Ir. Priyo Pribadi Sumarno ( Ketua Korps Menwa ITB, Dan Yon I-ITB ke 8, Angkatan ke 8, 1972)
Gejolak kehidupan di Kampus ITB (Kampus Ganesha) dikenal sangat dipengaruhi dan berpengaruh oleh kehidupan politik bangsa. Peristiwa pada tahun 1978 adalah salah satu kisah nyata yang perlu dikemukakan, agar dapat menjadi sejarah bagi yang turut merasakannya dan pelajaran khususnya anggota Yon I yang masih aktif. Batalyon I sebagai bagian dari tubuh ITB yang punya fungsi khusus, dalam rangka mengemban misinya di Kampus ITB dituntut untuk berperan aktif sebagai dinamisator dan stabilisator kampus. Hal khusus ini lah yang bisa membentuk watak dan sifat kejuangan yang diperlukan oleh bangsa dan Negara.
Peristiwa 1978 tidak berdiri sendiri, tetapi dari rangkain-rangkaian kegiatan mahasiswa sejak tahun 1977., Dan menjadi suatu ledakan karena gejolak mahasiswa yang semakin memanas erat kaitannya dengan situasi politik menjelang SU-MPR 1978. Situasi menjadi sangat genting yang akhirnya kampus ITB ditutup oleh militer. Hal itu terjadi sampai dua kali, dimana pada pendudukan kedua telah jatuh korban.
Indikasi situasi politik di Indonesia meningkat di tahun 1978, dimana peran mahasiswa ITB tinggi. Saat itu politik di pimpin /gaet kampus karena suara kampus murni. Kampus bersuara maka politik goyang, sehingga kemudian penguasa ketika itu mengambil langkah politik membungkam kampus, salah satunya ada upaya membungkam kampus-kampus di Indonesia yang menonjol saat itu ITB.
Pada waktu pergantian Dan Yon di bulan Desember tahun 1977, situasi politik sudah terasa menghangat, dan walaupun saya waku itu saya sudah digantikan oleh Agus Daryat sebagai Dan Yon ke IX, tetapi Rek tor Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisyahbana pesan jangan kamu tinggalin ITB, karena situasi meningkat untuk bantu Agus. Saya juga buat laporan tentang perkembangan situasi kepada Rektor.
Dan puncaknya sewaktu keluarnya Buku putih Dewan Mahasiswa ITB (DMITB ) yang ditulis tokoh mahasiswa ITB yang memiliki perhatian politik cukup tinggi. Buku itu membuka keburukan pemerintah dalam hal ini Soeharto, berisi tentang dugaan korupsi dan sebagainya. Kesimpulannya mahasiswa ITB tidak percaya lagi dengan Soeharta dan tidak mau pilih lagi Soeharto, padahal pada waktu itu belum masanya ada pemilu. Gara-gara buku itu mahasiswa seluruh Indonesia merasa ada suatu dorongan yang kuat untuk bersatu, sentralnya ITB. Waktu itu banyak kegiatan dan peringatan nasional yang dilakukan di ITB sehingga banyak mengundang mahasiswa masuk ke ITB, seperti sumpah pemuda, peringatan tewasnya Rene Louis Conrad yang terbunuh tahun 70 an karena kles antara mahasiswa ITB dengan AMN, bukan karena Rene telah berjasa, tetapi peringatan itu dilakukan untuk mengobarkan perjuangan dan menjadi alasan untuk berkumpul. Ada lagi poster selebaran seolah olah dari kampus, tuduhannya begitu . Kegiatan-kegiatan tersebut dianggap menoreh permusuhan pada TNI dan Polri.
Menyebabkan sering ada patroli tentara yang mengitari kampus sebanyak satuan SSK, ada 4 jeep vietnam yang terbuka, berputar, berhenti mengambil poster dan intel-intel yang masuk.
Bulan Januari 1978 situasi terus meruncing. Ketika itu Menwa ITB berperan menjaga agar tidak terjadinya agresi pemerintah atau emosi mahasiswa yang pasti terjadi. Siapapun mahasiswa ITB yang berada di kampus pada waktu kejadian itu, mereka telah melihat dan menjadi saksi bagaimana anggota Menwa Yon I berada teguh di barisan paling depan berusaha menahan masuknya pasukan militer dan mencegah terjadinya insiden pertumpahan darah. Saat itu kita menyatakan, Siliwangi kok tak bersahabat dengan ITB. Kemudian ada rumor kita tidak suka Siliwangi, sehingga Ada isu balasan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) ketika itu punya kekuatan power full, akan masuk kampus ITB.
Mendapat kabar tersebut Dewan Mahasiswa dan Ketua Himpunan ITB merasa terancam, mereka membentuk pertahanan kampus. Jadi terjadi pertahanan kampus di masing-masing himpunan, disitu anggota bataliyon banyak masuk Himpunan Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa ikut membantu mempertahankan kampus, karena untuk menjaga keamanan kampus tidak mungkin dilakukan batalyon sepenuhnya Tiap malam tidak boleh ada yang masuk, kampus dipagari. Yang memberi informasi pada saat itu radio 8-EH ITB. Walau libur tetap membantu menyiarkan. Sistem penjagaan malam dibikin sistem pertahanan seperti k system benteng Jerman, ada alarm, ada lampu sorot, sehingga bila ada gerakan, langsung berbunyi dan lampu langsung nyala. Manwa hanya memberitahu bila terjadi hal yang berlebihan. Kami hanya sebagai bumper.
Pada suatu pagi alarm berbunyi dan lampu menyala, maka semua kelihatan pasukan tempur datang yang dikirim LAKSUSDA (Kujang Yon 330 - Brigief 17), mulai menyusup dari jalan Tamansari dekat Kebon binatang pada jam 4.00 wib pagi, tapi resimen bataliyon sudah jaga di depan pagar pintu utama, kita tak bersenjata, kita hanya menahan pasukan militer untuk tidak masuk agar tidak terjadi pertumpahan darah. Komandan militer datang kita bicara, dan kita sepakat sampai rektor datang.
Setelah di telpon akhirnya rektor datang ke kampus jam 6.00, dan mengizinkan pasukan masuk kampus, karena tidak ada yang menghalangi tentara masuk kampus, karena mereka juga membawa surat perintah. Rektor menelpon panglima, panglima katakan untuk menjaga agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, karena isu AMS akan masuk kampus. Sehingga kalau ada tentara bisa melindungi kampus.
Jam 6.30 mahasiswa yang akan masuk kampus tidak boleh masuk, tetapi yang di dalam boleh keluar. Mereka lihat temennya ada yang di dalam dan tidak tahu apa yang terjadi sempat terjadi kles di depan Mesjis Salman pada jam 08.00, disebabkan sebagian mahasiswa yang ingin menerobos pagar betis berbenturan dengan tentara. Maka Dan Ton 330 Kujang bersama Yon I ( Priyo Pribadi, G Permana, Nugraha dan Alex Yudi) mencoba mengatasi masalah tersebut naik di atas land lover dengan microphone menjelaskan bahwa temen-temen tentara dibolehkan untuk jaga kampus, dan menjelaskan apa yang terjadi. Kebetulan diantara mahasiswa yang di luar ada beberapa anggota Yon I, maka yang bersangkutan kemudian diminta untuk memimpin para mahasiswa guna mencegah unsur pihak ketiga yang berusaha menyulut bentrokan dengan tentara.
Agar kondusif , mahasiswa tidak dibolehkan masuk kampus, tetapi kalau di dalam boleh keluar, dan tidak boleh masuk lagi. Akhirnya disepakati tidak masuk, dibolehkan bikin pos di pinggir kampus. Ternyata bergerak cepat mereka buat posko dalm tempo singkat sudah banyak menampung sumbangan dari masyarakat Bandung. Dan pada siang hari dalam suasana yang mulai kondusif tiba-tiba dikejutkan kiriman 2 truk pick up nasi bungkus dan rambutan yang dikirim ibu-ibu Dharma Wanita ITB.
Akan tetapi rencana militer untuk menduduki kampus dan menangkapi mahasiswa yang demo dianggap gagal, karena TNI ternyata terjalin persahabatan yang selama dua (2) hari, bahkan mahasiswa diajari bongkar pasang senjata. maka pasukan ditarik kembali. Disamping itu sudah ada jaminan dari pimpinan ITB kepada Pangdam Siliwangi bahwa ITB dapat dikendalikan. Penarikan pasukan ternyata justru semakin memanaskan situasi ITB, karena adanya anggapan dan asutan seolah-olah gerakan mahasiswa menang, dan pasukan militer gagal, maka ditarik kembali.
Maka mahasiswa teriak-teriak nyanyikan Indonesia raya di depan pintu masuk ITB, selebaran-selebaran kembali menyebar, radio 8-EH juga makin gencar menyiarkan gerakan mahasiswa. Ibarat “Mabok” kemenangan membuat mahasiswa lengah, tidak menyadari kampus akan diserbu tentara lagi. Tidak sampai sepuluh hari kemudian, di siang hari bolong (sekitar jam 2 siang), bertruk-truk pasukan militer di turunkan di depan Taman Ganesha (dekat barak C), yang dapat dilihat dengan mudah dari posko. Semua mahasiswa yang saat itu berada di depan juga dapat menyaksikan dengan jelas pasukan militer siap tempur membentuk barisan pagar betis . Semua kita merasa seperti dahulu, kita jaga depan, tapi mahsiswa lain gentar karena melihat pasukan siap tempur masuk kampus lewat pintu depan dengan cepat, paling depan Kopasus pake kamuplase, mobil jeep dan truk CPM ikut bergerak masuk.
Yang membuat ragu anak Yon I bila pasukan militer bermaksud mengepung ITB pada waktu itu adalah karena di barisan depan gelar pasukan tersebut pasukan Baret Merah yang sudah kita kenal baik, bahkan diantaranya memang para pelatih kita.
Karena pasukan semakin mendekat, maka salah satu anggota Yon I (Aden S Ottoloewa) memerintahkan para mahasiswa mundur ke lapangan basket. Sementara itu kita (anggota Yon I /ITB) berusaha telpon ke DANMEN Kol. TNI Djoni Abdurachman untuk mendapat pengarahan, namun tidak berhasil. Pasukan militer terus merangsak masuk mendorong kita semua sampai ke lapangan basket, sedangkan kelompok mahasiswa tercerai berai di dalam kampus ITB. Tak ada satupun komandan dari pasukan militer yang dapat dimintai keterangan, dan prajurit-prajurit itu terus bergerak membubarkan .
Sementara itu dalam situasi yang kacau dan panik tidak ada mahasiswa yang diam, mereka berteriak dan protes serta mencoba melawan dengan histeris. Anak-anak Yon I yang berada di lapangan basket membentuk lingkaran dengan berpegangan tangan melindungi mahasiswa lainnya berada di belakang, untuk mencegah bentrokan fisik. Tetapi usaha anak-anak Yon I ditanggapi oleh pasukan dengan menarik satu persatu dan mendorong masuk ke dalam truk tertutup yang sudah di siapkan di dekat lapangan bola yang di jaga CPM.
Jerit tangis dan histeria mahasiswa juga ditanggapi dingin dan tanpa dialog, prajurit militer tetap menangkapi terus, yang melawan terkena popor senjata atau bayonet. Sebagian mahasiswa yang lain sudah berhamburan keluar kampus.
Kami yang ditangkap (mahasiswa dan anggota Yon I) kemudian dibawa ke POMDAM di jalan Jawa, di tempatkan di ruangan aula yang dijaga pasukan bersenjata lengkap. Tanpa dialog, komunikasi atau diskusi, bahkan tidak diperiksa sampai akhirnya dilepas begitu saja pada jam 22.00 wib malam. Malam itu juga kita lapor DANMEN , dan protes atas kejadian dan sikap militer yang tidak menyenangkan tersebut.
