Votel menyatakan, meningkatnya keberadaan sistem pertahanan udara di Timur Tengah memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap operasi yang dilakukan AS di kawasan itu. Dampak terbesarnya adalah, AS tidak bisa mendominasi langit di kawasan rawan konflik tersebut.
"Meningkatnya jumlah sistem rudal permukaan-ke-udara Rusia di wilayah tersebut mengancam kemampuan kita untuk menguasai wilayah udara (Timur Tengah)," kata Votel dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (1/3).
DIa juga menyebut bahwa menggunakan konflik di Suriah untuk menguji senjata dan taktik baru mereka. "Mereka melakukanya dengan sedikit memperhatikan kerusakan bangunan atau korban sipil," ucapnya.
Baca Juga:
Sebelumnya, Votel menyatakan, Rusia dan Iran mencoba untuk melemahkan kemitraan strategis antara AS. dan Turki.
"Rusia dan Iran sama-sama mencoba untuk memperkuat rezim brutal di Suriah, membatasi pengaruh militer AS di Irak dan Afghanistan dan mematahkan kemitraan strategis yang telah berlangsung lama antara AS dan Turki," kata Votel.
Dia menambahkan, Moskow memainkan peran sebagai pembakar dan pemadam kebakaran, memicu ketegangan di antara semua pihak di Suriah dengan mendukung rezim Bashar Al-Assad dan menambahkan kompleksitas pada kampanye melawan ISIS.
(esn)