“Layanan kita juga sudah mulai berubah, grafis kita berubah, pola tayangan kita juga berubah, kita juga menyusun program milenial. Kita ada acara yang mengandung unsur milenial. Milenial pun sudah memperhatikan TVRI. Kita ingin memperjuangkan TVRI. Para seniman-seniman muda juga sudah datang ke TVRI, kita melihat bahwa TVRI sudah mulai mengembalikan kejayaannya,” tutur Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik TVRI, Helmy Yahya saat berbicara dalam diskusi publik bertema Penguatan Kelembagaan TVRI Sebagai Lembaga Penyiaran Publik di Jakarta, Kamis (8/8/2019).
Helmy mengatakan, TVRI yang memiliki jangkauan paling luas, yakni 29 stasiun daerah dan hanya lima daerah yang belum memiliki stasiun televisi daerah dan 360 pemancar di seluruh Indonesia memiliki tantangan berat.
“TVRI memiliki coverage siaran paling luas dan hanya kita yang punya stasiun televisi di luar Jakarta. Tantangannya banyak sekali, ibarat raksasa yang tidur lama kemudian bangkit memang butuh energi yang lebih. Kemudian belajar berjalan lagi untuk menyetarakan dengan televisi swasta yang lebih dinamis dan cepat,” tuturnya.
Baca Juga:
Dengan demikian, lanjut Helmy, banyak yang harus diperbaiki untuk mengembalikan kejayaan TVRI. “Kondisi ini memang kita hadapi, tapi kita tidak menyerah. Kita tahu betul peralatan kita banyak yang sudah usang, SDM kita juga cukup memprihatinkan karena bertahun-tahun TVRI tidak diminati oleh karyawan muda. Secara organisasi, TVRI harus diperbaiki. Kami melakukan revisi banyak sekali, kami melakukan reformasi birokrasi banyak sekali dan kalau memungkinkan secara aturan dan budget kami akan merekrut anak-anak muda untuk memperbaiki layanan kita, media sosial kami, untuk memperbaiki kreatif kita,” tutur mantan presenter acara televisi ini.
Helmy menjelaskan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang bertanggung jawab kepada Presiden, namun tidak menutup kemungkinan TVRI akan bisa bersanding dengan televisi publik sekelas NHK (Nippon Hoko Kyokai) di Jepang.
“Dewan pengawas kami meminta TVRI besar seperti NHK di Jepang atau BBC di Inggris, saya iya kan meskipun kami tahu bahwa tidak gampang. Kondisi kami juga sangat berbeda, anggaran kita juga sangat terbatas,” katanya.
Helmy mengaku sempat studi banding ke penyiaran di Jepang, yakni NHK. Stasiun televisi itu mengelola anggaran dana sekitar Rp90 triliun. Sementara TVRI sangat jauh di bawahnya atau sekitar seratus kali di bawah nilai tersebut.