sumber foto : twitter.com
Berawal dari keingintahuan terhadap perkembangan kisruh sepakbola, saya jadi mengenal Kompasiana terjadi sekitar awal tahun 2012 dimana saat itu kisruh sepakbola nasional sedang hangat-hangatnya diperbincangkan diberbagai media baik online maupun media cetak. Mulanya saya hanya sebatas mengamati perang opini antara pendukung PSSI yang legal dan pendukung sepakbola dari pihak KPSI (Komite penyelamat Sepakbola Indonesia) yang memang saat itu sedang berseteru memperebutkan kekuasaan dijagat persepakbolaan nasiona apa lagi kala itu KPSI memang memegang kendali penuh terhadap liga sepak bola Nasional yang dikenal dengan Liga ISL sehingga menyulitkan PSSI sebagai organisasi persepakbolan nasional mengatur programnya terutama menyangkut timnas.
Kemudian 17 Mei 2012 saya memberanikan diri untuk membuat akun kompasiana dan dilanjut per tanggal 29 Mei 2012 saya mulai memberanikan diri untuk menulis artikel atau tulisan terkait kondisi persepakbolaan nasional, saya masih ingat sekali tulisan pertama saya kala itu adalah pentingnya-arti-rasa-kebangsaan yang kalau dilihat dari arsip tulisan yang kemaren-kemaren sempat hilang tapi syukur saat ini telah dikembalikan seutuhnya oleh Admin Kompasiana untuk ini saya harus berterimakasih sekali kepada Admin karena memang arsip saya suutuhnya tergantung dengan apa yang ada di arsip Kompasiana karena saya tidak menginventarisirnya secara khusus, dimana tulisan pertama itu sempat dibaca oleh 889 pembaca dan hanya dikomentari oleh dua komentar….yah lumayanlah….he..he
Dan sejak saat itulaqh saya mulai aktif menulis di kanal yang saya pilih yaitu Bola dan Balap dimana keduanya merupakan dua cabang olahraga yang memang saya ikuti perkembangannya, hingga sampai suatu saat melihat perseteruan dua kubu yang tak kunjung berhenti itu (sampai saat ini) saya menyempatkan diri menulis artikel wahai-sahabat-kompasianer-damai-itu-indah yang sesungguhnya merupakan curahan hati saya untuk sekedar mengingatkan teman kompasianer khusunya di kanal bola bahwa apa yang sesunguhnya kita lakukan adalah tak lebih dari bentuk kecintaan kita kepada Persepakbolaan Indonesia. Jadi sudah selayaknya kita harus tetap berada dalam semangat diskusi guna memberi sumbangsih dalam bentuk tulisan guna membangun sepakbola Indonesia kedepan sesuai dengan moto kompasiana itu sendiri yaitu “Sharing & Connecing” dan kalaupun terjadi hal-hal perbedaan diantara kita tentu hal itu menjadi wajar dan sah-sah saja.
Berikutnya just info saja saya juga pernah menulis dikanal lain sekaligus itu menjadi satu-satunya tulisan saya diluar Kanal favorit Bola dan Balap, waktu itu saya menulis dikanal Internet (saat itu masih ada) terkait dengan keberhasilan anak sulung saya yang kebetulan juga terdaftar sebagai kompasianer tapi pasif (karena jadi kompasianer dipaksa bapaknya bukan kemauan anaknya...he...he) terpilih jadi finalis “Duta Internet Sehat dan Aman” tingkat nasional dalam tulisan kompasianer-danny-rizky-p-maju-ke-babak-final-duta-insan.
Sementara itu ada juga berita kebahagiaan saya sejak bergabung di Kompasiana blog kroyokan tulis menulis ini yaitu sekitar Juni 2014, tulisan saya terkait profil dari Massimo Luongo bintang sepakbola Autralia keturunan Indonesia dalam tulisan berjudul massimo-luongo-pemain-berdarah-indonesia-di-piala-dunia-2014 ternyata dimenangkan admin Kompasiana dalam ajang lomba tuliskan-sosok-di-piala-dunia-dan-dapatkan-buku-worldcupedia Alhamdulliah ini merupakan sebuah anugrah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan berikutnya keberuntungan di Kompasiana juga berlanjut dengan pernah juga dihubungi admin kompasiana TV untuk tampil dalam acara diskusi sepakbola, tapi sayang tidak bisa saya penuhi karena memang karena kesibukan saat itu dan kebetulan waktunya juga kurang tepat ditengah kesibukan saya yang masih berkeliaran di jalanan sementara saya diminta kembali untuk seting Google Hangout. Tapi untuk itu tak lupa saya ucapkan dan sungguh berterima kasih sekali atas perhatian dari Kompasiana karena saya merasa sebagai orang yang paling beruntung dari sekian banyak kompasianer yang ada di kanal bola tentunya.
