5 Hasil Mengejutkan Tentang Penemuan Tinja Zaman Purba, Ada Kotoran Berukuran Ratusan Cm
George Frandsen dan "Precious" | GuinessWorldRecords
AKURAT.CO, Selama ini, kebanyakan dari kita hanya mengetahui penemuan para arkeolog berupa benda atau fosil purbakala seperti tulang belulang, sarkofagus, bangunan untuk ritual keagamaan, perlengkapan senjata atau berburu, serta benda-benda sehari-hari lainnya yang dipakai orang pada zaman dulu.
Namun, apakah kamu tahu sebagai "rekan" arkeolog, para ahli paleontologi juga tidak kalah dalam berjuang untuk menemukan bentuk dan sejarah kehidupan berbagai organisme sejak bumi terbentuk?
Salah satu penemuan mereka yang paling menarik adalah kaprolit atau fosil feses. Sebagai peneliti sejarah kehidupan serta mahkluk purba, koprolit tidak hanya menarik, tetapi justru menjadi salah satu penemuan penting. Pasalnya, memalui kaprolit, para peneliti bisa mengungkap kesehatan, kebiasaan, atau budaya makan hewan atau manusia pada zaman purbakala.
baca juga:
- Selain Menghibur, Kehadiran Baby Dinosaurus di Dufan Berikan Edukasi untuk Anak
- Wow, Ahli Sukses Ungkap Bagaimana Dinosaurus Kencing hingga Kawin
- 'Peliharaan' Dinosaurusnya Bikin Heboh Warganet, 5 Fakta Menarik Mojosemi Forest Park Magetan
Dilansir dari berbagai sumber, pada Rabu (3/7), AKURAT.CO menghimpun 5 penemuan menarik koprolit atau fosil tinja.
1. Penemuan cacing pita pada kotoran hiu purbakala
Cacing pita memang menjadi momok tersendiri bagi manusia modern. Namun apakah kamu pernah berpikir asal-usul cacing pita atau setidaknya kapan hewan ini pertama kali hidup?
Untuk mengetahui hal tersebut, para ahli panteologi serta biologi mencoba mencari dan meneliti koprolit. Pasalnya cacing pita selalu hidup di usus mausia atau hewan dan meninggalkan telur-telur mereka di feses. Alhasil, fosil kotoran pun menjadi satu-satunya cara agar para peneliti bisa mengetahui asal-usul cacing pita.
Setelah selalu gagal menemukan "penampakan" cacing pita pada koprolit dinosaurus, para peneliti berhasil memperoleh keberadaan cacing pita di koprolit seekor ikan hiu yang sudah berusia sekitar 270 juta tahun. Penemuan berharga ini didapatkan oleh ahli paleontologi dari Universitas Rio Grande, Paula Dentzien-Dias, serta timnya di wilayah bagian barat Brasil pada 2013 lalu.
Dari 500 tinja zaman Paleozoic, ada satu koprolit yang mengandung sekitar 93 telur dengan ukuran rata-rata mencapai sekitar 150 mikrometer. Sayangnya, Paula dan timnya belum mengetahui secara pasti jenis hiu yang pernah terjangkit cacing pita tersebut. Setidaknya, para peneliti berhasil menyimpulkan bahwa cacing pita telah mulai muncul dan menjangkiti hewan vertebrata setidaknya sejak beratus-ratus juta tahun yang lalu.
2. Penemuan koprolit hiu menunjukkan kanibalisme antara hewan sudah ada sejak ratusan juta tahun lalu
Para ahli paleontologi lagi-lagi menemukan fakta mengejutkan dari koprolit ikan hiu purbakala yang mereka temukan yakni fakta bahwa perilaku kanibalisme hewan setidaknya sudah berlangsung sejak 300 juta tahun yang lalu.
Pada 2016 lalu, para peneliti tidak sengaja menemukan sampel koprolit dari beberapa fosil purbakala yang mereka temukan di sekitar pesisir pantai di New Brunswick, Kanada. Setelah diteliti, ternyata koprolit tersebut adalah milik seekor hiu purbakala berumur 300 juta tahun dan berasal dari genus Orthacanthus.
