Aksi pembangkangan yang dilakukan Safi dalam pemilu presiden 2019 di Afghanistan memicu kekaguman para netizen. Hal itu terjadi setelah pria berusia 38 tahun memposting foto di Twitter yang menunjukkan jari telunjuk kanannya hilang dan yang kiri bernoda tinta, tanda ia telah menyalurkan hak pilihnya.
Menantang ancaman serangan militan Taliban dan penundaan di tempat pemungutan suara, warga Afghanistan memberikan suara mereka dalam ujian besar kemampuan pemerintah yang didukung Barat untuk melindungi demokrasi.
Rezim Taliban digulingkan oleh pasukan yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001. Namun kelompok pemberontak itu sekarang berada pada tingkat yang paling kuat sejak kekalahannya. Mereka secara keras mengganggu pemilihan demokrasi yang baru lahir dan melakukan pembalasan yang mengerikan, sering kali mematikan pada mereka yang mengambil bagian.
Baca Juga:
Selama pemilihan presiden 2014, pejuang Taliban memotong jari setidaknya enam pemilih.
"Saya tahu itu adalah pengalaman yang menyakitkan, tetapi itu hanya jari," kata Safi melalui telepon.
"Ketika datang ke masa depan anak-anak dan negara saya, saya tidak akan duduk bahkan jika mereka memotong seluruh tangan saya," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (29/9/2019).
Safi menggambarkan bagaimana pada tahun 2014 ia telah memberikan suaranya dan sehari kemudian melakukan perjalanan dari ibu kota Kabul, di mana ia tinggal, ke kota timur Khost, dengan jari yang telah ditandai oleh tinta dari pemungutan suara.