TELENEWS.ID, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) menjalin kerja sama dalam melakukan optimasi penyediaan akses internet.
Perluasan akses internet menargetkan fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) dan daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) di seluruh Indonesia.
Dilansir dari laman Kominfo, Direktur SDA BAKTI Kementerian Kominfo Fadhilah Mathar menyatakan komitmen itu adalah bagian dari tindak lanjut hasil Rapat Tingkat Menteri pada tanggal 28 Agustus 2020 lalu.
“Ditemukenali bahwa salah satu hal urgen untuk dipenuhi terkait percepatan penanganan Covid-19 adalah penyediaan akses internet di fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya dalam Webinar Peranan Telekomunikasi dan Deteksi Dini Stunting pada Anak di Daerah 3T, Selasa (24/11/2020)
Menurut Fadhilah Mathar, ketersediaan akses internet yang lebih meluas akan menunjang proses komunikasi dan pemenuhan data lebih baik lagi. Komunikasi dan pemenuhan data sangat penting untuk pemerintah mengambil kebijakan.
Bicara soal konektivitas, Direktur SDA BAKTI Kementerian Kominfo melihat hal itu menjadi penyebab utama Fasyankes belum maksimal dalam proses komunikasi dan penyediaan data. Juga, menjadi penyebab minimnya pemanfaatan aplikasi kesehatan di daerah-daerah 3T.
“Hari ini kita berdiskusi banyak mengenai 3T, ada yang bilang (3T) harusnya kan tertinggal, terpencil, terdepan, harusnya perbatasan. Tapi saya selalu sampaikan di setiap forum silahkan isi “T” nya ini dengan apapun, “T” Ini adalah mewakili keterpencilan atau minoritas,” tuturnya.
Fadhilah Mathar menilai tidak perlu memperdebatkan kata “T” yang terkait dengan daerah yang belum tersentuh akses internet. Hal ini karena BAKTI terus berkomitmen mewujudkan pemerataan akses internet di seluruh Indonesia.
Di kesempatan yang sama, Fadhilah Mathar mengapresiasi para tenaga kesehatan, khususnya dokter yang mengabdi di tempat yang memiliki kerumitan masalah yang berbeda-beda.
Mencegah Stunting
Fadhilah Mathar mengatakan permasalahan besar yang masih harus diprioritaskan adalah stunting. Pasalnya, persoalan stunting erat berkaitan dengan ketersediaan akses internet dan program stunting.
Sejak adanya pembangunan akses internet di desa Sonimanu, salah satu pernyataan yang melegakan adalah karena adanya arus informasi dari pusat ke daerah pelosok melalui akses internet.
“Misalnya ketika tenaga kesehatan bisa dengan cepat memperoleh informasi dari Kementerian Kesehatan mengenai pembagian abon ikan untuk melengkapi gizi anak-anak, pengisian berbagai macam formulir dan pengiriman ke Dinas-Dinas yang lain juga menjadi semakin cepat,” ungkap Direktur SDA BAKTI Kementerian Kominfo.
Mengacu pada analisis dari BAKTI Kementerian Kominfo, masih ada 2.941 Fasyankes di seluruh Indonesia yang hingga kini belum tersentuh jaringan infrastruktur internet. Pun jika ada, kualitasnya yang masih sangat kurang dan tidak stabil.
Menurut Fadhilah Mathar, komitmen menyelesaikan layanan akses internet untuk Fasyankes didorong oleh penambahan alokasi anggaran oleh Kementerian Keuangan guna akselerasi konektivitas internet di tahun 2020.
Selain Direktur Fadhilah Mathar, webinar tersebut juga dihadiri dr. Sutrisno Tambunan yang mengabdi di Desa Semunad Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Sumber Waras Jakarta dr. Tjandraningrum, serta Dokter Spesialis Anak RSUD Sele Be Solu Kodya Sorong Papua Barat Dr. Sri Riyanti Windesi.