Jika orang mengatakan buku adalah jendela dunia, maka membaca adalah cara membuka jendela tersebut. Buku dalam konteks saat ini nampaknya tidak lagi diartikan sebagai lembaran kertas yang penuh tulisan dan dijilid. Perkembangan teknologi informasi telah memperluas arti dari buku, termasuk buku digital yang dengan mudah dibaca seperti Kindle keluaran Amazon atau Ipad besutan Apple, dan juga halaman-halaman internet.
Dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal dan perspektif. Membaca disini juga termasuk membaca pikiran dalam diri kita. Dengan membaca kita tidak lagi jumud alias kaku dan keukeuh hanya pada satu perspektif tanpa mau membuka diri terhadap pendapat berbeda. Membaca juga dapat memperkaya imajinasi dan menjadikan kita lebih kreatif.
Dalam surat Al-Alaq, kata iqra’ disebutkan sebanyak dua kali dalam ayat pertama dan ketiga. Quraish Shihab (2006) dalam bukunya "Membumikan Al-Qur’an" menjelaskan bahwa perulangan ini mengindikasikan bahwa membaca memang harus dilakukan secara terus menerus. Bahkan berulang kali membaca untuk bacaan yang sama tidak sedikit pun memberikan kerugian. Membaca sesuatu secara berulang dapat menghadirkan pemahaman baru dengan memberikan tafsir baru atas bacaan.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa peradaban sebuah masyarakat akan sangat ditentukan oleh bacaan generasi mudanya beberapa tahun sebelumnya. Persis seperti ketika Madinatul Munawwarah terbentuk setelah 20 tahun Nabi Muhammad menerima wahyu pertama. Kualitas bacaan akan sangat menentukan pola pikir pembacanya. Untuk menilai manfaat bacaan seringkali kita harus berfikir lateral, melihat dibalik teks gambar. Karena sebagian berpendapat bahwa bacaan yang satu lebih bermanfaat dibanding bacaan yang lain.
Sebut saja jika sebuah novel dan cerita bergambar dikemas dengan baik dan syarat pesan, bahkan kadang lebih memudahkan dalam penyampaian nilai-nilai ketimbang buku teks dan nonfiksi lainnya. Dan sebaliknya, jika tulisan serius tetapi dikemas dengan kurang pas (misal cenderung menghujat atau semacamnya), tentu akan lebih sulit membentuk pola pikir pembacanya karena telah membuat kurang nyaman pembaca sedari awal tulisan tersebut dibuat.
Oleh karena itulah, pilihlah buku-buku yang "bergizi" dan "renyah" untuk dibaca agar memudahkan kita untuk menyerap ilmu pengetahuan yang kita butuhkan. Jika buku adalah jendela dunia maka dengan membacalah sesungguhnya kita baru akan mengenal dunia.