Jenewa, REQNews -- Sejumlah negara, termasuk Indonesia, bersiap memvaksinasi warga untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan krisis Covid-19 tidak akan berakhir dengan kedatangan vaksin.
"Vaksin tiadk sama dengan nol Covid-19," kata Michael Ryan, direktur darurat WHO. "Sebab, tidak semua orang akan menerima vaksin pada awal tahun depan."
Vaksinasi, masih menurut Ryan, hanya akan menambah alat utama pencegahan Covid-19 yang dimiliki umat manusia.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga memperingatkan akan persepsi yang berkemang bahwa pandemi telah berakhir, padahal virus masih menyebar cepat. Situasi ini, katanya, akan memberi tekanan besar kepada rumah sakit dan petugas kesehatan.
Indonesia baru saja menerima 1,2 juta dosis vaksin siap pakai dari Sinovac, perusahaan farmasi Cina. Presiden Joko Widodo mengatakan akan ada 1,8 juta dosis vaksin siap suntik yang akan tiba Januari 2021.
Selain vaksin siap suntik, Indonesia akan menerima 45 juta dosis bahan baku curah untuk pembuatan vaksin Covid-19 dalam dua gelombang. Pertama 15 juta dan kedua 30 juta dosis.
WHO mengatakan terdapat 51 kandidat vaksin yang sedang diuji pada manusia, dengan 13 mencapai pengujian massal tahap akhir. Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui inokulasi vaksin Pfizer-BioNTech untuk umum, yang menambah tekanan pada negara lain.
AS akan mengijinkan vaksinasi akhir bulan ini. Negara-negara Eropa lainnya; Belgia, Prancis, dan Spanyol, memulai vaksinasi awal Januari.
Pfizer dan BioNTech mengatakan vaksin mereka perlu disimpan pada suhu minus 70 derajat. Smithfield, raksasa pemrosesan daging, mengatakan siap menggunakan ruang pendinginnya sebagai tempat penyimpanan vaksin.
Tidak ada kabar rinci apakah vaksin lain perlu disimpan di ruangan dengan suhu minus 70 derajat.