”MANGGA bareng-bareng ngrasakna perih ati, kanthi njoget lan ngguya-ngguyu karo Lord Didi Kempot”. Kalimat itu tertuang jelas dalam sebaran poster peringatan hari lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli lalu. Unik, partai dengan napas Islam yang kuat itu justru menghadirkan lagu-lagu patah hati berbahasa Jawa ala Didi Kempot dibanding tadarus dan salawatan.
Nama Didi Kempot akhir-akhir ini menjadi trending topic di media sosial lewat julukan baru yang disematkan kepadanya: The Godfather of Broken Heart atau Bapak Patah Hati. Lord Didi, begitulah anak-anak muda milenial memanggilnya.
Hampir semua lagunya berkisah tentang asmara, terutama pengkhianatan kekasih, tak mampu melupakan mantan, tak dapat move on, tak rela berpisah, rindu tak berbalas, dan sebagainya. Sebagaimana dalam seruan poster tersebut, patah hati yang sering kali berujung tangis dan air mata justru diubah menjadi nyanyian yang enak untuk dijogeti sambil tertawa.
Lagu-lagu Didi Kempot menjelaskan arti kebersamaan dalam kesedihan, menertawakan kepiluan hati, dan berjoget dalam kegalauan. Dengan kata lain, patah hati yang lekat berakhir kesendirian dan kemurungan haruslah dirayakan secara kompak dan serempak.
Campursari
Lagu-lagu Didi Kempot pada awalnya banyak dibawakan dalam format campursari. Sebuah genre musik akar rumput yang hidup dan berkembang di sudut-sudut kampung. Salah satu ciri khasnya adalah ”membenturkan” dua wilayah musikal yang berbeda, musik pentatonik (gamelan) dan diatonik (musik Barat).
Kemunculan campursari menimbulkan polemik. Tidak sedikit yang mencibir dan menyebutnya sebagai musik tak berkelas. Rahayu Supanggah lewat tulisannya berjudul Campursari: a Reflection (2003) menyindir ketidakjelasan campursari karena berisi saduran-duplikasi berbagai macam jenis musik, dari gending gamelan, pop, rock, keroncong, hingga dangdut. Terlebih bagi telinga kalangan intelektual musik, akumulasi bunyi yang dihasilkan dari campursari dipandang sangat timpang (fals). Ditandai dengan tidak samanya ukuran frekuensi antara bunyi gamelan dan musik Barat. Tapi nyatanya, campursari justru tumbuh subur, digemari dan menjadi musik idola kaum muda.
Lirik berbahasa Jawa pada mulanya juga membikin resah, dengan meniadakan struktur baku dalam bercakap, alias gado-gado. Bahkan tidak jarang dicampur aduk dengan bahasa Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat lagu. Tapi, apa mau dikata, peristiwa itu justru menjadi satu kenyataan yang genuine, temuan monumental, berupaya membebaskan bahasa Jawa dari beban-beban kulturnya.
Lirik-lirik berbahasa Jawa ala Didi Kempot mudah dicerna, tak butuh tafsir yang membikin dahi mengerut selayaknya karya sastra (serat) dalam tembang-tembang lama. Wening Widyowati lewat Citraan Personifikasi Lirik Lagu Campursari dalam Album Emas Didi Kempot (2013) menjelaskan bahwa gaya bahasa Didi Kempot memiliki efek imajinatif yang tinggi. Kesederhanaan bahasa mendekatkan makna-arti lirik lagu kepada publik, kemudian memancing terjadinya keterlibatan emosional yang intens, sehingga pendengar merasa tidak berjarak atau tanpa sekat dengan lagu-lagu itu. Artinya, lagu-lagu Didi Kempot adalah cerminan suara hati yang sesungguhnya, lahir tanpa tendensi berlebih, dan mewakili rintihan batin kaum milenial yang mendamba kegalauan sebagai lakon hidup.
Apabila kesedihan dan kemurungan hanya dapat dinikmati lewat kesendirian, maka dengan menyanyikan dan mendengarkan lagu-lagu Didi Kempot, ada keinginan untuk ”merayakan” duka lara. Dan lebih jauh sebentuk ”ruang detoksinasi” berujung penguatan pada batin yang remuk redam karena cinta.
Di hadapan lagu-lagu Didi Kempot, generasi masa kini mengidentifikasi dirinya dengan sebutan-sebutan yang melankolis, misalnya Sobat Ambyar, Sad Boys, Sad Girls, atau Pencecap Rindu Peternak Luka. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan lirik musik Didi Kempot mampu membentuk subkultur kategori baru di balik begitu gandrungnya generasi masa kini pada budaya pop ala Korea.
Kembali meroketnya lagu-lagu Didi Kempot yang boleh dikata lawas menjadi penanda sebuah siklus bahwa ada upaya untuk ”mendaur ulang” masa lalu, merindukan kenangan, dan kembali pada habitus tradisi. Musik ibarat sebuah lintasan rel kereta api. Pada satu titik ia akan terlewati dan ditinggalkan, tapi pada titik yang lain akan kembali dilalui, begitu seterusnya.
Beberapa waktu lalu karya Didi Kempot tak ubahnya lagu-lagu campursari kebanyakan, tapi belakangan menemukan momentumnya, menjadi begitu bergemuruh untuk didendangkan. Lewat Lord Didi, patah hati adalah sebuah keniscayaan yang harus diluapkan lewat nyanyian, membentuk dunia baru, dengan lembut menampung dan menyatukan kembali gejolak hati kaum muda militan yang hancur berkeping-keping (ambyar). Terlebih saat lagu-lagu itu berafiliasi dengan dangdut koplo, kesedihan itu tak akan bermakna tanpa gerakan. Air mata boleh menetes, tapi tubuh harus tetap bergoyang.
Sedikit demi sedikit, format campursari yang lekat dengan karya-karya Didi Kempot mulai ditinggalkan, berganti menjadi versi tunggal bernama ”dangdutan”. Peristiwa itu juga menjadi kritik bagi mandeknya kreativitas berdangdut, dengan tak munculnya lagu-lagu baru yang segar hari ini. Lagu-lagu dangdut kini lebih khusyuk memoles karya-karya lampau, tapi berujung kemonotonan yang membosankan.
Pada akhirnya, karya-karya Didi Kempot hadir sebagai oase, tidak hanya bagi denyut kehidupan musik (dangdut) bernuansa Jawa, tapi juga berupaya memberikan pelukan hangat dengan membasuh air mata dari tangis tersedu sedan kaum kiwari. Sebagaimana lirik lagu Sewu Kuto (1998): wis takcoba nglalekake, jenengmu saka atiku, saktenane aku ora ngapusi, isih tresno sliramu. Aduh, ambyar! (*)
Aris Setiawan, etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta