Musim Kemarau Panjang Mata Air Butu Mengalir
Cuaca Lekobalo Kota Gorontalo siang itu mendung, langit sudah agak gelap pertanda akan turun hujan, Sabtu (22/12/12).
Hanya saja, untuk menuju lokasi harus menuruni anak tangga yang tidak sampai ratusan jumlahnya, karena memang berada di dataran rendah, dekat menyatu bersama hamparan Danau Limboto serta berdekatan persis samping Mesjid Jami al Istiqamah.
Ada dua pintu keluar masuk mata air Butu, di samping kiri dan sisi kanan. Untuk pintu bagian kanan, turunan anak tangga agak sedikit ekstrim, sangat menjorok ke bawah, bila tidak berhati-hati akan beresiko jatuh atau kaki terkilir.
Tapi sayang, masuk di abad milenium ini, kondisi jumlah penduduk perkotaannya yang bertumbuh, volume mata air tersebut pun ikut terancam karena sifat buruk manusianya itu sendiri. Mancuran air dari dalam tanah sudah mulai berkurang, seakan takdir hembusan hidup dari mata air Butu tinggal ‘separuh nafas’.
Ditemui, Karim Laiya (61), Ketua Adat Kecamatan Kota Barat, yang sedang bersantai duduk ditemani segelas air putih di kediamannya menyempatkan penjelasan bahwa, mata air Butu sudah tidak seperti jaman dahulu kala, yang airnya itu begitu melimpah sekali.
“Dulu kalau masuk musim kemarau, tinggi air kolam mata air Butu setinggi pinggang orang dewasa, tapi sekarang cuma setinggi lutut orang dewasa,” ungkapnya dengan sesal.
Berkurangnya pancuran mata air tidak terlepas dari ulah manusianya itu sendiri, yang enggan mengakrabkan diri terhadap nilai kelestarian alam sekelilingnya. Bandingkan katanya, di era tahun 1720 Lekobalo masih hutan belantara, masih ditumbuhi banyak pepohonan rindang menghijau. “Jalan masih setapak, belum ada jalan besar dan beraspal seperti sekarang,” tuturnya.
Usut punya usut, leluhur warga Lekobalo itu bernama Langkangio Laiya. Orang inilah yang pertama kali menjadikan Lekobalo jadi kampung pemukiman penduduk. Dulu baru hanya Langkangio Laiya yang membuat rumah dan belum ada mesjid seperti sekarang. “Kami anggap sebagai dotu, orang yang dituakan, sebagai kakek keturunan kami,” katanya.
Kualitas sumber mata air Butu tergantung dari alam Gunung Hutiaditi yang artinya rotan kecil. Apabila keberadaan gunung tersebut gundul rusak, maka mata air Butu tidak akan lagi bisa produksi air mineral. “Kami warga disini harus bijak, pandai-pandai menjaga kelestarian alam gunung,” tegas Karim.
Tapi rupanya gelombang pertumbuhan penduduk mengorbankan kondisi Lekobalo yang secara administrasi pemerintahan berstatus sebagai kelurahan. Pohon-pohon besar yang berdekatan dengan kumpulan mata air Butu juga sudah hilang, ditebang untuk lokasi pemukiman, padahal pohon besarnya berfungsi untuk pertahankan pasokan air tanah yang melimpah.
“Dulu ada pohon-pohon besar. Seperti pohon Mangga, Mengkudu, dan Alongbango di tepian kumpulan air. Pohon ditebang jadi rumah-rumah,” ungkap Karim yang merupakan mantan lurah Lekobalo periode 1991 hingga 2003 ini.