisa membuat peningkatan ekonomi bisa juga mempersempit jarak yang kaya dan yang miskin," jelasnya.
"Kalau kita melihat ini, tentu kita melihat sektor kemaritiman harus ditingkatkan, dukungan kebijakan yang terstruktur dan terintegrasi," tutupnya.
(rai)