Keesokan harinya kami semua baru tahu , bahwa Kampus ITB telah dikosongkan dengan paksa dan siapapun tidak siperkenankan masuk oleh Komandan Militer yang bertugas di sana. Sewaktu saya hendak mengambil motor yang di parkir di kampus , sempat melihat Posko Batalyon I sempat digeledah oleh POMDAM.
Batalyon tidak bisa masuk kampus , karena kampus dan posko dikuasi tentara. Agus Daryat selaku Danyon, kemudian memindahkan Posko ke ruang darurat di Kantor Rektorat ITB di Jl. Tamansari. Koordinasi dengan biro rumah tangga ITB minta dukungan logistic karena ruangan kosong, kita dikasih meja dan dapat makan, 3 x sehari. Kita ikut memantau keadaan kampus. Pada hari yang sama, perintah dari Presiden semua media di beredel tidak boleh terbit. Perintah Pangkopkamtib, mahasiswa di tangkapi, kampus di duduki dan semua kegiatan kampus dibekukan.
Beberapa hari kemudian, ketika ada acara di Aula Barat, saya bertemu dengan Komandan Brigade yang memimpin pasukan pendudukan kampus, yaitu Kol TNI Oyiek Soeroto, disampaikan protes kami kepadanya, yang telah kami kenal sebagai tokoh pendiri Yon Inti. Beliau hanya tertawa dan dengan penuh ke bapakan memeluk serta mengajak memasuki Aula Barat. Kini, kita dapat memahami arti semua peristiwa itu.
Rumah Rektor Diberondong Waktu itu Rek tor Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisyahbana di undang rapat Dirjen Pendidikan Tinggi di Jakarta, bersama pembantu Rektor II Harsono. Pagi-pagi berangkat . tetapi Rek tor tidak boleh masuk, walau tunjuki undangannya. Pernyataan yang muncul saat itu Rektor ITB bukan lagi Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisyahbana, namun belum ditunjuk siapa penggantinta. Harsono boleh masuk rapat karena belum diberhentikan.
Saat Rektor sudah pulang, malam hari kita lihat ada jeep kanvas dan motor keliling. Tak lama kemudian penumpang jeep dan motor turun sambil melepaskan rentetan tembakan . Kita dengar, bahkan lari mau mendekat, tapi Iwan Z G larang takut jadi sasaran tembak. Saat mereka pergi batalyon datangi lokasi kumpulkan selongsongan peluru. Rektor tidak terluka, karena yang diberondong ruangan praktek dokter Ibu Iskandar. Rektor lapor ke Pangdam, batalyon lapor ke Pomdam dengan Mayor Arifin . Kita lapor , siapa pak yang punya peluru ini, Jawabnya aparat, namun tidak ada komentar selanjutnya. . Besok kita tahu di laporkan ke Panglima. Akhirnya kejadian itu tidak diteruskan.
LAHIRNYA G-16 DAN R-17 YON I ITB
Selama kampus di duduki oleh militer tidak ada satupun civitas academica yang berada di kampus. Hal ini juga disadari oleh pimpinan militer, sebab dapat mengganggu jalannya kehidupan ITB yang mempunyai tanggung-jawab terhadap riset-riset dan kegiatan ilmiah untuk kepentingan dunia ilmu pengetahuan. Baberapa karyawan akhirnya diperbolehkan masuk , terutama yang berkaitan dengan labolatorium. Kemudian beberapa pimpinan labolatorium, dekan dan tata usaha jurusan. Mahasiswa tetap belum boleh ,masuk . Mereka bergerombol, dan kadang-kadang naik sepeda motor rombongan meneriakkan yel-yel perjuangan sambil melewati jalan Ganesha.
Anggota Yon I yang berada di ruangan Rektorat ITB telah berhasil mengkonsolodasikan diri walaupun dengan anggota pasukan sangat kecil, tetapi kita merasa punya semangat juang seperti pasukan satu resimen.
