Tapi bagi bapak teknologi Indonesia tersebut, justru momen inilah yang telah lama dinantikannya, yakni sejak Ainun Habibie meninggal pada 2010 atau sembilan tahun lalu. Penantian panjang Habibie untuk bersatu kembali dengan Ainun disampaikan anak sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie.
Habibie yang wafat di RSPAD Gatot Subroto pada Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB akibat penyakit jantung yang dideritanya dimakamkan di kaveling 120, tepat di samping makam Ainun yang berada di kaveling 121 TMP Kalibata.
Keinginan Habibie untuk bersanding dengan Ainun pernah diungkapkannya dalam suatu kesempatan wawancara dengan Najwa Shihab. Kala itu dia mengungkapkan alasannya mengizinkan Ainun dimakamkan di TMP Kalibata karena dia tahun di samping kaveling 121 atau kaveling 120 masih kosong.
Baca Juga:
Tempat itulah yang dia incar kelak menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. “Ini satu hal yang menghilangkan duka ini. Mereka sekarang bisa bersatu. Bersatu dalam akhirat, sesuatu hal yang didamba-dambakan oleh bapak semenjak ibu wafat,” ujar Ilham Akbar Habibie.
Ilham sempat mengenang sembilan tahun lalu dengan upacara yang sama dan di tempat yang sama Ainun pergi terlebih dahulu. Dia pun yakin bahwa ke duanya telah bersatu selamanya. “Insyaallah mudahmudahan mereka untuk selamanya bersama. Berdua di sisi Allah SWT, di surga, di akhirat, di alam baka,” tuturnya.
Dia lantas menuturkan betapa dalam cinta sang ayah terhadap ibundanya. Menurutnya, sejak Ainun wafat, Habibie begitu setia berdoa dan berkunjung ke makam. “Bayangkan bapak itu tiap hari tahlilan. Setiap hari Jumat atau lebih ke makam untuk berdoa. Begitu setia bapak dengan ibu sampai wafat.
Dan sekarang pun dikuburkan di sebelah ibu,” ungkapnya. Di matanya, kedua orang tuanya adalah contoh nyata eksistensi sebuah cinta. Baik cinta suami-istri, cinta kepada sanak saudara, cinta pada pekerjaan, cinta kepada bangsa dan negara, serta cinta pada dunia. “Cinta seluas-luasnya. Itu lah bapak, Pak Habibie.