Setelah diteliti lebih lanjut, diketahui terdapat sebuah gigi bayi hiu berjenis sama di dalam tinja Orthacanthus tersebut. Para peniliti pun menyimpulkan bahwa perilaku kanibalisme hewan, khususnya memakan keturunannya sendiri setidaknya sudah ada sekitar 300 juta tahun yang lalu.
3. Kotoran purba terpanjang sepanjang sejarah
Pada 2014 lalu, pengunjung pelelangan galeri I.M. Chait, Beverly Hills, Amerika Serikat (AS) dikejutkan dengan display yang tidak biasa. Sebuah koprolit dengan panjang mencapai 40 inchi (102 cm) terpampang jelas di dalam meja kaca display. Alhasil fosil feses itupun dinobatkan menjadi koprolit paling panjang yang pernah ditemukan sepanjang sejarah manusia.
Kotoran purba tersebut juga diketahui berusia sekitar 33 juta tahun yang lalu. Namun, pihak I.M. Chait tidak mengetahui secara pasti jenis dinosaurus apa yang telah membuang koprolit tersebut. Pihak pelelangan hanya menerangkan bahwa koprolit itu ditemukan di sebuah pulau pribadi di Toledo, Washington pada tahun 2012 lalu.
Direktur sejarah galeri I.M. Chait, Jake Chait, memasang harga sekitar USD 8 ribu (Rp113 juta) hingga USD 10 ribu (Rp141 juta) untuk fosil tersebut. Chait berujar bahwa selama 12 tahun mengoleksi fosil-fosil purbakala, kotoran berwarna kuning kecoklat-coklatan adalah yang paling mengagumkan jika ditilik dari ukurannya.
4. Kotoran hewan purba terbesar di dunia
Jika gelari I.M. Chait berhasil memamerkan koprolit hewan terpanjang di dunia, maka Guinness World Records sukses memajang koleksi kotoran hewan purba terbesar di dunia.
Ialah George Frandsen, seorang warga AS pemburu kaprolit yang jadi penyumbang rekor bagi Guinness World Records menjelang akhir 2016 lalu. Frandsen adalah lulusan jurusan ilmu paleontologi yang sangat tergila-gila dengan fosil feses dan telah mengadakan penggalian koprolit di 15 negara bagian AS. Ia menyumbangkan koleksi 1.277 koprolit untuk dipamerkan museum Museum South Florida di Bradenton, Florida.
Dari ribuan koleksinya, favorit Frandsen adalah "Precious" (Yang Berharga), koprolit dengan berat mencapai sekitar 1,92 kg. Precious milik Frandsen diperkirakan berasal dari era Miosen (periode geologi yang berlangsung antara 23,03 hingga 5,332 juta tahun yang lalu).
Koprolit Frandsen diketahui berasal dari badan seekor buaya yang diperkirakan mempunyai ukuran panjang sekitar 6 m. Precious pun dinobatkan menjadi koprolit terbesar oleh Guinness World of Records.
5. Kotoran manusia purba terbesar di dunia
Dr. Andrew ‘Bone’ Jones sukses menemukan koprolit terbesar yang pernah dikeluarkan oleh manusia sepanjang sejarah dunia. Berkat ia dan tim York Archaeological Trust, warga dunia pada Mei 2016 lalu bisa menyaksikan seonggok tinja purba berukuran 7 inchi (17,8 centimeter).
Didukung oleh peneliti lain, Dr. Andrew mengklaim bahwa koprolit temuannya adalah hasil ekresi seseorang dari suku bangsa Viking. Koprolit Viking terbesar tersebut kemudian dijuluki "Lloyds Bank Turd" (Kotorannya Bank Lloyds). Kamu bisa berkunjung ke Museum Jorvik Viking Centre di York, Inggris untuk melihat penampakan fosil ini.
Itulah 5 penemuan koprolit atau fosil feses yang paling mengejutkan dunia. Meskipun terkesan menjijikkan, tetapi koprolit-koprolit tersebut ternyata menyimpan banyak fakta menarik. []