Suatu ketika, beberapa anggota Yon I diundang oleh Pak Wiranto (selaku anggota Rektorium ITB) untuk makan malam di rumahnya. Pada waktu makan malam kita diajak berdialog tentang situasi kampus ITB, dan mendiskusikan langkah-langkah yang diperlukan, karena sebentar lagi akan kedatangan mahasiswa baru.
Dalam pengarahannya, Pak Wiranto meminta kepada kita untuk menjadi “jembatan” yang bisa mengambil alih “secara halus” tanggung jawab pengamanan kampus dari militer. Transisi peralihan tersebut tidak boleh menimbulkan gejolak yang dapat merugikan ITB, dan kehidupan kampus ITB harus berjalan normal lagi, tanpa ada yang merasa kalah dan menang. Dia juga memberi pesan “ Kalau kamu sukses kamu tidak di ingat lagi, tetapi jika kamu tidak berhasil kamu yang disalahkan.
Untuk tugas yang berat tersebut ITB hanya mempercayakan kepada Yon I , dan ditekankan pula agar menjalaninya dengan penuh pengabdian, tidak mengenal menyerah dan harus berhasil.
Pak Wiranto bersama DANMEN kemudian menunjuk 16 orang anggota Yon I untuk tugas tersebut, yang kemudian dikenal dengan G-16. Berdasarkan Surat Perintah Rektor ITB No.006/Rek/78 tertanggal 25 Fenruari 78, saya ditetapkan sebagai Dan Team. Selama bertugas ternyata hanya 15 orang yang aktif hadir, karena waktu itu Al Johnet tidak berada di Bandung. Karena itu pada dinding yang ada kolom namanya tidak terdapat baret biru, tetapi tercantel gergaji kayu mencerminkan sikap kita yang siap bekerja , bergandengan tangan seperti gigi gergaji yang tajam, walaupun gergaji tegirsebut tidak lengkap giginya tetap ampuh untuk memotong siapa saja yang berusaha menghalangi tercapainya tujuan ITB.
Tugas pertama berupa penerimaan sarana, fasilitas di dalam kampus ITB satu persatu dari POMDAM kepada ITB, dimulai dari gedung-gedung sampai kamar-kamar unit kegiatan di Student Centre. Radio 8-EH diserahkan kembali tetapi radio transsmitternya sudah tidak ada, padahal waktu itu 8-EH adalah termasuk radio FM yang kuat daya pancarnya.
Sewaktu semua fasilitas sudah diserah terimakan , angota G-16 masih harus menahan diri, karena Posko belum diserahkan. Posko masih dipakai pasukan keamanan yang waktu itu dipimpin Letkol TNI Suryadi Sudirdja. Sehingga Posko G-16 menempati ruangan Telkom dekat Aula Barat.
Tugas kedua adalah membimbing mahasiswa baru di dalam memasuki kehidupan kampus. Mungkin mahasiswa angkatan 1978 pada waktu itu sudah mendengar tentang situasi kampus ITB, tetapi mereka heran sewaktu masuk kampus hanya ada 15 anggota Yon I yang melatih PBB, dan membimbing tentang tata cara mengikuti upacara Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru.
Bisa dibayangkan bagaimana suasana saat itu, dimana mahasiswa senior yang berada di luar kampus berusaha untuk menggagalkan dan mengganggu acara tersebut. maka atas permintaan kami, pimpinan ITB menyetujui tambahan Yon I yang bertugas dengan nama R-17, dengan komandan yang ditunjuk Iwan ZG. Karena semua mahasiswa senior sudah kenal siapa Iwan ZG, maka mereka tidakmau cari “penyakit” dengan mengganggu
mahasiswa baru. Dan akhirnya rangkaian acara Senat Terbuka tersebut dapat berlangsung dengan hidmat dan tertib.
