Yuk Sedikit Mengenang 8 Barang Rumah Tangga Tempo Dulu yang Mungkin Jarang Kamu Liat lagi Sekarang
Saya berani bilang, ibu rumah tangga zaman dulu lebih perkasa daripada ibu rumah tangga zaman sekarang. Kenapa? Soalnya peralatan rumah tangga zaman sekarang lebih simpel dan gampang digunakan.
Dulu, para ibu mesti mencuci baju di papan gilesan; sekarang udah ada mesin cuci yang bisa bersihin sampe ngeringin baju. Lebih jauh lagi, orang mesti nyiapin kayu bakar dan minyak tanah buat masak; sekarang udah ada kompor gas atau rice cooker. Intinya, pekerjaan rumah tangga zaman dulu lebih menguras tenaga dan lebih merepotkan dibanding zaman sekarang.
Kalau gitu ibu-ibu sekarang patut dipertanyakan dong keperkasaannya? Enggak juga sih. Justru di sini lah kita bisa lihat fungsi teknologi yang pada dasarnya diciptakan untuk memudahkan para penggunanya, hehe.
Tapi bagi kamu yang tinggal atau pernah tinggal di pedesaan pasti kenal dekat dengan 8 peralatan rumah tangga ini, yang kini kepopulerannya udah digeser sama peralatan modern.
1. Tungku/Anglo
Tungku dan anglo sedikit berbeda. Kalau tungku dibuat dari batu atau semen, anglo dari tanah liat. Tapi fungsinya keduanya sama aja sih.
Satu lagi persamaannya: masak pake tungku dan anglo agak merepotkan. Kita mesti nyiapin kayu atau arang dan minyak tanah. Kemudian kita juga harus rela berjibaku dengan panas dan kebulan asap saat memasak, karena sewaktu-waktu apinya bisa saja padam. Jadi kalau apinya udah mau padam, “ritual” mengipas dan meniup api jadi solusi terakhir supaya masakannya cepat matang.
Oke kita lupain dulu sisi repotnya, sebab sebagian masyarakat masih ada yang menggunakan alat ini, dengan alasan makanan yang dimasak di tungku lebih lezat dan punya cita rasa tersendiri. Dan menurut saya, makan di depan tungku yang hangat saat cuaca sedang dingin juga bikin makanan kita terasa lebih nikmat.
2. Tampah
Tampah digunakan untuk memisahkan kotoran dari beras. Alat ini sering dipakai ibu-ibu di balai atau di teras rumah mereka. Dengan cara diayunkan dan diayak, ibu-ibu zaman dulu terampil lho memisahkan kerikil dan kotoran lainnya dari beras dengan tampah. Meskipun keliatannya lumayan besar (diameternya sekitar 65-80 cm) tapi alat ini ringan karena terbuat dari anyaman bambu.
Oh ya, selain untuk membersihkan beras, tampah juga bisa dipakai sebagai alas tumpeng dan tempat untuk menjemur kerupuk, kerak, dan beberapa makanan kering lainnya.
Saya masih ingat waktu kecil sering liat ibu-ibu menampah sambil menggosip atau berbincang seru dengan tetangga di balai depan rumah mereka. Hmm ibu-ibu zaman dulu juga ternyata jago multitasking, pikir saya.
3. Kipas
Sama seperti tampah, kipas yang satu ini juga dibuat dari anyaman bambu. Fungsi utamanya yaitu untuk mengipasi nasi yang baru masak, juga untuk mengipasi bara api.
Tapi saya berani jamin deh, fungsi kipas gak cuma itu doang. Soalnya sepengetahuan saya (selama tinggal di desa), kipas juga sering digunakan oleh orang-orang yang kerja di sawah untuk mengipasi badan mereka saat lagi kepanasan, dan juga banyak dipakai oleh ibu-ibu untuk menina bobokan anak mereka.
Kalau dipikir-pikir, kipas lebih banyak fungsinya dibanding AC (Air Conditioner) modern ya, haha.
4. Tempayan
Barang ini mungkin masih sering dijumpai, tapi sekarang fungsinya bukan lagi untuk menampung air, melainkan untuk hiasan taman atau kolam rumah.
Kalau dulu, tempayan digunakan untuk menampung air bersih sebelum dimasak.