Kembali ke judul “Karena Kompasiana Saya Cinta Sepakbola Indonesia” jujur ini fakta yang tidak bisa saya pungkiri karena jauh sebelum bergabung dengan kompasiana perhatian saya untuk dunia sepakbola hanya sebatas fanatisme kedaerahan dengan mengikutinya sebatas dari pemberitaan yang ada, itupun yang saya ikuti hanya terkait dengan perkembangan dunia persepakbolaan daerah asal saya saja yaitu Sumatera Barat tepatnya kota Padang yang waktu itu diwakili oleh klub Semen Padang FC dikancah persepakbolaan nasional selebihnya hanya kalau ada pemberitaan pertandingan sepakbola nasional (timnas) selain dari itu terlewatkan begitu saja.
Tapi yang terjadi sejak bergabung dengan Kompasiana, saya jadi semakin tertarik mengikuti perkembangan sepakbola nasional apapun itu bentuk perkembangannya dan seakan saya tak pernah kehabisan bahan untuk menuliskanya melalui tulisan di kanal bola kompasiana ini dan itu berlanjut terus dan konsisten saya lakukan yang sampai dengan hari ini jumlah tulisan saya sudah mencapai angka 1.094 (seribu Sembilan puluh empat) artikel Bola & Balap sesuatu yang tak pernah terbayangkan dimana dari sekian jumlah tulisan tersebut didominasi oleh tulisan terkait sepakbola nasional. Tentunya ini sebuah pencapaian luar biasa yang jauh diluar perkiraan saya karena jujur sebelum ini saya tidak mengenal dunia tulis menulis ini.
Diluar dari apa yang sudah tertulis diatas “Karena Kompasiana” saya juga merasa mendapat banyak sahabat/teman baru sejak bergabung di Kompasiana ini sampai-sampai saya melupakan media social Facebook yang sebelum akrab selalu dikunjungi tiada hari tampa Facebook. Tapi anehnya sejak bergabung dengan Kompasiana semua menjadi berubah dan saya menjadi ketagihan sehari tampa kompasiana terasa ada yang kurang sehingga akhinya saya betul-betul dapat dikatakan tidak pernah lagi buka yang namanya akun Facebook kecuali kalau ingin monitor/berkomunikasi dengan si sulung yang kebetulan lagi study jauh di negaranya Barrack Obama ….he…he...tapi jujur belakangan juga saya pakai lagi untuk numpang eksis/promo tulisan terbaru saya yang baru saja diposting dikompasiana.
Akhirnya sebagai penutup tulisan ini “Karena Kompasiana” perlu juga saya sampaikan “Karena Kompasiana” saya bisa bertemu dengan tetangga sekampung tempat saya menghabiskan masa kecil semasih sekolah yaitu di “Pulau Karam” kota Padang dengan kompasianer top markotop di blog kroyokan ini yang selalu tampil dengan tulisan yang penuh inspiratif yaitu pak Tjipta Dinata Efendi dan satu lagi tetangga saya waktu masih bermukim di Bekasi yaitu Otto Von bismarck yang selalu menutup tulisannya dengan “PSSI On the track”…tapi sayang PSSI nya sedang dibekukan jadi tak jelas track mana yang sedang dilalui saat ini …apa menuju ke laut barangkali…ha...ha……dan terakhir “Karena Kompasiana” juga saya jadi punya banyak sahabat mulai dari Aceh sampai Papua dan bahkan dari Negara serta benua lain pun ada, untuk itu saya ucapkan terima kasih sekali semua berkat Kompasiana semoga Kompasiana kedepan tetap menjadi pilihan bagi kita semua untuk “Sharing Conecting”....amin…………selamat menikmati.
Borneo 16 September 2015
Salam Olah Raga