Selama menunggu situasi dan kondisi terbaik untuk serah terima kampus ITB dari pasukkan militer, maka dilakukan konsolidasi G-16 dan R-17, dimana kita memutuskan untuk membuat program Rescue , yaitu mencoba mencari dan menyadarkan kembali anggota Yon I yang selama ini terbawa arus dan memusuhi induk pasukannya. Usaha ini tidak bisa mengembalikan seluruh anggota Yon I kepada keadaan semula, tetapi walaupun kekuatan personil tidak utuh lagi, ternyata semangat juang dan kebanggaan Corps terasa lebih kuat. Kampus ITB dikembalikan pada tanggal 19 April 1978, dan akhirnya G-16 dan R-17 dibubarkan oada 16 April 1978. Kehidupan Batalyon I kembali seperti semula dibawah pimpinan Agus Daryat selaku Dan Yon I ke-9.
ADA USAHA MERUSAK REPUTASI CORPS
Usaha-usaha yang ingin merusak nama Corps dan Mahawarman. Contohnya dalam peristiwa 1978, ada kejadian yang membahayakan kedudukan Yon I. Kejadian pertama pada waktu prolog pendudukan kampus, dimana timbul isu-isu tentang adanya gerakan sebuah organisasi ma ssa yang mau menyerang Kampus ITB. Sedemikian meyakinkannya isu tersebut, sehingga di ITB di berlakukan “jam malam” oleh mahasiswa ITB, dan penjagaan kampus oleh himpunan-himpunan mahasiswa.
Banyak di antara anggota Yon I yang di tempatkan sebagai pimpinan-pimpinan di himpunan tersebut, membuat pertahanan di tempat masing-masing. Kemudian beberapa mahasiswa datang ke Posko menemui saya, dan menawarkan senjata untuk pertahanan kampus.
Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan tawaran tersebut kita tolak, dengan alasan bahwa Yon I sudah cukup terlatih menghadapi situasi tersebut, dan disamping itu kita sudah punya senjata organik di Posko.
Belakangan, setelah kejadian pendudukan kampus, kita semua baru menyadari bahwa ternyata tindakan penjagaan kampus dan jam malam telah membuat ITB menjadi eksklusif dan tertutup, sehingga militer punya alasan kuat untuk dapat menduduki kampus dan menertibkan, serta menormalkan kehidupan kampus.
Yang lebih konyol lagi, keesokan harinya muncul berita di televise, dan media masa lain bahwa di Kampus ITB di temukan senjata-senjata yang di asumsikan anak-anak ITB mencoba membentuk gerombolan liar yang di persenjatai.
Untung lah, yang di temukan oleh Pomdam, pada waktu itu adalah alat intruksi di Posko, berupa senjata genggam, senjata panjang, mortir, beserta peluru-peluru hampa, sehingga dengan cepat hal ini dapat di tangkis oleh kita, bahkan di bela mati-matian oleh Mayjen (Purn) Mashudi yang menyatakan bahwa tuduhan ITB di persenjatai adalah tidak benar !.
Sewaktu itulah kita baru sadar, bahwa tawaran senjata tersebut betul-betul memang pancingan yang di buat oleh sekelompok tertentu yang ingin mengdiskreditkan kita semua sebagai warga ITB dan Ypn I ITB.
