MEDAN, WOL – Masjid merupakan tempat yang sakral bagi umat muslim. Pasalnya, di dalam masjid tidak seorangpun boleh melakukan tindakan buruk, jika tidak ingin mendapat teguran langsung dari sang maha pencipta.
Untuk menjalankan salah satu ajaran agama (sholat, red), umat muslim wajib melaksanakannya di masjid. Meskipun ada juga sebahagian dari umat muslim yang melaksanakan sholat di rumah. Karena dari sisi pahala, sholat di masjid jauh lebih baik jika dibandingkan di rumah. Terlebih lagi dalam pelaksanaanya, dilakukan berjama’ah.
Akan tetapi, bagaimana jika di seputaran masjid banyak praktek-praktek ilegal (pungutan liar,red) yang dilakukan oleh manusia yang tidak takut akan dosa. Bukan mencari pahala yang banyak, dengan bermodalkan buku dan alat tulis, oknum yang tak takut akan dosa ini mengutip sejumlah uang kepada para pengunjung yang datang, dengan alasan uang kebersihan.
Pemandangan itu terjadi, ketika Waspada Online mengunjungi Mesjid Raya Al Mashun di Jalan Sisingamangaraja Medan, Senin (8/2). Ketika awak media hendak masuk ke halaman masjid, tepat di pintu masuk ada dua orang pria paruh baya menghentikan langkah dan mengarahkan para pengunjung untuk mengisi buku tamu. Usai mengisi buku tamu, si pria berujar kepada para pengunjung agar memberikan uang kebersihan se-ikhlas hati.
“Selain tuk sholat di masjid yang punya catatan sejarah ini, kita datang untuk melihat sisa-sisa peradaban kejayaan Bangsa Melayu di eranya. Tapi yang buat kita selaku pengunjung tak nyaman, banyak kali kutipan di areal masjid ini bang. Parkir kendaraan, dan saat masuk di pintu gerbang. Bahkan pas waktu sholat, ada sekelompok anak-anak yang mengarahkan kita agar menaruh sendal di tempatnya berjaga. Habis itu kita bayar lagi jasanya. Ngeri kali kutipan di sini,” keluh Fahmi, warga Kecamatan Medan Denai, usai mengisi buku tamu yang disediakan.
Hal senada juga dikatakan Andri, warga Kecamatan Medan Johor. Ia beserta teman-temannya sangat senang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, khususnya Mesjid Raya Al Mashun. Karena berkunjung ke tempat bersejarah ini, bukan hanya history tentang kebesaran bangsa Melayu yang ia dapatkan. Tetapi kejayaan dan perkembangan agama Islam pada masa itu juga ia rasakan.
“Jadi ibaratnya, wisata religi-lah. Tapi yang buat gak nyaman itu, ya punglinya itu. Parkir kena kutip. Pas mau masuk, meletakkan sendal atau sepatu, pun juga kena kutip. Bahkan saat hendak mengambil air wudhu, ada kotak infak terletak di sisi luarnya. Nah, itu kutipan apalagi. Kalau kebersihannya, kan sudah tadi di depan. Ini apalagi. Di masjid yang ada di Medan Labuhan gak ada kutipan kok. Malah lebih bersih lagi dari sini lokasi sucinya (tempat wudhu),” imbuhnya.
“Setahu aku itu bang, biaya tuk merawat bangunan bersejarah ada dananya dari pemerintah. Jadi uang yang dikutip dari para pengunjung itu buat siapa,” pungkasnya.
Fahmi dan Andri merupakan sebahagian kecil warga Kota Medan yang mengeluhkan banyaknya kutipan yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab di kawasan Mesjid Raya Al Mashun, ketika berkunjung. Hanya saja, mereka (Fahmi dan Andri) mau menyuarakan pendapatnya ke Pewarta, karena tindakan tersebut dianggap kurang etis jika dilakukan di halaman rumah ibadah.
Ke khawatiran mereka juga tidak beralasan. Sebab nama baik masyarakat, bahkan Pemerintah Kota Medan akan tercoreng oleh wisatawan lokal dan mancanegara, akibat tingkah oknum yang memanfaatkan ketidaktahuan pengunjung demi keuntungan pribadi. Disamping itu, Pemko Medan juga dituntut serius mengatasi keluhan-keluhan warga tersebut. Jangan menunggu adanya laporan secara resmi ke aparat yang berwajib, baru pemerintah setempat mengambil tindakan.
Menciptakan Medan sebagai Kota Wisata Sejarah bukan perkara mudah. Butuh kerjasama yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.(wol/mrz/data2)
Editor: SASTROY BANGUN
Discussion about this post