VIVA – Indonesia pernah nyaris hancur karena ulah sekelompok orang yang anti terhadap pemerintah dan Pancasila. Dengan berusaha merebut kekuasaan dengan mendirikan negara dengan embel-embal agama di Nusantara.
Kisahnya seperti ini, ketika itu ada sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai milisi muslim, dipimpin pria bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, berusaha mengubah Republik Indonesia dan Pancasila menjadi negara yang berbasis khilafah.
Nah sebelum semua itu terjadi, lebih jauh lagi, Sekarmadji sebenarnya tak seorang diri. Dia mendirikan negara berbasis khilafah bernama Negara Islam Indonesia (NII) bersama Panglima Laskar Sabilillah, Raden Oni Syahroni. Sebelum bernama NII, mereka membuat gerakan bernama Darul Islam (DI).
Jadi berdasarkan catatan sejarah yang dirangkum VIVA Militer, Jumat 20 November 2020, mereka berdua ini mengaku kecewa atas sikap pemerintah RI setelah terjadi Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Salah satu isi dari perjanjian itu ialah mewajibkan tentara dan laskar bersenjata RI, mundur ke belakang garis demarkasi Van Mook.
Ketika itu pasukan kebanggaan Jawa Barat, yakni Divisi Siliwangi memutuskan hijrah ke Yogyakarta. Sedangkan Raden Oni tak mau mengikuti isi dari perjanjian itu, dan akhirnya bersama Sekarmadji membentuk NII.
Malahan, dengan alasan tak ada lagi tentara penyelamat bagi rakyat Jawa Barat, Sekarmadji mengumumkan kejatuhan Republik Indonesia. Tak hanya itu, dia juga mengklaim Jawa Barat sebagai Negara Islam Indonesia.
Di saat bersamaan, ternyata pasukan Siliwangi kembali lagi ke Jawa Barat. Ternyata kepulangan pasukan Siliwangi mendapat penolakan, rakyat sudah kadung percaya pada NII, hingga pasukan Siliwangi kini harus berhadapan dengan rekan sendiri yang pernah sama-sama berjuang di era revolusi.
Pemerintah Indonesia berusaha meredam kekecewaan masyarakat Jawa Barat, dengan mengajak Sekarmadji duduk bersama. Tapi semua itu gagal, akhirnya untuk pertama kalinya usai merdeka, perang pecah sesama Bangsa Indonesia antara Pasukan Siliwangi dengan DI/TII, pertempuran sengit terjadi pada 25 Januari 1949 di Tasikmalaya.
Posisi Pasukan Siliwangi tak menguntungkan, sebab selain harus bertempur dengan DI/TII, juga harus perang melawan tentara Belanda. Pada 14 April 1949, Indonesia dan Belanda mengadakan perundingan bernama Perjanjian Roem Royen di Jakarta. Meski NII tak dilibatkan, ternyata hasil dari perundingan itu menguntungkan NII, sebab salah satu isi perjanjian itu disebutkan bahwa angkatan bersenjata RI harus menghentikan segala gerilya.
Singkat cerita akhirnya Sekarmadji dengan mulus memproklamirkan NII, di Desa Cisampang, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi pada 7 Agustus 1949 atau hanya 10 hari jelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-4.