Bambang juga menyoroti peristiwa terkait FPI lainnya, yakni baku tembak polisi dengan laskar FPI yang menyebabkan enam anggota laskar FPI tewas. Bambang menilai polisi telah menunjukkan upaya untuk transparan.
"Terkait penembakan, upaya untuk terbuka sudah dilakukan oleh kepolisian. Hanya, itu tidak meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan karena terkait dengan logika dan SOP penerapan kekuatan kepolisian yang menewaskan enam korban," tutur Bambang.
Bambang kemudian berbicara perihal tewasnya empat laskar FPI di dalam mobil kepolisian. Dia berharap polisi mampu memberikan penjelasan yang dapat menjawab keraguan publik.
"Saya melihatnya ada dua kasus. Pertama dua orang yang tertembak di lapangan hal yang wajar, karena versi kepolisian, mereka dihadang dan terjadi tembak-menembak. Ketika di Km 50 kan ada empat tersangka masih hidup, petugas hanya tiga, itu jelas tidak proporsional," ungkap Bambang.
"Bagaimana tiga petugas mengamankan empat orang yang menyerang mereka, dengan tidak disertai borgol. Seharusnya petugas bisa menghubungi satuan terdekat untuk menambah jumlah kekuatan sebelum memasukkan empat orang itu ke dalam mobilnya. Sesuai Perkap 1 Nomor 2009 tentang penggunaan kekuatan polisi, SOP-nya penggunaan kekuatan itu harus disertai dengan aturan yang terkait dengan proporsional, preventif," imbuh Bambang.
(aud/fjp)