Lemang adalah suatu metode memasak beras ketan menjadi nasipulen dengan menggunakan wadah bambu. Setelah beras ketan dimasukkan ke dalam rongga bambu yang di dalamnya dilapisi daun pisang maupun langsung masuk ke bambu kemudian dibakar atau dipanggang di atas api menyala. Beras ketan yang sudah menjadi nasi ini dengan metode bambu disebut lemang.
Lemang pada masa kini ditemukan di beberapa Negara dan sejumlah daerah di Indonesia. Dalam perkembangannya, jenis beras ketan yang digunakan bermacam-macam, utamanya beras local seperti beras Ketan putih, beras ketan merah, beras ketan hitam. Lemang ini yang paling popular yang kerap dihidangkan di saat-saat tertentu terutama ketika hari raya dan ketika Nayuh atau acara adat.
Hal tersbut sebagai salah satu upaya mengangkat kembali teradisi ‘ngelemang’ yang merupakan kuliner trasional khas Lampung Barat, Pemkab Lambar berencana memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI), dengan menggelar “bakar lemang 6000 pancung” yang akan dipusatkan di Pekon Purajaya 2 di Kecamatan Kebuntebu pada Jumat 20 Oktober 2017. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 2,5 ton beras ketan, 2500 kelapa, dua kwintal kemiri, dua kwintal garam, dan 75 meter kubik kayu bakar, serta 6000 potong bambu disiapkan. Selain itu, bakar lemang 6000 pancung akan melibatkan 300 orang.
Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Lambar Indra Kesuma, S.Sos., mengatakan, persiapan telah dilakukan sehingga diharapkan kegiatan tersebut tidak akan menemui kendala, dan Lambar benar-benar mampu memecahkan rekor MURI. ”Jumlah peserta yang akan dilibatkan sekitar 300 orang dengan asumsi satu orang membakar 20 pancung lemang, selain itu tentunya akan melibatkan tokoh masyarakat yang paham dengan tata cara pembakaran lemang,” ungkap Indra.
Dijelaskannya, lemang adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi beras ketan dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang.”Lemang adalah kuliner khas Lambar yang biasanya ada pada saat lebaran atau pun acara adat, namun belakangan hanya sebagian kecil saja yang masih melestarikan tradisi tersebut, karean itu melalui kegiatan pemecahan rekor MURI bakar lemang 6000 pancung tersebut kami berharap lemang bisa semakin dikenal bahkan menjadi salah satu kuliner yang selalu ada setiap saat,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Indra, melalui kegiatan tersebut juga pihaknya berharap masyarakat bisa datang untuk menyaksikan sekaligus belajar tentang tata cara bakar lemang, bahkan pihaknya juga berharap kegiatan pemecahan rekor MURI tersebut juga dihadiri oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. ”Kita harus tunjukkan kepada daerah lain, bahwa kita juga memiliki kuliner khas, bahkan jumlahnya kuliner khas Lambar sangat banyak. Diharapkan ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk bisa berkunjung ke Lambar,” pungkasnya.
Selanjutnya untuk membuat lemang bukanlah hal yang simpel, karena perlu persiapan dan penanganan selama proses pembakaran. Waktu yang dibutuhkan saat mulai dibakar di atas kayu bakar yang menyala (fase pertama) hingga masa pemanggangan di atas bara (fase kedua) cukup lama--tiga sampai empat jam. Karena itu, metode ini tidak setiap hari digunakan untuk memasak beras. Dengan kata lain, metode memasak beras ketan menjadi nasi serupa ini tidak praktis. Waktu dan daya upayanya tidak sebanding jika dilakukan dengan metode lain.
Metode memasak lemang menggunakan bambu yang dikenal sekarang sebagai lemang hanya digunakan jika metode lain tidak bisa digunakan atau jika dimaksudkan untuk meninggikan nilainya. Metode ini di masa lalu dapat digunakan di dalam perjalanan jauh jika tidak tersedia peralatan memasak nasi tetapi tersedia jenis bambu yang sesuai dengan metode memasak beras serupa, dengan demikian, metode memasak Lemang ini menjadi sangat taktis.
Produk beras dengan menggunakan metode memasak Bambu ini terbukti memang nasi menjadi lebih enak. Hal ini tidak hanya karena bahan dasarnya beras lokal, juga karena dibakar dengan kayu bakar. Jangan lupa efek dari wadah bambu dan daun pisang juga turut meningkatkan aroma rasanya menjadi khas. Value inilah yang dicapture untuk dilestarikan sebagai makanan yang khas pada hari tertentu, seperti hajatan atau hari raya. Sedangkan di masa kini value yang dimaksud adalah nilai komersil yang dapat diperdagangkan setiap hari, seperti di Lambar dan sekitarnya.(yuli)