Cepat-cepat kita mencari orang-orang yang dulu menawari senjata tersebut, tapi mereka semua sudah lenyap, tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Adalagi suatu peristiwa yang bertujuan merusak citra Corps Yon I, yaitu saat pendudukan kedua, dimana tidak satupun mahasiswa yang berada di Kampus ITB. Pada waktu itu karena ada tugas yang di emban dari pimpinan ITB, beberapa anggota Yon I diperintahkan untuk menjaga Kampus ITB. Hal ini menimbulkan prasangka , seolah-olah Yon I anteknya ABRI yang menduduki kampus. Karena memang terlihat berada di kampus bersama ABRI, sedangkan mahasiswa lainnya tidak boleh masuk, maka beberapa tokoh mahasiswa kemudian membuat suatu acara di depan tiang bendera, dekat Posko untuk membacakan suatu pernyataan yang di antaranya mempertanyakan status Batalyon I Mahawarman. Dari Staff I batalyon kita mengetahui bahwa para pemimpin mahasiswa tersebut di motori oleh anak tambang yang terkenal radikal. Maka kita mulai mengatur siasat, dan Iwan ZG (mantan Dan Yon ke-7) diminta untuk memimpin regu , guna mencegah pembacaan pernyataan tersebut. Iwan ZG mengajak beberapa anggota Yon I yang berasal dari pembacaan pernyataan tersebut. Untunglah hal yang buruk tidak terjadi, dan massa mahasiswa membubarkan diri dengan perasaan bingung. Tindakan Yon I selanjutnya adalah mendatangi Posko dari kelompok mahasiswa tersebut, yang berada di salah satu rumah mahasiswa Tambang, yaitu di jalan Dipati Ukur. Ketika itu saya selaku Dan-16 di damping Abadi Purnomo (S II) dan Sonny Djantika (S III) datang melakukan dialog dengan sekelompok mahasiswa tersebut yang dipimpin W. Tambunan, yang diberi jabatan oleh temen-temennya sebagai Komandan Brigade.
Dialog yang berjalan hangat dan alot dapat kita selesaikan dengan baik, dan telah menumbuhkan saling pengertian antara ke dua belah pihak. Di antara mahasiswa yang berkelompok itu memang terdapat anggota Yon I yang belum mengerti tentang peran dan sikap yang harus dilakukan, sehingga terbawa arus dan ikut menentang kita.
Dalam setiap kejadian semacam ini memang di perlukan anggota-anggota Yon I yang tangguh dan berani mengambil resiko, meskipun dia harus mengorbankan perasaannya di depan teman-teman dekatnya sesame mahasiswa ITB.
Ada lagi satu kejadian yang aneh sewaktu kita semua berada di Posko darurat di Jalan Tamansari (Rektorat ITB). Tiba-tiba salah satu perwira Pomdam mengajak salah satu anggota Yon I untuk melihat kampus. Semula kita ingin ikut, karena sudah lama tidak melihat kampus, tetapi setelah kita tahu bahwa kita harus naik jeep terbuka (ex Vietnam), maka kita menolak ikut. Jeep Vietnam tersebut kita kenal sebagai kendaraan yang di pakai oleh Pasukan ABRI yang patrol di sekitar kampus, sehingga menimbulkan trauma bagi mahasiswa ITB yang melihatnya. Sewaktu kita mengikuti jeep tersebut menggunakan sepeda motor, ternyata kita bertemu dengan sekelompok mahasiswa yang heroic, berteriak-teriak dan menyoraki jeep tersebut. Bisa di bayangkan bila kita berada di dalam jeep tersebut, dan berjalan melewati kelompok mahasiswa tadi. Untunglah kita terhindar dari situasi yang tdak menguntungkan tersebut.
Issu Bubarkan Menwa
Bubarkan MENWA, adalah issue yang selalu terdengar dari sejak masa-masa kelahirannya di tahun enampuluhan. Kelihatannya bukan sekedar karena tidak senang baju hijau di Kampus, atau kesal dengan sikap-sikap jagoan atau semi militer dikampus, tetapi kita harus mewaspadai sikap-sikap anti MENWA tersebut yang terus menerus dipelihara secara konsisten sampai saat ini. Sama dengan para senioren tersebut, saya dapat merasakan, bahwa semua ancaman, tantangan, gangguan dan hambatan tersebut, secara tidak langsung sebenarnya akan mendewasakan kita, asalkan kita tidak larut terbawa emosi.
Mas Joni PS. mengingatkan, bahwa issue bubarkan MENWA pernah di lontarkan oleh DN AIDIT pada tanggal 27 September 1965, persis tiga hari sebelum PKI berontak. Nah, sekarang, siapa saja yang selalu melontarkan issue itu ???? Mari kita cermati semua aksi-aksi anti MENWA tersebut dan tariklah kesimpulan.