5. Blau Cuci
Blau berasal dari bahasa Belanda, blaw, yang artinya biru. Kalau orang Sunda lebih suka menyebutnya bilao. Blau digunakan untuk mencuci pakaian, khususnya yang berwarna putih. Hayo ngaku siapa yang seragam sekolahnya pernah dicuci pakai blau?
Blau terdiri dari tiga bahan dasar yaitu tepung soda, tepung sagu, dan biang blau. Barang ini pernah populer dan banyak digunakan di masanya. Tapi, penggunaan blau sebagai alat cuci sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan, karena pakaian putih yang dicuci dengan blau lama kelamaan bisa jadi terlihat kebiruan dan kusam.
Selain untuk mencuci pakaian, orang-orang dulu percaya blau bisa jadi obat penyakit gondongan pada anak. Biasanya blau yang dicampur dengan cuka dioleskan ke leher yang bengkak (gondongan) agar cepat sembuh. Hmm, tapi kayaknya metode ini patut dipertanyakan deh. Soalnya belum ada bukti ilmiah yang mendukung kemanjuran blau pada penyakit gondongan. Atau itu emang cuma mitos? Menurut kamu gimana?
Editor’s Pick
- 10 Hal Konyol yang Sering Anak 90-an Lakukan Waktu Kecil Dulu, Nostalgia Dulu Yuk!
- Ketika Tabungan Kamu Nyaris Kosong, Jurus Jitu Travelling dengan Bujet Super Minim Ini Wajib Kamu Coba
- Buat Kamu yang Umur 20an Keatas, Masih Ingat 8 Keseruan Zaman Dulu Ini?
6. Abu Gosok
Abu gosok adalah limbah pembakaran tanaman (biasanya padi) yang berguna untuk mencuci alat-alat rumah tangga seperti piring, panci, dan penggorengan. Abu gosok mengandung zat kalium, yaitu zat pencuci kotoran yang menjadi kerak seperti abu pada dasar penggorengan. Kalium pada abu gosok ini berguna juga untuk membersihkan plak gigi, lho.
Selain itu, abu gosok juga banyak digunakan sebagai pengusir hama, dan sebagai bahan untuk proses pembuatan telor asin.
Masih teringat jelas waktu saya SMP dulu, saya sempat menggunakan abu gosok untuk praktik membuat telor asin pada mata pelajaran sains, mungkin itu terakhir kalinya saya memakai barang ini, hehehe.
7. Setrika Arang
Menurut saya setrika arang lebih ekonomis dan gak gampang rusak dibanding setrika modern. Tapi penggunaan setrika arang udah lama ditinggalkan dengan alasan kurang praktis. Meskipun begitu, setrika tradisional ini adalah bukti kalau orang-orang zaman dulu itu cerdas dan paham bahwa besi yang dipanaskan bisa memuluskan kusutan pada kain.
Setrika arang sekarang diperjual-belikan sebagai barang antik. Berminat buat beli?
8. Mesin Jahit Manual
Mesin ini jadi primadona industri konveksi jaman dulu. Kalau gak Butterfly ya Singer, pokoknya dua merek itu dulu menguasai pasaran mesin jahit manual di Indonesia. Mesin jahit manual terbuat dari logam, dan biasanya bertumpu pada meja sebagai alas untuk menempatkan kain. Juga terdapat kayuhan atau pedal di bagian bawah meja yang berfungsi untuk menarik-ulurkan jarum dan mengatur jarak jahitan pada kain.
Sayangnya, mesin jahit manual hanya bisa membuat satu pola (pola lurus) pada kain. Pengguna mesin jahit ini pun mulai berkurang semenjak ada mesin jahit listrik yang lebih modern.
Apa kalian termasuk yang pernah punya mesin jahit manual di rumahnya? Duduk di atas pedal mesin jahit yang dikayuh nenek pernah jadi obat gabut saya sewaktu kecil.
Nah itu dia 8 barang rumah tangga zaman dulu yang bikin nostalgia karena mungkin sekarang jarang kamu jumpai lagi. Tapi tenang aja, masih ada kok orang-orang yang masih setia ngegunain barang-barang di atas. Atau kamu mau coba pakai? Hmm, menarik tuh.