- Strategi Media Sosial BP2TSTH dalam Penyebaran Informasi Litbang – Baca Selanjutnya
- FORDA Survey – Baca Selanjutnya
- Laporan Kinerja BLI Tahun 2017 (informasi pelaksanaan kegiatan di BLI) – Baca Selanjutnya
- Berbagai Potensi dan Peluang Penelitian bagi Mahasiswa di BP2LHK Aek Nauli – Baca Selanjutnya
- Mengubah Limbah Kayu Hutan Rawa Gambut Bekas Kebakaran Menjadi Arang Kompos dan Cuka Kayu – Baca Selanjutnya
- PUI 2018, Balitek DAS akan Bersinergi dengan B2P2BPTH Yogyakarta – Baca Selanjutnya
Dientry oleh Rizda - 12 May, 2017 - 3328 klik
Gulinggang: HHBK Berkhasiat Obat yang Potensial Dibudidayakan
Gulinggang: HHBK Berkhasiat Obat yang Potensial Dibudidayakan
BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 18/04/2017)_Gulinggang dengan nama latin Senna alata L. adalah hasil hutan bukan kayu yang potensial karena bermanfaat sebagai tanaman obat. Budidaya gulinggang yang tersebar di Kalimantan Selatan telah dikembangkan di beberapa daerah, diantaranya di Desa Mangkaok, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Namun kelayakan usahanya masih dipertanyakan oleh banyak pihak.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Adnan Ardhana dan Wawan Halwani, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru melakukan kajian.
Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan budidaya gulinggang di Desa Mangkaok, Kalimantan Selatan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa hasil wawancara dengan petani dan data sekunder dari pustaka yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Analisis yang digunakan dengan analisis pendapatan dan Revenue Cost Ratio (R/C).
Hasil kajiannya, dengan menanam gulinggang, total pendapatan petani selama satu tahun lebih dari 25 juta rupiah dengan Revenue Cost Ratio sebesar 2,47 atau R/C > 1. Dengan demikian, usaha budidaya gulinggang layak untuk dilaksanakan.
“Namun, penelitian ini hanya terbatas pada kelayakan pengusahaan secara spesifik lokasi dan jangka pengusahaan selama 1 tahun produksi mengingat daya produksi/daur hidup tanaman gulinggang belum diketahui,” tulis Adnan dan Wawan pada Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian HHBK “Meningkatkan Kemanfaatan HHBK untuk Mendukung Pengelolaan Hutan dan Lingkungan,” yang dilaksanakan di Mataram, Desember 2014 lalu.
Menurutnya, dalam rangka pengembangan sistem agroforestri, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai jenis tanaman yang dapat dikembangkan bersama gulinggang. Ini mengingat tanaman ini memerlukan intensitas cahaya yang cukup tinggi.
Sebagaimana diketahui, saat ini penggunaan bahan alam sebagai obat (biofarmaka) cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan adanya isu back to nature dan krisis ekonomi yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obatan yang relatif lebih mahal harganya. Selain itu, obat dari bahan alam dianggap hampir tidak memiliki efek samping yang membahayakan.
Bagian tanaman gulinggang yang dimanfaatkan sebagai obat adalah daunnya, diantaranya sebagai obat sembelit, sakit perut, liver, penyakit kulit (panu dan kurap), malaria dan flu.***JND