TELENEWS.ID – Harga cabai rawit belakangan memang terus mengalami kenaikan yang cukup drastis hingga berada di kisaran Rp120.000-Rp150.000 per kilogram. Apa penyebab hal itu terjadi? Bagaimana kiat yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya?
Menurut sejumlah pakar, kenaikan harga cabai tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya supply dan demand serta kondisi cuaca yang terus berubah.
Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanto, menyebut bahwa jumlah demand/permintaan pada cabai cenderung tetap, namun supply atau produksinya terkadang rendah, sehingga menyebabkan harga menjadi tinggi.
Produksi cabai yang rendah itu disebabkan oleh cuaca yang kurang menentu. Tanaman tersebut memang tidak bisa tumbuh dengan baik jika terus disiram oleh curah hujan yang tinggi.
Hermanto pun menyebut bahwa kenaikan harga cabai akan terus terjadi jika Indonesia belum bisa menerapkan teknologi budidaya yang bisa memproduksi cabai di luar musimnya.
“Masalah ini dapat diatasi misalnya dengan menerapkan budidaya tanaman cabai di dalam rumah kaca,” tutur Hermanto.
Sementara seorang peneliti INDEF (Institusi Pengembangan Ekonomi Dan Finansial), Rusli Abdullah, mengungkap bahwa penyebaran pandemi Covid-19 juga memberi dampak signifikan pada kenaikan harga cabai.
Tahun lalu, banyak restoran dan warung yang terpaksa tutup karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini membuat demand pada cabai menurun drastis. Akibatnya, para petani pun tidak menyediakan supply/produksi dengan jumlah biasanya karena mereka berasumsi bahwa Covid-19 masih akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Pada kesempatan yang sama, Rusli juga membeberkan sejumlah solusi untuk mengatasi kenaikan harga cabai; salah satunya dengan adanya supplier cabai di masing-masing wilayah untuk meredam peningkatan harga.
Kemudian, karena cabai adalah komoditas yang tidak tahan lama, maka sebaiknya sebagian besar segera diolah dalam bentuk lain agar bisa disimpan lebih lama.
“Untuk masalah cabai memang harus ada rekayasa kuliner. Harus mengubah pola konsumsi masyarakat yang sekarang cenderung menyukai cabai segar,” jelas Rusli. (Billy Bagus)
harga cabe udh bisa ngalahin harga daging ya wkwkwk, dah gk ush pake cabe