PBB mengatakan bahwa akibat krisis ekonomi dan politik, 3 juta warga Venezuela telah melarikan diri dan bermigrasi sejak tahun 2015. Organisasi Internasional untuk Migrasi dan UNHCR mengatakan, bahwa eksodus itu menekan beberapa negara tetangga, terutama Kolombia. Kolombia melindungi 1 juta warga Venezuela. Selain Kolombia, Peru melindungi lebih dari 500 ribu orang. Ekuador lebih dari 220 ribu orang, Argentina 130 ribu orang, Chili lebih dari 100 ribu orang, Panama 94 ribu orang, dan Brasil 85 ribu orang.
Eksodus warga Venezuela yang melarikan diri dari krisis ekonomi dan politik di tanah air mereka, telah meningkat secara dramatis, mencapai total sekitar 3 juta sejak tahun 2015, PBB telah mengumumkan.
Angka baru tersebut menunjukkan bahwa sekitar satu dari 12 penduduk kini telah meninggalkan negara itu, karena didorong oleh kekerasan, hiperinflasi, dan kekurangan makanan dan obat-obatan.
Tingkat migrasi telah meningkat dalam enam bulan terakhir, kata William Spindler dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), yang menyerukan upaya internasional yang lebih besar untuk meredakan ketegangan pada negara tetangga Venezuela.
Venezuela yang kaya minyak telah tenggelam dalam krisis di bawah presiden sosialisnya, Nicolás Maduro, yang telah berjuang untuk mengendalikan hiperinflasi dan menekan lawan-lawan politik.
Data PBB pada bulan September menunjukkan bahwa 2,6 juta orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, tetapi pemerintah-pemerintah regional sedang berjuang untuk mengatasi dampak kemanusiaan dan politik dari salah satu migrasi massal terbesar dalam sejarah Amerika Latin tersebut.
“Peningkatan utama terus dilaporkan di Kolombia dan Peru,” kata Spindler.
Kolombia melindungi 1 juta warga Venezuela. Sekitar tambahan 3.000 orang tiba setiap hari, dan pemerintah Bogotá mengatakan bahwa 4 juta orang bisa tinggal di sana pada tahun 2021, dengan biaya hampir $9 miliar.
Sekitar 300 pengungsi—yang tiba tanpa apa pun selain yang bisa mereka bawa—telah berkemah di luar terminal bus di Bogotá, ibu kota Kolombia.
Josmelis Lozada (21 tahun), melarikan diri dua bulan lalu bersama suaminya dan putrinya yang berusia enam bulan.
“Ketika Anda tidak dapat menemukan makanan, ketika putri Anda bisa jatuh sakit kapan saja, saat itulah Anda tahu Anda harus pergi,” kata Lozada sambil mendekap bayinya di dadanya. “Tapi di sini kami tidak memiliki pekerjaan, kami tidak memiliki apa pun untuk dilakukan, jadi kami mungkin harus kembali.”
Setelah menjadi pelayan di restoran kelas atas di Valencia—kota ketiga terbesar di Venezuela—dia sekarang menghabiskan hari-harinya dengan meminta uang recehan di luar pusat perbelanjaan.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro memberi isyarat ketika dia berbicara kepada media selama konferensi pers di Istana Miraflores di Caracas, Venezuela, pada tanggal 18 September 2018. (Foto: Reuters/Marco Bello)
Paola Rondón—seorang siswa berusia 17 tahun dari Maracay, sebuah kota di Venezuela utara—bepergian bersama pacarnya ke Kúkuta, sebuah kota di perbatasan Kolombia.
Tanpa uang yang tersisa untuk melanjutkan perjalanan, mereka berjalan 345 mil ke Bogotá dengan harapan menemukan pekerjaan. Mereka saat ini tinggal di tenda darurat, tidur di kasur berkemah yang disumbangkan penduduk setempat.
“Ini adalah perjalanan panjang yang melelahkan,” katanya. “Suatu hari saya berharap dapat kembali untuk menyelesaikan studi saya, tetapi sulit untuk melihat segalanya menjadi lebih baik di sana.”
Maduro menepis angka migrasi PBB sebagai “berita palsu” yang dimaksudkan untuk membenarkan intervensi asing dalam urusan Venezuela.
“Maduro hanya peduli pada dirinya sendiri,” kata Augustín Pérez, pria berusia 51 tahun dari Caracas, yang sekarang berkemah di Bogotá bersama istri dan keempat anaknya. “Dia tidak peduli dengan masyarakat yang tidak punya makanan untuk dimakan… sementara semua kroninya menjadi gemuk.”
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan UNHCR mengatakan, bahwa eksodus itu sedang menekan beberapa negara tetangga, terutama Kolombia.
“Negara-negara di Amerika Latin dan Karibia sebagian besar mempertahankan kebijakan pintu terbuka yang sangat terpuji,” kata Eduardo Stein, perwakilan khusus bersama UNHCR-IOM untuk pengungsi dan migran dari Venezuela. “Namun, kapasitas penerimaan mereka sangat genting, membutuhkan respons yang lebih kuat dan segera dari komunitas internasional.”
Setelah Kolombia, Peru telah menerima jumlah terbesar masyarakat Venezuela berikutnya, dengan lebih dari 500 ribu orang. Ekuador memiliki lebih dari 220 ribu orang, Argentina 130 ribu orang, Chili lebih dari 100 ribu orang, Panama 94 ribu orang, dan Brasil 85 ribu orang.
Tanggapan negara-negara Amerika Latin terhadap krisis migrasi ini, menandai perbedaan yang mencolok dengan upaya pemerintahan Trump untuk menjelekkan karavan yang terdiri dari 7.000 migran—sebagian besar dari Honduras—yang saat ini berjalan melalui Meksiko menuju perbatasan selatan Amerika Serikat (AS), di mana mereka berencana untuk mencari suaka.
Adam Isacson—seorang analis di Kantor Washington untuk Amerika Latin, sebuah wadah pemikir—menulis tweet: “Seorang ahli yang berbicara dengan saya hari ini menunjukkan: bagaimana bisa Kolombia menerima 5.000 orang Venezuela setiap hari, tetapi pemerintah AS panik oleh 7.000 orang Amerika Tengah?”
Para pejabat pemerintah regional akan bertemu di Quito di Ekuador pada tanggal 22-23 November untuk mengoordinasikan upaya kemanusiaan.
Keterangan foto utama: Para migran Venezuela melakukan perjalanan dengan truk di Tumbes, Peru, dekat perbatasan Ekuador, pada 1 November. (Foto: AFP/Getty Images/Juan Vita)