Reportase : Lathifah Inten Mahardika
Peserta GPYIA 2016
fafavoice09@gmail.com
MENJADIKAN keluarga sebagai tempat untuk belajar dan membangun cinta; membangun kerjasama antarsesama suku; mendorong budaya untuk melayani orang lain.
Tiga pertanyaan utama itu mengemuka di ajang Global Peace Youth Interfaith Assemby (GPYIA), Selasa (8/3/2016) yang digelar di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Peserta dan pembicara yang hadir dari beragam latar belakang meyakini, perdamaian tidak akan pernah terwujud, jika negara masih terjangkit kemiskinan.
Global Peace Index tahun 2015 mencatat Indonesia ada di urutan ke-46 sebagai negara damai. Posisi pertama ditempati Ice Land, negara kecil dengan pendapatan 52.967 dollar AS per kapita ini dianggap lebih damai dibandingkan Indonesia dengan ideologi Pancasila yang berasaskan nilai-nilai perdamaian. Demikian paparan Chandra Setiawan, Chairman of Global Peace Foundation.
Seperti halnya Chandra, James Poon, International Partnership Officer, Global Peace Business Council menambahkan: one family under God. Rasakan segala tempat adalah rumah, sehingga kita bisa merasa bebas dan mampu menguasai diri sendiri untuk memecahkaan persoalan yang ada, bukan hanya menjadi pemimpin daerah atau negara tapi menjadi pemimpin global, ujarnya.
"Saya yakin Indonesia bisa, Indonesia itu unik dan merupakan contoh model perdamaian," yakin Poon.
Selanjutnya, tiga pemateri, Romo Carolus (founder Forum Persaudaraan Umat Beriman/penerima Maarif Award 2012), Achmad Murtafi Haris (dosen Fakultas Dakwah UINSA), Ongky Setio Kuncono (ketua bidang agama Majelis Tinggi Agama Konghucu), dan Choirul M. Marsahid (penulis buku Pendidikan Multikultural dan Peace Generation Trainer) sebagai moderator.
Ketiga pemateri berbagi pegalaman hidup damai dengan berbagai suku, agama, dan ras berbeda namun tetap hidup rukun tanpa pertikaian. Selanjutnya, Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang dihadirkan mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk kembali pada Pancasila sebagai ideologi bangsa.