Berdasarkan data dari Bank Indonesia, 90% masyarakat Indonesia masih menggunakan tunai dalam melakukan transaksi keuangan. Sedangkan, hanya 10% masyarakat Indonesia yang sudah melakukan pembayaran digital secara aktif. Mengubah pola pikir masyarakat untuk beralih dari tunai ke cashless, menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan keuangan berbasis digital yang ingin mengenalkan digital payment sebagai produknya.
Ini pernah dialami oleh salah satu perusahaan penyedia jasa keuangan digital, OVO. Satu tahun setelah resmi diluncurkan pada September 2017, OVO mengalami beberapa tantangan yang harus dihadapi. Tantangan terbesar yaitu membangun kedekatan masyarakat untuk menggunakan layanan digital payment.
“Orang begitu mendengar cashless, mindset-nya belum berubah. Cash is still king. Kemudian, tidak semua orang memiliki rekening di bank, ketika orang-orang ini dikenalkan dengan layanan digital payment mereka akan bingung. Saat ini yang mungkin orang banyak tahu tentang digital payment yaitu hanya sebatas penggunaan E-Money (Electronic Money) untuk bayar tol atau berbelanja di toko,” jelas Direktur OVO, Johnny Widodo ketika ditemui Job-Like Magazine.
Cara pertama yang dilakukan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat agar beralih menggunakan digital payment yakni dengan meyakinkan benefit yang akan mereka dapatkan. Misalnya, memberikan poin atau reward pada setiap transaksi dengan menggunakan OVO sebagai dompet digital.
Baca Juga: Fakta Unik tentang Tren Digital Payment di Indonesia
Setelah berhasil mendapatkan perhatian masyarakat, kerja keras tetap dilakukan untuk membangun ekosistem yang terdiri dari adanya supply, merchant, dan demand/customer. Hal ini dilakukan untuk membangun engagement terhadap konsumen. Dengan terbangunnya ekosistem digital ini, diharapkan masyarakat akan familiar dengan transaksi pembayaran digital.
“Ketika kita mengeluarkan produk, yang harus diperhatikan adalah bagaimana membangun ekosistem ini di masyarakat. Jadi, kita sediakan merchant–merchant yang dapat melayani penggunaan layanan OVO. Percuma kalau merchant-nya tidak ada atau tidak bisa melayani, masyarakat juga tidak bisa menggunakan, kan? Kemudian kami juga terus membangun use case-nya. Bagaimana aplikasi ini bisa digunakan untuk segala kebutuhan masyarakat. We need to build that,” sambungnya.
Satu tahun sejak kelahiranya, OVO kini dapat digunakan di lebih 150 ribu merchant dengan melibatkan 60 juta pengguna. Untuk memperkuat ekspansinya, OVO melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya menjalin kerja sama dengan Tokopedia untuk menggunakan OVO dalam sistem pembayaran e-commerce. Dalam kerja sama ini, ada sekitar 80 juta pengguna Tokopedia yang diprediksi akan terlibat.
Di Balik Booming-nya Aplikasi Digital Payment
Tahun 2015, OVO mencoba menyapa pasar Indonesia untuk memperkenalkan diri sebagai aplikasi digital payment. Setelah launching, OVO terus membangun jejaring dengan melakukan kunjungan dari satu kota ke kota lain di Indonesia. Di balik itu, ada sosok leader dan tim yang saling bersinergi satu sama lain.
Menurut Johnny, menyampaikan visi yang jelas kepada tim merupakan hal yang pertama untuk membangun teamwork yang solid. Leader juga seharusnya menunjukkan contoh kerja kepada timnya, dengan kerja nyata bukan sekedar instruksi.
“Menjadi seorang pemimpin nggak bisa ngomong doang, harus benar-benar gulung lengan baju dan kerja. Satu tahun ini saya melakukan 300 perjalanan untuk apa? Membangun tim, bertemu dengan merchant, menjalin partnership, dan sebaganya. Dengan menunjukkan hal itu, harapannya tim kami akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama demi mencapai visi bersama. Sebagai tim kita perlu untuk berkolaborasi dan belajar dari kesalahan. Sebagai pemimpin saya berusaha untuk membangun pendekatan dengan tim seperti mentor dan mentee,” ungkapnya.
Berkembangnya teknologi, melahirkan banyak pebisnis digital yang ingin memberikan kemudahan untuk melakukan transaksi keuangan digital. Menjamurnya pemain layanan jasa digital payment ini, ditanggapi positif oleh Johnny. Menurutnya, munculnya kompetitor bisa dimaknai secara positif, yaitu bersama-sama mengedukasi masyarakat untuk lebih mengenal transaksi secara digital.
“Sisi positifnya bisa sama-sama mengedukasi cashless ke masyarakat. Makin banyak yang tahu, makin banyak yang mengerti. Jadi, kita bisa saling melengkapi antar kompetitor untuk menjadikan ekonomi Indonesia lebih baik. Apalagi ada prediksi bahwa akan ada 60 juta pemain UKM yang bisa ikut berpartisipasi di dunia digital payment. As we grow, as we moved to different city, as we build partnership, I think we proof to the society that we are going in, we are going big, and going bigger. We really trying to make a cashless society in Indonesia,” tutupnya.