Kalau saya membuat daftar "Hal-Hal yang Jauh Lebih Gampang Diomongin Dariapda Dilakuin", sudah pasti saya akan memasukkan "membantah hoaks di grup keluarga"pada urutan teratas (bersanding dengan melakukan trik ollie di Skateboard). Saya cukup beruntung karena grup WhatsApp keluarga saya lumayan sehat. Jika ada informasi hoaks atau bahkan masih simpang-siur, anggota keluarga yang lain sudah langsung saling auto-correct memberikan bantahan atau informasi validnya. Jadi bisa dibilang saya minim pengalaman tentang meluruskan hoaks di grup WA keluarga. Namun saya paham betul, bagi banyak dari kamu, membicarakan tentang hoaks yang bersirkulasi dengan bebasnya di grup-grup WA keluarga sangat relatable dan mungkin adalah salah satu permasalahan era digital generasi kita.
Me-debunk hoaks di grup WA keluarga kedengarannya memang mudah, jika ada informasi yang tidak benar dibagikan oleh salah satu anggota keluarga, kita tinggal membantahnya dengan memberi informasi yang benar bin valid dan dibagikan ke grup yang sama? Bukan begitu kisanak? Memang begitu, tapi dalam prakteknya, tidak semudah itu.
Rasa gak enak saat ingin membantah anggota keluarga yang lebih tua tentunya selalu menghantui saat ingin meluruskan hoaks di grup. Entah "adat ketimuran" yang bisa kita salahkan atau mungkin upbringing unggah-ungguh didikan dari kecil, tapi rasa gak enak itu adalah resistensi terbesar bagi generasi yang lebih muda--yang sering kali lebih melek informasi--untuk membantah hoaks dari generasi di atasnya. Belum lagi bagi beberapa yang berhasil melewati tembok tebal bernama "gak enak" itu, ego generasi tua yang terluka karena dikoreksi yang lebih muda kadang bermaterialisasi melalui respon yang sungguh tidak enak dan membuat kita enggan mencoba lagi.
Namun tidak dengan Fifi. Sahabat saya dari zaman kuliah ini beberapa kali share tentang petualangannya me-debunk hoaks di grup WA keluarga besarnya. Tidak hanya sekali dua kali, Fifi konsisten memberikan bantahan terhadap hoaks dan disinformasi yang bermunculan di grup. Sayang (spoiler alert), pada akhirnya dia malah di-kick dari grup. Bagaimana itu bisa terjadi? Di sela-sela kesibukannya kuliah magister secara online, berjualan pastry (yang enak banget kamu harus coba), dan share meme ke grup LINE khusus meme kami, Ia berhasil saya ganggu untuk menceritakan hari-hari heroiknya sebagai debunker hoaks grup WA keluarga.
Di Grup WA mana yang hoaksnya sering kamu bantah? Ada siapa aja di sana?
Grup WA keluarga besar, tapi sebenernya itu nggak langsung sih (jadi itu kakaknya nenek, karena kakek-nenek udah gak ada, jadi masuk grupnya ke grup itu somehow). Isinya keluarga jauh dari pihak bapak, kebanyakan tua-tua (kakaknya nenek + suaminya dan anak-anaknya. Jadi kayak om tante gitu). Anak mudanya yang segenerasi sama aku sedikit, gak sampai 10 orang.
Inget gak pertama kali membantah hoaks itu kapan dan topiknya tentang apa?
5 Desember 2018, kayaknya udah lama masuk tapi baru waktu itu memutuskan buat ngebantahin hahaha. Soal buah-buahan produksi Thailand yang 200 orang pengidap AIDS kerja di pabrik pengalengan buah, juga tentang wabah kanker otak dan diabetes karena minuman sejenis Extra Joss, Kratingdaeng, dsb (jadi [dua hoaks itu] ada dalam satu broadcast)
hoaks pertama yang dibantah Fifi di grup.
Biasanya gimana cara kamu ngebantahnya?
Awal-awal ngasih intro ngejelasin kalo itu hoaks + ngasih link klarifikasi dari situs berita/grup Indonesian Hoaxes. Lama-lama keseringan langsung reply pake link klarifikasi + potongan beritanya yang bilang kalo itu hoaks, karena pasti link-nya gak dibuka hahaha.
Apakah menurut kamu cara itu efektif?
Efektif sih karena sempet ada periode nggak nge-share hoaks lagi di grup tapi kayaknya bukan gara-gara merasa kalo itu salah tapi males diklarifikasi di depan umum aja. Eh, jadi sepertinya kalo ke yang bersangkutan nggak efektif, tapi ke orang lain di grup jadi tahu kalo itu hoaks dan dijadiin bahan klarfikasi di grup mereka yg lain.
Emang gimana sih biasanya tanggapan orang yang kamu bantah?
Marah dong! Bilangnya cuma tidak mau terjadi ke keluarga dan cuma meneruskan buat jaga-jaga, tapi lebih sering denial bilang kalo sumbernya terpercaya karena dapet dari atasannya atau orang yang dianggep lebih powerful dari dia.
Kalo tanggapan anggota grup lain gimana?
Dibelain orangtua sama kakaknya ortu (pakde-pakde), tapi anaknya yang penebar hoaks biasanya ngebelain ibunya balik hahaha. Karena gak terima kalo diklarifikasi di depan umum.
Hoaks apa yang paling absurd yang pernah ada di grup WA keluargamu?
Hoaks yg pertama tadi yang pengidap AIDS masukin darah ke buah kalengan :))
Apa sering membantah anggota keluarga di grup WA berimbas ke hubungan kamu dengan mereka di dunia nyata?
Kalau pas kumpul keluarga besar disindir-sindir, dibilang ahli IT jadi bikin takut ngomong dsb. Sering juga gitu malah dijulidin "mentang-mentang ortunya sekolah tinggi", "mentang-mentang lagi S2", dibilang sok lah, hadeeeh ya monmaap. Terus tiap yang bersangkutan share sesuatu selalu disindir dibilang "semoga bukan hoaks" :))
Katanya akhirnya kamu di-kick juga dari grup itu, gimana ceritanya tuh?
Sebenernya bukan di-kick, tapi ortuku gak terima karena disindir terus kayak tadi itu, akhirnya disuruh left aja.
Contoh sindiran yang diterima Fifi dan detik-detik Fifi keluar dari grup.
Tips buat yang ingin membantah hoaks grup WA keluarga juga dong
Bawa link kredibel, orang tua biasanya males, langsung screenshoot atau highlight bagian klarifikasinya setelah nyertain link, jangan lupa bilang itu hoaks dari tahun berapa (buat bukti kalo itu udah lama dibantahnya).
Kalau kamu ditawarin dimasukin lagi ke grup dengan syarat harus behave dan gak banyak bantah, kamu mau gak?
Sebenernya mau buat bahan hiburan, tapi gak dibolehin sama ortu hahaha!
Nah kira-kira begitulah gambaran perjuangan Fifi dalam membantah hoaks di grup WA keluarganya. Menurut saya sih penting untuk membantah hoaks saat kita menemukannya di manapun, termasuk di grup keluarga, sebelum hoaks itu makin bergulir liar dan dipercaya lebih banyak orang.
Sebenarnya permasalahan hoaks di grup WA keluarga bukan cuma permasalahan empiris yang akarnya adalah ketidaktahuan sehingga bisa diselesaikan hanya dengan menyuguhkan fakta yang valid. Tidak sesederhana itu. Sering kali walaupun fakta sudah terpampang di depan bola mata, tetap saja para terduga penyebar hoaks ini menolaknya dan tetap kekeuh memilih realitasnya sendiri. Kecenderungan untuk gullible dan mudah mengimani sumber-sumber "dari grup sebelah", menolak informasi dari sumber yang lebih valid, ditambah menyepelekan para ahli di bidangnya menjadikan masalah hoaks grup WA lebih tepat dikategorikan sebagai komplikasi penyakit dalam ranah psikologi dan sosial. Di tahun 2017 saya juga pernah menulis tentang salah satu alasan orang pintar sekalipun bisa termakan hoaks.
Mungkin orang yang membagikan hoaks tersebut tidak akan langsung menerima bahwa dia salah, atau bahkan mengelak, berlindung atas nama "niat baik untuk jaga-jaga" dan berbagai alasan lainnya, tapi setidaknya dia jadi tahu kalau apa yang dia lakukan, bisa menimbulkan bantahan. Setidaknya ada bibit-bibit doubt yang tertanam di benaknya, sehingga ketika lain waktu dia mau share sesuatu lagi, mungkin dia akan mikir "ini bakal dibantah juga gak ya?". Ini juga penting untuk memberi pelajaran--jika tidak ingin dikatakan peringatan--kepada anggota grup lain kalau apa yang mereka share juga harus terverifikasi kebenarannya.
Tidak instan memang efeknya, dan tentu saja tidak mudah serta membutuhkan effort tinggi, tapi dibutuhkan. Mungkin debunker hoaks di grup keluarga sudah pantas disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di era digital. Gimana menurutmu? Apa kamu juga punya pengalaman ngelurusin hoaks di grup WA keluarga? Ceritain dong!
***
Reference:
Thumbnail photo by Rachit Tank https://unsplash.com/photos/lZBs-lD9LPQ
Masih ada yang inget gak, Twitter itu makhluk media sosial jenis apa? Media sosial untuk berteman? Jelas bukan, karena Twitter encourage kita untuk follow apa yang menarik buat kita, bukan follow teman-teman kita di real-life (makanya, jangan baper kalau cinta monyetmu waktu SD menolak untuk followback). Media sosial untuk jualan? Walau banyak yang meminta Twitter mengeluarkan "ilmu magisnya" untuk membantu mendatangkan penglaris lewat tweet-tweet setengah mengemis "twitter do your magic", tapi jelas itu bukanlah intensi utama Jack Dorsey dkk membidani lahirnya Twitter ke dunia.
Twitter adalah media sosial berbentuk microblog, dimana kita bisa menuangkan pikiran kita dengan sangat singkat yakni dalam 280 karakter (dulu 140 karakter). Twitter membanggakan dirinya sebagai media sosial yang paling up-to-date dan gercep mengabarkan sesuatu yang sedang terjadi di dunia. Kalau ingin tahu peristiwa apa yang sedang terjadi di dunia, Twitter adalah go-to platform untuk itu, bukan Facebook, Instagram, atau TikTok.
Si burung biru dari awal memang dirancang seperti itu, sebuah tempat untuk ngomongin hal yang sedang happening. Itulah sebabnya ketika kita ingin menulis tweet, Twitter bertanya "What's happening?" alih-alih "What's on your mind?" seperti yang Facebook tanyakan ketika kita ingin menulis status.
Ya, memang pada akhirnya Twitter berhasil menjadi tempat dimana kita bisa mendapatkan kabar secara realtime tentang suatu peristiwa. Karena nature microblog-nya, orang-orang jadi "ringan jari" untuk update apa saja yang terjadi di sekitarnya.
Namun apa harga yang harus dibayar dari itu semua?
Sejauh ini kita menghetahui bahwa:
1. Twitter fokus pada peristiwa yang terjadi di sekitar kita
2. Twitter berbentuk microblog sehingga orang lebih bisa gercep untuk share pemikirannya
Dua poin ini menimbulkan kondisi dimana hampir semua konten Twitter adalah reaksi kita terhadap suatu peristiwa di sekitar kita. Di sini lah bahayanya Twitter.
Otak Manusia Berevolusi Untuk Twitter-an?
Mengutip Kahneman dalam 'Thinking, Fast and Slow', otak kita punya dua mode: Sistem Satu yakni mode yang lebih intuitif, otomatis, dan impulsif, serta Sistem Dua, mode yang lebih menelaah, mempertimbangkan, dan menganalisa.
Ketika Twitter-an, karena nature platformnya yang serba cepat, kita jadi terbiasa untuk cepat pula membagi pikiran kita terhadap suatu peristiwa. Kita jadi gampang reaktif. Bisa dikatakan, Sistem Satu yang lebih impulsif adalah kawan setia kita ketika bermain Twitter. Padahal kita tahu, kalau kita terlalu cepat bereaksi terhadap suatu hal, sangat mungkin kita belum mendapatkan info utuh tentang hal tersebut.
Bukan berarti Sistem Satu adalah sistem yang buruk yang selalu akan membawa kita ke situasi yang buruk ya. Sistem Satu adalah sistem warisan evolusi ribuan tahun yang tanpanya mungkin spesies kita sudah punah sebelum menguasai planet. Ya, dulu kalau lihat ada semak-semak bergerak, kita tidak perlu menelaah secara seksama dulu dengan Sistem Dua apakah itu bergerak karena angin yang berhembus di muka bumi atau karena ada harimau Sumatera di baliknya. Menggunakan Sistem Satu untuk reaktif dan langsung lari menyelamatkan diri tentunya adalah pilihan terbaik. Di era modern, Sistem Satu juga masih sangat kita butuhkan. Misalnya ketika sedang menyeberang jalan lalu terdengar suara klakson keras, bukankah lebih baik langsung bereaksi minggir daripada harus diam dulu dan mencari tahu apakah klakson itu berasal dari telolet Bus Budiman yang sedang ngebut, atau cuma berasal dari Honda Beat Mas-Mas Jamet yang hobi ngeprank?
Namun seperti kata Kahneman dalam bukunya, bukan hanya Sistem Satu dan Sistem Dua memiliki perannya masing-masing dalam setiap keputusan yang kita ambil sehari-hari, tapi terkadang, kedua sistem ini berebut kendali di kursi pengemudi otak kita. Sayangnya, karena nature Twitter yang arus tweetnya melebihi arus kendaraan di pintu tol Palimanan pada H-2 lebaran, Sistem Satu sering kali tampil lebih perkasa dalam perebutan kendali itu untuk memastikan kita dapat bereaksi mengimbangi kecepatan lalu lintas tweet tersebut.
Tentu saja ini adalah resep sempurna untuk blunder.
Pasal Satu: Setiap orang bisa salah
Masih senada dengan apa yang saya tulis tiga tahun lalu di blog ini, otak manusia itu penuh dengan bias dan tidak mungkin setiap saat bertindak rasional. Itu adalah sebuah keniscayaan. Ditambah dengan memahami peran Sistem Satu, kita memang harus mengakui bahwa setiap orang bisa salah. Prinsip ini wajib kita imani khususnya saat Twitteran. Setiap orang, tanpa terkecuali--termasuk para ahlinya-ahli-intinya-inti-core-of-the-core, selebtweet woke favoritmu, e-girl kesayanganmu, saya, maupun kamu--bisa salah. Begitu bunyi "Pasal Satu"-nya.
Memahami bahwa kita cenderung reaktif saat Twitter-an dan karenanya akan sangat mungkin salah--kalau tidak mau dikatakan "pasti akan salah"--akan membuat kita lebih siap saat giliran kita yang salah. Dalam ber-twitter-ria, idealnya kita memang sudah siap jika tweet-tweet reaktif kita suatu saat akan dibantah orang dengan informasi yang lebih benar atau fakta yang lebih cucok. Bahkan lebih jauh, kita harus siap ketika kita nge-tweet sesuatu yang tidak benar, kita juga mungkin akan dapat bonus piring cantik konsekuensi sosial berupa bully-an dari orang-orang yang tiba-tiba ramai bermunculan seperti semut mengerubungi krim Kinder Joy (ingat, fitur Retweet-nya Twitter bener-bener bisa bikin tweet kita bergulir liar dari satu linimasa ke linimasa lain dengan kecepatan cahaya).
Jika saat itu tiba, tidak ada cara lain selain dengan siap mengaku salah dan siap bilang "I stand corrected". Akui saja kalau dengan nge-tweet secara reaktif, besar kemungkinan kita tidak mengetahui informasi secara utuh, tidak mempertimbangkan segala sisi, dan sangat mungkin kita salah. Akui saja. Memang itulah dinamika Twitter saat ini. Tinggalkan ngeles kita di atas Bajaj dan akui kesalahan.
Sebaliknya, memahami bahwa sebagian besar konten di Twitter adalah konten-konten reaktif orang terhadap suatu hal, kita juga akan jadi lebih empatik ketika melihat blunder dari orang lain lewat di linimasa kita. Sering kali konsekuensi sosial dari nge-tweet hal yang salah di Twitter bisa blew out of proportion bagi sebagian orang yang mungkin saja tidak pantas menerimanya.
Memang, ada beberapa orang yang punya niat jahat dengan mencuit informasi yang salah, atau sengaja membuat kebingungan dengan disinformasi. Namun perlu kita ingat, banyak juga kesalahan yang terjadi karena honest mistake atau karena Si Sistem Satu orang tersebut pada saat ngetweet kebetulan sedang dalam kendali atau karena orang tersebut tentunya punya bias atau karena lingkungannya membuat dia punya satu sudut pandang dan belum pernah terpapar dan consider sudut pandang lain.
Banyak faktor yang bikin seseorang nge-tweet sesuatu yang salah selain "dia orang jahat yang pantas kita cyberbully".
Coba deh inget-inget, berapa kali kita menyaksikan tweet-tweet blunder yang berawal dari menanggapi suatu hal tanpa tahu informasi utuhnya dan akhirnya berakhir dengan bully-an berlebihan kepada si empunya tweet tersebut? Terlalu banyak. Tidak jarang juga itu dialami oleh publik figur, selebtweet, expert, atau--yang lebih mengkhawatirkan--anak di bawah umur biasa yang akhrinya bisa mengganggu mentalnya.
Bahkan saya--yang saya sendiri merasa adalah orang yang cukup berhati-hati saat nge-tweet--pun tidak luput dari daftar panjangtersebut. Yang follow saya di Twitter mungkin masih ingat bulan Juni lalu salah satu tweet saya sempat mengundang permasalahan. Intinya, siapa saja bisa tersandung masalah di Twitter karena terlalu reaktif menanggapi suatu hal. Pertanyaannya adalah, mengetahui hal ini, bagaimana kita tetap bisa Twitter-an dengan aman?
Berontak lewat diam
I love twitter, I do. Di tahun kesepuluh saya menggunakan Twitter, dia masih menjadi media sosial kesayangan saya di antara yang lain. Ketika Facebook sudah seperti KTP yang wajib dipunyai semua warga, saya masih lebih suka Twitter. Di saat Instagram seperti mata kuliah wajib yang harus diikuti, saya pun masih lebih suka Twitter. Namun Madon! sungguh arsitektur Twitter dan environment-nya membiasakan otak saya untuk berpikir reaktif. Twitter memberi reward bagi sesiapa yang quick-witted menanggapi suatu hal lewat ribuan RT dan likes yang super duper efektif membucahkan serotonin. Hal ini membiasakan otak saya untuk selalu nyamber ke sesuatu hal tanpa berpikir panjang karena takut kehilangan momen.
Saya merasa saya mulai kehilangan kemampuan untuk mencerna sesuatu secara lebih tenang, bepikir lebih dalam, serta lebih komprehensif. Saya merasa saya mulai kehilangan kemampuan untuk menuliskan apa yang ada di pikiran saya secara rinci, runut, dan utuh. Bukan reaksi sok ngelucu dalam 280 karakter. Bisa dilihat sendiri di arsip blog ini, semakin tahun tulisan yang saya tulis di sini semakin sedikit. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa saya tidak punya waktu lagi untuk membuat tulisan blog panjang, tapi angka tweet saya semakin hari semakin bertambah dan saat tulisan ini dibuat sudah menembus angka 90ribu tweet. (ya, bayangkan seorang manusia membuat tweet 90ribu kali!). Bahkan dalam membuat tulisan ini saja saya butuh beberapa kali duduk, terdistraksi setiap menulis beberapa kata (sangat mungkin, setiap 280 karakter).
Ini berbahaya sekali. Sekali lagi, berbahaya.
Saya tidak mau kehilangan kemampuan menulis saya dan yang lebih penting, saya tidak mau kehilangan kemampuan untuk mencerna sesuatu secara dalam dan menuangkan pikiran saya secara runut.
Maka saya harus berontak dari sebuah lingkungan yang keadaan yang diciptakan oleh Twitter ini dengan melakukan dua hal: kurangi nge-tweet untuk menghilangkan kebiasaan terlalu reaktif dalam menanggapi suatu hal dan perbanyak nge-blog untuk memunculkan kembali kemampuan menuangkan ide secara utuh.
Aduh, menulis "kurangi nge-tweet" barusan saja otak saya sudah protes, merasa itu bukan sesuatu yang realistis. Okelah, jika tidak bisa kurangi nge-tweet, setidaknya kurangi nge-tweet secara reaktif. Karena tidak segala sesuatu harus kita tanggapi. Kita tidak wajib punya opini atau pendapat terhadap segala sesuatu, dan yang paling penting, tidak semua orang peduli terhadap opini kita, jadi kenapa repot-repot? Oh ya, ini juga termasuk reaktif ikut-ikutan nge-bully yang blunder di Twitter (ingat Pasal Satu).
Jika ingin nge-tweet, nge-tweetlah sesuatu yang bukan reaksi terhadap suatu hal, tapi justru sesuatu yang memulai perbincangan itu sendiri. Membuat thread mungkin adalah kompromi di antara nge-tweet dan nge-blog, dengan formatnya yang tetap per 280 karakter seperti tweet, tapi memerlukan "duduk sejenak dan menyusun" seperti ngeblog.
Misi kedua tidak kalah sulitnya bagi saya: lebih sering ngeblog. Beberapa waktu terakhir saya suka membaca kembali tulisan-tulisan lama saya di blog ini dan berpikir "wah, kok dulu saya bisa ya menulis sepanjang dan serapi ini?". Lalu saya melihat diri saya sekarang, dua tahun tanpa tulisan dan setiap hari menunggu ada keramaian apa lagi ya di linimasa Twitter yang bisa disamber. Sedih.
Namun komitmen itu harus dibuat, demi kesehatan otak dan mental saya sendiri. Saya sudah memikirkan beberapa ide tulisan blog selanjutnya. Lagipula, jika saya bingung mau nulis apa setelah mengalami tahun yang punya banyak sekali hal untuk diomongin ini, mungkin saya memang tidak bisa menulis apa-apa lagi.
Pada akhirnya setelah menjelaskan alasan sepanjang 1500 kata lebih di tulisan terpanjang saya sejak menyelesaikan skripsi ini, saya mantap mensyiarkan refleksi akhir tahun sekaligus resolusi tahun baru saya: saya ngeblog lagi karena Twitter berbahaya dan kamu juga harus.
Kalau gak dipaksakan, gak akan nulis-nulis. Gak usah banyak mikir, langsung tulis aja. 15 menit sebelum cafe ini tutup di jam new normal ini, sebelum laptop ini sudah tidak mendapatkan asupan sinyal WiFi, harus ada tulisan baru di blog saya. Dari 18.15 ke 18.30, saatnya berpacu. Cus!
Baru mulai satu paragraf, pikiran-pikiran sudah menghantui, "nanti ngomongin apa?', "nanti mau pake gambar ilustrasi apa kalo temanya aja belum jelas?", "bakal aneh kan kalo satu tulisan ini gak ada gambar thumbnailnya seperti tulisan-tulisan yang lain?", "tulisan yang lain thumbnailnya diphosothop dulu tuh, sempet gak dalam 15 menit ini?'. Padahal kan judulnya nulis blog ya, bukan menggambar thumbnail. Lagian jaman ngeblog dulu juga gak mikirin gambar thumbnail, yang penting nulis nulis dan nulis! Ingat mantra yang dulu sering kamu ucapkan ke diri kamu sendiri, "tulislah, tulislah, tulislah, suatu hari pasti akan ada yang membaca". Ingat itu, kisanak!
18.20. Pikiran masalah thumbnail sudah bisa diredam, muncul lagi pikiran lain. "Hey, sudah berapa tahun sejak terakhir nulis di blog ini? Apa yakin ingin mengawalinya dengan tulisan asal dan jelek? Pasti ketajaman menulismu sudah hilang, anak muda!". Oke. Pertama-tama, hey juga. Kedua-dua: BODO AMAT! Yang penting nulis, nulis, dan nulis. Kalau ak dipaksakan, gak akan nulis-nulis.
Sudah beberapa bulan sejak blog ini saya bangkitkan dari kubur dengan domain baru ramydhumam.com. Namun semangat membeli domain baru entah kenapa tidak diiringi dengan semangat untuk mengisi lagi blog ini dengan tulisan. Bukannya udah gak mau nulis. Mau. Banget. Gak ada waktu? Ada. Saya hanya akan membohongi diri ini untuk jutaan kalinya jika selalu bilang kalau tidak ada waktu untuk menulis. Memang gak ada niat aja. Sudahlah akui saja dosa itu.
18.23. Saya teringat suatu teknik menulis yang saya pelajari dari sejak awal-awal ngeblog, yaitu free-writing. Tulis saja apa yang terlintas di kepala, dengan cepat, dengan bebas, alirkan arus kata-kata dari otak ke ujung jari jemari dan transfer ke tuts keyboard dengan merdeka. Gak usah mikirin bagus apa nggak, koheren apa nggak, diksinya indah apa nggak. Nanti dulu, yang penting nulis dan penuhi kepolosan putih ini dengan keritingnya Times New Roman.
Inilah yang sedang saya lakukan sekarang. Bedanya, teknik free writing kan mengandalkan keleluasaan untuk menyunting setelah draft pertama yang sangat sampah ini selesai ditulis. Di sini, saya bahkan tidak akan ada waktu untuk menyunting. Tidak ada waktu untuk membaca ulang apa yang sudah saya tulis. Mungkin saya harus menamai teknik ini sebagai ugal-ugalan writing.
18.27. Mungkin kamu sudah sadar, bahwa tulisan ini tidak ada temanya sama sekali. Tidak membahas sesuatu apapun. Tidak ada substansi apapun. Namun kamu tahu apa lagi? Saya tidak akan meminta maaf untuk itu.
Saya tidak akan meminta maaf karena baru bisa menulis lagi di blog saya ini. Bahkan kepada diri saya sendiri. Apalagi meminta maaf karena tulisan ini. Hey, tulisan ini adalah kemajuan loh. Entah tulisan selanjutnya akan keluar satu dasawarsa lagi, saya tidak peduli.
Yang penting, saya jadi tahu lagi bagaimana rasanya menekan tombol oranye bertulisan "Publish" ini.
Menonton Indonesia Lawyers Club (ILC) semalam dengan tema "Di Balik Drama Hoaks Rana Sarumpaet", saya jadi menyadari satu hal: bahkan saat berada dalam kondisi yang menguntungkan, skill komunikasi kubu Jokowi kurang baik. Dalam kasus hoaks ini, pantaslah kubu oposisi berada di bawah jempol karena keteledoran mereka yang menyebarkan berita bohong Ratna Sarumpaet, tak tanggung-tanggung, bahkan sampai calon presiden nol dua sendiri, Prabowo Subianto, juga ikut menyebarkan berita bohong tersebut dan akhirnya meminta maaf. Saya kira pada kondisi seperti ini, kubu Jokowi tidak perlu berbuat banyak. Hanya perlu stick to the fact sambil mendukung penyidikan yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian. Play it cool. Take the high road. Namun malam itu, Budiman Sudjatmiko sebagai tim kampanye capres Jokowi tidak melakukannya. Seakan mengabaikan salah satu nasihat Sun Tzu yakni "jangan menekan terlalu keras musuh yang sedang terpojok", Budiman terus menekan kubu lawan dengan teorinya bahwa hoaks Ratna Sarumpaet itu direncanakan dengan sistematis oleh kubu nol dua. Ia nampaknya sudah muak dengan segala manuver kubu lawannya dan menyampaikan pendapatnya dengan menggbu-gebu menggunakan bahasa-bahasa yang tinggi dan metaforik. Namun berlama-lama dengan metafora seakan menghilangkan poin Budiman sehingga komunikasinya kurang bisa ditangkap dengan efektif.
Gaya penyampaian Saor Siagian juga tak kalah problematik. Ia hadir sebagai Koordinator Koalisi Advokat yang turut melaporkan Ratna Sarumpaet, beserta Prabowo dan Fadzli Zon, ke Mabes Polri. Selain itu, ia juga melaporkan empat anggota DPR ke MKD karena dianggap telah melanggar kode etik. Sebenarnya ia memiliki poin yang solid dalam argumennya, yakni, orang yang menyebarkan kebohongan Ratna ke publik bukanlah Ratna. Ratna hanya berbohong ke keluarganya dan ke beberapa tokoh. Para tokoh tersebutlah kemudian yang menyebarkan kebohongan Ratna Sarumpaet ke publik melalui media sosial dan konferensi pers sehingga menimbulkan keonaran. Poin yang solid dan fakta yang tidak bisa dibantah, memang. Sayang seribu sayang, gaya penyampaian Saor terlalu melebih-lebihkan, lebay, dan hiperbolik. Dalam kesempatan itu ia bilang bahwa konferensi pers Prabowo menimbulkan suasana yang "luar biasa mencekam". Jangankan pendukung Prabowo, saya yakin banyak orang yang bukan pendukung Prabowo pun pasti geli mendengarnya karena mbok ya lebay amat gitu lho. Penyampaian yang lebay seperti ini akhirnya malah terdengar konyol dan menutupi poin utama yang sebenarnya tanpa perlu dilebay-lebaykan pun sudah cukup kuat.
Kubu sebelah tidak menyia-nyiakan kelemahan komunikasi lawan dan memanfaatkannya dengan sangat baik. Fahri Hamzah mengambil posisi sebagai orang waras dan ksatria yang menyatakan siap dipenjara asal masalah konyol tentang hoaks ini bisa cepat selesai dan diskursus publik dibawa ke ranah yang lebih substansial tentang program-program. Nampaknya itu membuat Budiman semakin geram dan mengungkapkan bahwa kubunya dari dulu sudah waras, justru kubu Fahri-lah yang menyeret kubu-nya bermain di isu-isu yang tidak penting seperti ini, dan ia terpaksa, untuk kali ini saja, meladeni. Pada kesempatan itu juga suara Budiman meninggi, bahkan sempat mengungkit kembali kasus Ahok, tapi tetap dengan gaya pembawaan yang penuh metafora. Keluarlah frasa "bola salju api" yang belakangan diolok-olok oleh netizen kubu Prabowo. Mendengar Budiman panas serta membawa kembali isu Ahok, Fahri dengan sigap langsung mem-frame Budiman sebagai "pendendam" dan "gagah-gagahan" lalu kembali menyuarakan retorika-retorika kewarasan.
Melihat perbincangan keduanya seperti melihat orang dewasa yang gregetan menghadapi bocah yang pinter ngeles dan akhirnya si orang dewasa geram sendiri tapi tidak bisa ngapa-ngapain, mau ngegaplok juga gabisa, soalnya anak kecil.
Dahnil Simanjuntak, tim kampanye capres Prabowo, juga tahu betul memposisikan diri dalam debat tersebut dengan memanfaatkan komunikasi Budiman yang tebal emosi serta penuh metafora. Diberi kesempatan berbicara setelah Budiman, Dahnil menyentilnya dengan bilang "padahal saya lagi dengerin puisi Pak Budiman," mengindikasikan bahwa Dahnil sadar, gaya pembawaan Budiman yang penuh diksi tingkat tinggi dan cenderung puitis itu merupakan celah yang bisa dieksploitasi sepanjang berdebatan. Ia kemudian dengan tenang dan lugas menceritakan kronologi bagaimana kubu Prabowo bisa ditipu oleh Ratna Sarumpaet. Pembawaan Dahnil yang tenang dan lugas pada saat itu seakan menegaskan, di meja itu, ialah orang yang lebih level-headed, berbeda dengan orang di seberangnya yang berbicara dengan menggebu-gebu penuh kegeraman.
Jangan salah, secara substansi, sebenarnya Fahri dan Dahnil tidak lebih unggul dibanding Budiman atau bahkan Saor. Banyak hal yang disebutkan Fahri memang sekedar pepesan kosong ala politisi, seperti ketika ia meminta penyidikan dihentikan dan difokuskan hanya pada Ratna Sarumpaet hanya karena Ratna menyampaikan melalui surat bahwa hanya dia yang bertanggungjawab. Tentu saja sistem peradilan tidak bekerja seperti itu, hanya karena tersangka bilang dialah satu-satunya yang bertanggungjawab, bukan berarti ucapan itu bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak begitu saja oleh penyidik sehingga penyidikan bisa langsung dihentikan. Penyidik tetap memiliki hak penuh untuk memanggil siapa saja yang dianggap bisa memberikan keterangan, poin yang juga ditekankan oleh Saor. Tudingan bahwa Fahri inkonsisten dari Budiman juga bukan tanpa alasan. Fahri yang kemarin menyuarakan bahwa ini bukan masalah politik melainkan masalah pribadi dan tidak perlu dibesar-besarkan, justru adalah orang yang sudah ancang-ancang untuk menarasikan kasus penganiniayaan tersebut sebagai masalah politik. Fahri yang meminta polisi mengusut dengan sigap penganiayaan terhadap Ratna juga menjadi orang yang malah mempertanyakan ketika polisi berhasil mengungkap hoaks dengan sangat cepat.
Namun malam itu, silat lidah Fahri dan Dahnil nampaknya lebih jago dan licin dibandingkan Budiman dan Saor.
Rocky Gerung Effect
Semenjak Rocky Gerung sering diberi panggung, gaya bicaranya yang penuh satir, metafora, dan diksi-diksi tingkat tinggi yang ambigu, semakin dikenal khalayak. Ia pun akhirnya dikenal sebagai sosok filsuf jenius yang bahkan sering dipanggil "Professor" walau secara akademis sebenarnya belum memperoleh gelar itu. Saya sendiri tidak terlalu menganggap serius pendapat-pendapat Rocky Gerung, sama seperti saya tidak menganggap serius pendapat Jonru, Denny Siregar, atau Abu Janda karena mereka adalah orang-orang yang dengan bangga menampakkan bias-nya. Namun dalam kasus Rocky Gerung, saya bisa mengerti kenapa banyak orang memuja dan mengelu-elukannya. Ia adalah figur yang dianggap jenius, maka orang berbondong-bondong mengekor mengaminkan apa saja yang ia ucapkan agar terlihat pintar. Ia juga orang yang mengkoinkan terma "IQ 200 sekolam" dan "dungu" untuk menyerang kubu petahana alias (((CEBONG))). Ikut menggunakan istilah yang diciptakannya seperti "IQ 200 sekolam" dan "dungu" untuk berdebat pun bisa membuat orang merasa seperti jenius juga. Lihatlah saja mention twitternya, banyak sekali para pemujanya yang mengerubungi tweet-tweet satirnya sambil mengaminkan dan berusaha mengikuti menggunakan gaya bicara puitis yang oh-so-genius. Inilah Rocky Gerung Effect.
Ironisnya, menggunakan gaya bicara yang seperti itu juga malah dianggap perlu oleh kubu petahana. Mungkin melihat pembuat retorika ulung ada di kubu oposisi, kubu petahana merasa perlu mengimbanginya, hence gaya bicara Budiman di ILC semalam. Padahal gaya bicara seperti itu tidak selalu cocok dan sesuai untuk semua kondisi perdebatan. Rocky Gerung mungkin bisa menggunakan retorika dan metafora serta bersembunyi di balik ambiguitas karena retorika dan metafora memberi ruang yang luas untuk interpretasi, dan interpretasi adalah celah dalam hukum. Hey, bahkan dia bisa melenggak-lenggok melewati Pasal Penodaan Agama di atas nama interpretasi setelah mengatakan "kitab suci adalah fiksi". Jadi gaya bicara seperti itu bukan hanya disukai Rocky Gerung, tapi dibutuhkan Rocky Gerung agar bisa tetap "nakal" tanpa terjerat kasus hukum.
Namun untuk komunikasi kampanye seperti Budiman dan Dahnil yang butuh dipahami dan ditangkap oleh masyarkaat seluas-luasnya dari latar belakang apapun, gaya bicara yang lugas, jelas, dan tidak bertele-tele adalah yang utama.
Karena orang yang pintar bukanlah yang terlihat pintar ketika pandai bermain retorika dengan diksi tingkat tinggi, tapi yang mampu berpikir dengan lurus dan menyampaikan isi pikirannya dengan sejelas-jelasnya dan sesederhana mungkin sehingga bisa dipahami oleh anak kecil sekalipun.
Menyeret Prabowo
Berbagai teori konspirasi akan kasus ini menyeruak, baik di kubu Jokowi maupun Prabowo. Dari kubu Jokowi, tidak sedikit orang yang percaya bahwa hoaks Ratna Sarumpaet adalah sebuah grand design yang gagal dieksekusi dan akhirnya Ratna ditumbalkan dan semua orang yang terlibat balik kanan, cuci tangan, cuci kaki, lalu bobo ciang. Ada teori yang mengungkapkan bahwa operasi ini sudah terencana dimulai dari rencana Ratna yang akan menghadiri konferensi Women Playwrights di Chile. Dilihat dari pemilihan tanggal untuk operasi dan tanggal disebarnya foto, Fadli Zon dkk sengaja menyebarkan isu dua hari sebelum keberangkatan Ratna agar polisi tidak sempat mengungkap fakta sebenarnya sehingga Ratna bisa pergi ke Chille dan menyuarakan kepada masyarakat internasional bahwa ia mengalami penganiniayaan di dalam negeri. Isu HAM di Indonesia akhirnya pun menjadi sorotan dan memperlemah Jokowi secara signifikan.
Dari kubu Prabowo, tidak sedikit juga yang percaya bahwa Ratna Sarumpaet sengaja ditempatkan di gerbong Prabowo untuk berkhianat dan menurunkan kredibilitas Prabowo. Bahkan banyak juga yang mempertanyakan kecepatan polisi mengungkap kasus hoaks ini. Mereka curiga bahwa memang kasus ini adalah rekayasa yang sudah sengaja disiapkan untuk menggembosi ban nol dua.
Saya sendiri adalah termasuk yang percaya bahwa ini memang hanya kasus konyol seperti yang terlihat. Tidak seperti Budiman, saya percaya bahwa kubu Prabowo murni dikibulin oleh Ratna Sarumpaet dan akhirnya harus menanggung malu dan ramai-ramai meminta maaf. Namun itu saja sudah cukup menurut saya untuk menyeret Prabowo dalam perkara ini, setidaknya untuk diperiksa.
Retorika favorit kubu Prabowo saat ini adalah reaksi mereka murni karena tidak tahan melihat seorang ibu umur 70 tahun dianiaya, masa' sih reaksi kemanusiaan itu adalah sebuah tindak pidana? Sekilas memang masuk akal, namun karena kasus ini adalah hoaks, maka yang harus mereka pertanggungjawabkan sebenarnya bukan reaksi kemanusiaan mereka, karena niat memang tidak bisa dibuktikan, tapi bagaimana judgement mereka dalam mengenali kasus hoaks, serta bagaimana effort mereka dalam memverifikasi terlebih dahulu sebuah kabar berita sebelum menyebarkannya. Fakta bahwa justru bukan Ratna Sarumpaet lah yang membawa kebohongannya ke publik jelas memberatkan mereka di sini.
Sebagian besar terdakwa berita bohong juga saya yakin tidak tahu jika yang mereka sebarkan itu hoaks. Justru karena mereka yakin apa yang mereka sebarkan itu benar, makanya mereka sebarkan. Niatnya pun tentu baik-baik, untuk mengingatkan, untuk memperingatkan, dan sebagainya. Misalnya penyebar hoaks telur palsu, tentu sebenarnya dia hanya ingin memperingatkan ibu-ibu yang ke pasar agar tidak tertipu, penyebar hoaks gempa, tentu niatnya sebenarnya baik untuk memperingatkan warga agar tidak terkena dampak gempa, dan seterusnya. Namun yang dipertanggungjawabkan bukan niat mereka, tapi judgement mereka saat menerima kabar hoaks tersebut, kenapa kok disebarkan? Kenapa tidak diverifikasi?
Pasal 14 UU No. 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana dengan jelas menyebutkan
(1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan
sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman
penjara setinggitingginya sepuluh tahun.
(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang
dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat
menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum
dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.
Artinya, jika tidak ada unsur kesengajaanpun, masih bisa terkena Pasal 14 Ayat 2. Di sana ada dua unsur, yakni "pemberitahuan yang disiarkan menerbitkan keonaran" dan orang yang bersangkutan "patut menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong", artinya jika dua unsur ini ada pada kasus penyebaran berita Prabowo, Fadli Zon, dan lain-lain, maka mereka bisa dijerat dengan ayat ini.
Kubu Prabowo bisa mengadvokasi dari sisi ini, berargumen bahwa efek yang ditimbulkan dari konferensi pers tidak seperti yang dikatakan Saor Siagian yang sampai "mencekam luar biasa", atau berargumen seperti yang dikatakan Dahnil bahwa Pak Prabowo sebagai warga biasa tidak punya instrumen seperti instrumen intelijen untuk memverifikasi secara lebih dalam apakah yang dikatakan Ratna Sarumpaet benar, maka Prabowo sudah maksimal usahanya untuk verifikasi karena sudah mendengar sendiri dari yang bersangkutan dan melihat sendiri bukti "lebam-lebam" pada wajah Ratna Sarumpaet.
Sangat memungkinkan juga argumen-argumen itu kuat dan akhirnya Prabowo CS tidak bisa dijerat Pasal 14 Ayat 2, sangat mungkin. Namun tentunya proses pemeriksaan akan sangat wajar jika dilakukan untuk memastikan itu. Sayangnya tidak ada yang mengambil angle ini yang memang berdasarkan fakta bahwa Prabowo menyebarkan berita hoaks, tapi Budiman malah tetap menekankan bahwa Prabowo sudah merencanakan. Walau kecurigaan ini cukup beralasan, tapi tentu saja setiap tudingan yang tanpa bukti bisa dengan mudah ditangkis oleh Dahnil.
Banyak juga pendukung kubu Prabowo yang menggiring opini dengan mengalihkan bahwa "bagaimana dengan Jokowi? Bukankah dia juga sering berbohong? Berarti bisa ditangkap juga dong? " Ya, bisa saja. Saya setuju-setuju saja, semua orang yang terbukti menyebarkan kabar bohong atau hoaks, dijerat, tidak peduli itu Jokowi, Prabowo, Fadli Zon, Rocky Gerung, Mahfud M.D, Megawati, atau Thanos sekalipun, jika memang melakukan kesalahan ya patut-patut saja dihukum, karena semua orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.
Sarumpaet Hanya Teaser
Kubu lawan boleh jadi sedang kesandung, satu peluru berhasil dihindari, tapi itu bukan alasan kubu petahana untuk haha-hihi. Mereka harus mengambil pelajaran dan catatan sebanyak-banyaknya dari kasus ini, salah satunya adalah betapa kubu lawan sudah siap kuda-kuda untuk menyerang menggunakan jurus yang bisa saja sangat mematikan: isu HAM. Boleh jadi keran isu SARA sudah ditanggulangi dengan pengangkatan K.H Ma'ruf Amin, tapi tentu saja ini hanya akan membuka keran-keran baru serangan dari kubu lain. Selama ini yang terlihat adalah kubu nol dua selalu mempersiapkan amunisi untuk mengganjal dengan isu ekonomi, tapi ternyata kasus hoaks ini bagaikan teaser yang memperlihatkan bahwa kubu Prabowo pun punya ancang-ancang untuk menyerang dari sisi isu HAM. Pada pemilu 2014, mungkin isu HAM adalah kelemahan terbesar Prabowo, tapi dalam pemilu 2019 ini, ketika lima tahun kepemimpinan Jokowi tidak terlihat keseriusan pemerintah memenuhi janji kampanye-nya untuk menyelesaikan kasus HAM masa lalu dan banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi bahkan sempat disorot oleh dunia internasional, bisa jadi isu HAM lebih mengerikan untuk Jokowi dibandingkan untuk Prabowo pada perhelatan nanti.
Kita lihat saja bagaimana kedua kubu saling mengeluarkan dan menangkis jurusnya, tentunya sambil memberikan edukasi politik yang positif kepada masyarakat. Namun jika gaya bicara para politikus masih berkutat di ngotot-ngototan, retorika kosong, metafora yang membingungkan, hiperbola yang lebay, dan asal jeplak, kok ya rasanya malas untuk nonton debat-debat di TV. Lebih baik nonton sinetron Dzolim.
Pagi itu, wajah Pak Subarja berusaha kalem seiring langkah memasuki kelas. Dari rumah ia telah membulatkan tekad, alih-alih mengajar seni budaya seperti biasanya, ia akan menggunakan jam pelajaran yang dimilikinya untuk mengorek akar masalah dari peristiwa bersejarah yang terjadi sehari sebelumnya di sekolah kami: tawuran. Ini adalah tawuran perdana sekolah kami, sekolah SMP swasta islam yang baru berdiri empat tahun.
Saya yakin tidak ada satupun para guru muda dan idealis ini yang menyangka ketika mereka memutuskan untuk mengajar di sekolah yang memiliki rutinitas sholat dhuha setiap hari dan menjadikan hafalan juz 30 sebagai syarat kelulusan ini, mereka akan menghadapi masalah kenakalan pelajar sekelas tawuran. Kekagetan itu sangat tergambar dari ketidaksiapan para guru untuk menentukan hukuman bagi para siswa yang terlibat.
Namun Pak Subarja menyadari, memahami akar permasalahan jauh lebih penting daripada sekedar memberi hukuman. Dan ia datang ke tempat yang tepat untuk bertanya: Kelas 8 Putra, kelas saya, kelas dan angkatan yang paling bertanggungjawab memulai kesumat ini.
"Saya tidak tertarik dengan kronologi tawurannya, yang saya ingin tahu adalah bagaimana awalnya kenapa bisa terjadi seperti itu? Masalahnya apa? Ceritakan ke saya", kata Pak Subarja tegas, matanya menyisir ruangan dari balik kacamata.
"Awalnya dari saya, Pak", jawab Tompel sambil berdiri.
"Ya Tompel, coba ceritakan bagaimana awal masalahnya", kata Pak Subarja, masih tenang, bersiap menyimak.
Saya pun tak kalah penasarannya dengan Pak Subarja karena saya sendiri sebenarnya tidak tahu awal masalah yang membuat tawuran itu terjadi.
"Jadi, waktu itu saya lagi main sama temen saya deket rumah, dia anak SMP X"
"Terus?"
"Terus dia bilang, 'Wey, Pel. Sekolah lu ntar gue serang, lah'"
"Terus kamu bilang apa?"
"Yaudah terserah", jawab Tompel.
Pak Subarja terdiam sejenak, berharap ada kelanjutan di balik kalimat Tompel barusan. Setelah menyadari bahwa hanya itu jawabannya, ia pun menanggapi. Dengan suara tinggi kali ini, tak mampu lagi menyembunyikan kekesalannya.
"Terserah!? Kamu bilang terserah!?"
"Iya, Pak"
"Kamu mikir apa sih? Terus kalau ada orang yang bilang 'wey besok rumah lu gue bakar lah', kamu bakal bilang terserah juga!?"
"Ya enggak, Pak"
"TERUS KENAPA PAS SEKOLAH KAMU MAU DISERANG KAMU BILANG TERSERAH?", Pak Subarja benar-benar geram. Namun bagaimanapun rasa bingung yang genuine jelas lebih mendominasi daripada amarahnya.
"Ya gitu, Pak".
Tentu saja Pak Subarja tidak puas dengan jawaban Tompel. Niatnya untuk memahami jalan pikiran anak-anak muda yang dibinanya masih tidak terpenuhi karena ia masih tidak mengerti barang setitikpun. Namun mau bagaimana lagi, memang begitulah kejadiannya. Peristiwa yang bagi pihak sekolah adalah aib yang sangat besar nan fadihat tersebut, diawali hanya dari perkara yang keterlaluan sepelenya:
Obrolan bodoh di sore hari antara dua orang.
Meski Pak Subarja mendapat momen yang kalau kata anak sekarang "udah gak paham lagi dah gue!", tapi waktu itu saya sedikit banyak paham. Toh ketika Tompel pertama kali memberi tahu bahwa sekolah kami akan "tempur dengan SMP X", kami tidak mempertanyakan masalahnya apa. Pembicaraan langsung mengarah kepada persiapan untuk menghadapi hari historis tersebut. Bahkan bisa dibilang hampir antusias, layaknya momen tersebut telah dinanti-nantikan sejak lama.
Kami tumbuh di lingkungan dimana grafiti-grafiti rivalitas sekolah adalah pemandangan sehari-hari. Pada tembok-tembok perbatasan antara perumahan dan kampung-kota, di belakang ruko-ruko, dan di rolling-door kios-kios, lazim ditemui tulisan grafiti sekolah A yang sudah ditumpuk gambar zakar dengan warna pilox lain oleh sekolah B, musuhnya. Begitu juga sebaliknya.
"STM C MENCARI MUSUH BARU"
Begitu bunyi grafiti baru itu, ditulis salah seorang siswa STM tersebut saat merayakan hari ulangtahun sekolahnya. Mencari musuh tak ubahnya seperti membuka lowongan pekerjaan di jobstreet.
Kami hafal peta kekuatan sekolah-sekolah di wilayah kami: SMA A musuhan dengan STM B, STM C musuhan dengan STM D, dan seterusnya. Kami mengikuti perkembangan tawuran-tawuran mereka layaknya mengikuti perkembangan klasemen liga sepakbola.
"Wah, SMA C tadi diserang sama STM G". Tawuran layaknya sparing olahraga.
Apakah penyerangan tersebut ada pemicunya? Tidak selalu. Ini masalah identitas. Kalau kamu masuk SMA A, maka kamu otomatis menjadi musuh STM B, dan sebaliknya, STM B menjadi musuhmu. Tidak peduli apakah kamu benar-benar punya urusan dengan bocah dari STM B, pokoknya mereka semua musuh. Setiap yang memakai seragam STM B adalah musuh. Begitulah pakemnya, begitulah rumusnya, dan akan selalu seperti itu.
Sebagai sekolah yang baru seumur jagung, mungkin identitas itulah yang ingin Tompel bangun dengan mencari "musuh", walaupun sejatinya tidak ada masalah, dendam, atau urusan apa-apa dengan anak dari SMP X itu. Tawuran for the sake of tawuran, istilahnya. Harapannya, sekolah kami akan punya identitas sebagai sekolah yang bermusuhan dengan sekolah lain.
Tentu saja orang dewasa dan rasional seperti Pak Subarja tidak akan paham pola pikir konyol semacam ini. Kamipun tidak mengharapkan beliau paham. Namun yang jelas bagi kami saat itu, ini adalah "hukum alam" yang masuk akal.
Mata Najwa Yang Kopong
Ketidak-konek-an generasi tua seperti Pak Subarja dalam memahami akar permasalahan remaja ini juga saya lihat di acara Mata Najwa 26 September 2018 yang bertema #DukaBolaKita.
Membicarakan masalah suporter sepak bola yang untuk kesekian kalinya harus merenggut nyawa, acara tersebut menghadirkan banyak pemangku kepentingan dalam persepakbolaan Indonesia mulai dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Ketua Umum Jakmania, Ketua Viking Frontline, Komisaris PT Persib, Dirut Persija, Badan Olahraga Professional Indonesia (BOPI), Forum Diskusi Suporter Indonesia, Koordinator Save Our Soccer (SOS), dan Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI).
Sayangnya perbincangan tersebut seperti hanya menjadi ajang berbicara mereka secara bergantian mengucapkan bela sungkawa dan membela diri bahkan seakan-akan tak menelurkan hasil apapun. Selain karena tidak ada solusi yang benar-benar konkret---walaupun Mbak Nana berkali-kali menekankan pada kata "konkret"---yang membuat Mata Najwa malam itu terasa kopong adalah karena para narasumber kerap melenceng dari akar permasalahan.
Porsi pembicaraan berkali-kali bergumun di sekitar masalah hukuman, padahal saya rasa semua pihak juga sudah tahu, akar permasalahannya bukan pada hukuman yang kurang tegas, melainkan pada suporter akar rumput yang sering kali tidak terdata dan tidak bisa dikendalikan kelakukannya.
Sebenarnya permasalahan kekerasan suporter ini sebelas dua belas dengan permasalahan tawuran pelajar. Keduanya juga memiliki karakteristik yang sama yakni pelaku kekerasan kebanyakan adalah remaja putra yang masih emosional dan irasional, kekerasan sering kali dilakukan secara berkelompok alias keroyokan, dan terdapat konsep identitas "Us VS Them" yang sangat kental. Maka untuk dapat menemukan solusi yang tepat, langkah pertama adalah mencoba memahami pola pikir mereka yang sering kali terlibat perkara ini dan mencoba melihat sesuatu dari perspektif mereka.
Mata Najwa sudah menempuh langkah apik dengan menghadirkan langsung dua suporter dari daerah perbatasan yang kerap kali bergesekan, bahkan juga menyembunyikan identias keduanya. Saya pikir dengan disembunyikannya identitas mereka, mereka bisa dengan bebas berbicara serta bercerita apa yang terjadi dari kacamata mereka, apa yang mereka pikirkan, bahkan mungkin sedikit certia di "medan perang", sehingga bisa memberi sedikit gambaran kepada generasi tua yang ada di studio bagaimana cara menyelesaikan permasalahan di akar rumput tersebut.
Sayangnya Mbak Nana tidak menggali ke sana, pembicaraan dengan kedua narasumber ini terlalu sebentar dan Mbak Nana sudah luluh hanya dengan dongeng indah tentang persahabatan Viking-The Jak di masa lampau yang menuai tepuk tangan penonton, lalu kembali lagi pada narasumber-narasumber di studio yang duduk di menara gading. Ironi sekali ketika usaha mencari solusi konkret untuk masa depan harus tergerus oleh tepuk tangan nostalgia masa lalu yang indah.
Perspektif Akar Rumput
Padahal setidaknya ada dua clue yang diceritakan oleh suporter yang disamarkan identitasnya itu yang bisa membuat kita memahami jalan pikiran mereka, yang semakin menegaskan bahwa permasalahan ini mirip dengan permasalahan tawuran pelajar. Yang pertama, narasumber suporter Jakmania menyebut bahwa mereka biasa memakai atribut seperti jersey tidak hanya pada saat menjelang pertandingan, melainkan juga di keseharian. Hal itu akhirnya kerap menjadi masalah ketika berpapasan dengan suporter lawan.
Jadi pertikaian bisa terjadi bukan hanya karena ada permasalahan yang memicunya, tapi bisa juga hanya karena melihat orang memakai atribut tim yang mereka anggap musuh, tidak peduli apakah orang itu benar-benar punya masalah atau tidak, pokoknya musuh, libas. Ini adalah konsep identitas yang ada juga dalam permasalahan tawuran pelajar. Saya The Jak, musuh The Jak adalah Viking, maka saya harus menyerang Viking karena Viking adalah musuh. Sekali lagi, itulah pakemnya, itulah rumusnya.
Ini sebabnya sering kali kekerasan terjadi di luar stadion, di jalan, bahkan saat tidak ada pertandingan sekalipun, hanya karena "melihat musuh". Seperti ketika teman SMP saya yang lain, Bolang, kakinya terkoyak kena bacok Benteng Viola (Suporter Persita) karena memakai syal The Jak. Bahkan identifikasi musuh ini bukan hanya lewat atribut klub yang bisa dilepaskan begitu saja seperti jersey, tapi sering juga terjadi hanya karena "ngomong betawi", "ngomong sunda", atau dari plat nomor kendaraan sekalipun.
Balas-balasan merusak mobil dengan plat nomor kendaraan dari kota musuh bukan sesuatu yang asing. Ketika tinggal di Malang, teman-teman saya yang asal Surabaya akan stay di rumah seharian setiap ada konvoi Aremania daripada mengambil resiko kendaraan plat L nya dirusak. Meskipun mereka bukan Bonek, tapi plat L nampaknya sudah cukup untuk membuat mereka diidentifikasi sebagai musuh.
Maka dari itu, hukuman-hukuman berupa larangan bertanding, larangan menonton di stadion, atau bahkan pembubaran klub tidak akan bisa menyelesaikan akar permasalahan identitas ini, karena mau ada pertandingan atau tidak, selama ada yang bisa diidentifikasi sebagai "musuh" melalui atributnya---yang dipakai tidak hanya menjelang pertandingan namun juga sehari-hari---maka kekerasan akan tetap bisa terjadi atas nama identitas.
Ini sebenarnya juga masih terkait dengan clue kedua yang diucapkan suporter Jakmania di Mata Najwa yakni, "jika diejek, itu masalah harga diri".
Bagi remaja terutama remaja laki-laki yang sedang aktualisasi diri dengan hormon yang meletup-letup, harga diri memang di atas segalanya. Melakukan hal yang membahayakan nyawa jadi terjustifikasi demi harga diri. Irasional? Memang, tapi begitulah paham mereka. Setiap melihat sekelompok suporter yang membawa senjata membajak truk untuk menonton pertandingan, saya yakin beberapa dari mereka tidak peduli akan jalannya pertandingan tersebut.
Mau klubnya kalah atau menang, jadi juara atau tidak, degradasi atau tidak, didenda atau tidak, yang penting mereka tetap bisa memiliki identitas diri sebagai bagian dari komunitas suporter yang tidak boleh diusik harga dirinya oleh pihak musuh. Di dalam kepala mereka, identitas diri itu akan kian kuat tidak hanya ketika mereka mendukung klubnya bertanding di stadion, melainkan ketika mereka membela harga diri dengan bertempur dengan suporter musuh.
Kembali lagi, pada akhirnya hukuman-hukuman yang bersifat denda, degradasi, diskualifikasi, bahkan pembubaran klub, tentu tidak efektif membuat efek jera bagi mereka-mereka yang menganggap tawuran itu sendiri sebagai olahraganya dan sarana membela klubnya.
Pembinaan, Pembinaan, Pembinaan
Jadi begitulah kira-kira keadaan di akar rumput yang sayangnya jarang dipahami oleh para orang tua pemangku kepentingan di atas. Lalu bagaimana solusinya? Tidak ada solusi lain untuk menyelesaikan akar masalah ini selain pembinaan, pembinaan, dan pembinaan. Coba ditelisik, kira-kira apa perbedaan para bapak-bapak dan mas-mbak suporter yang duduk di acara Mata Najwa kemarin dengan teman-teman suporter di lapangan sehingga perilakunya juga berbeda?
Jawabannya adalah pendidikan dan lingkungan. Kedua hal inilah yang tentunya membentuk perilaku para suporter dan kedua hal ini bisa dibentuk melalui pembinaan suporter. Harus ada program pembinaan serius yang dirancang sedemikian rupa, mulai dari steering committee sampai operational committee di lapangan yang membina suporter-suporter akar rumput ini. Mari wadahi mereka, rangkul mereka, ajak berkegiatan, biarkan mereka berkenalan dengan dedengkot-dedengkot suporter senior yang sama fanatiknya namun sudah dewasa dan rasional. Ajarkan mereka bahwa saling ejek itu biasa, bahwa harga diri akan hancur justru ketika melakukan tindakan yang memalukan nama komunitas dan klub.
Pembinaan suporter memang bukan solusi yang mudah dan instan seperti hanya sekedar memberi hukuman atau meningkatkan personel keamanan, tapi hanya itulah solusi jangka panjang yang bisa sedikit demi sedikit menyelesaikan akar permasalahan suporter. Hukuman bukannya tidak dibutuhkan sama sekali. Hukuman tegas tetap harus diberlakukan untuk membuat klub semakin berkomitmen membina suporternya.
Dibutuhkan juga peraturan PSSI yang mewajibkan setiap klub memiliki program pembinaan yang komprehensif, yang segala kegiatannya jelas dan bisa dilaporkan ke PSSI secara rutin sebagai bentuk komitmen tersebut. Bagi media dan publik, menghilangkan istilah "oknum" dalam menyebut pelaku suporter yang melakukan kekerasan juga bisa membuat klub lebih merasa bertanggungjawab terhadap suporter-suporternya.
Saya mengerti alasan Mbak Nana tidak berlama-lama di kedua narasumber tersebut. Ada kekhawatiran jika sentimen kebencian dan permusuhan malah keluar dan tersiarkan di TV nasional. Sebab itu pula Mbak Nana tidak masuk ke detil penyebab permusuhan The Jak dan Viking di awal tahun 2000an.
Namun ketidakpercayaan terhadap suara akar rumput ini jangan-jangan juga adalah salah satu sumber masalahnya.
Jika membicarakan agenda duduk bareng antar semua stakeholder sepakbola untuk mencari solusi, apakah suara mereka yang di akar rumput juga termasuk dalam agenda tersebut? Telinga bapak-bapak para petinggi sepakbola juga harus turun ke pengkolan-pengkolan jalan tol, mencoba memahami mereka yang menggenggam batu di tangan bersiap melempari bus tim musuh, atau ke sudut-sudut sel LP anak, mencoba memahami kenapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.
Karena suporter bukan hanya para pimpinannya di atas yang bisa berpikir jernih---sehingga hanya dengan membuat nota perdamaian, masalah bisa dianggap selesai---tapi juga mereka yang di bawah, yang masih menggebu-gebu dan cenderung reaktif, irasional, dan emosional. Sungguh aneh jika sebagian besar kasus disebabkan oleh suporter dengan demografi yang kedua ini, tapi yang diajak berdiskusi menyelesaikan masalahnya adalah suporter yang di atas saja.
Mungkin bukan di TV nasional jika beresiko menimbulkan efek negatif, tapi yang jelas mereka harus didengarkan. Mendengarkan suara para darah muda ini adalah langkah awal untuk memahami perspektif mereka, dan memahami perspektif mereka adalah jalan untuk membuat solusi yang tepat sasaran.
Kemungkinan besar, bapak-bapak tetap tidak akan mengerti pola pikir bodoh mereka, alasan-alasan maha sepele mereka, dan proses pengambilan keputusan mereka. Namun seperti Pak Subarja, setidaknya ada tekad untuk mengetuk pintu kelas pagi itu. Dan mencoba.
ENJOY YOUR DAY!
sumber gambar: https://tirto.id/bentrok-suporter-bola-dki-jakarta-jabar-bLoP