Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menyerukan digelarnya 'dialog yang berarti' antara Taiwan dengan China atas dasar kesetaraan. Tawaran dialog ini diajukan Taiwan di tengah ketegangan militer yang memuncak dengan China.
Taiwan mendapatkan tekanan yang terus meningkat dari China, yang semakin meningkatkan aktivitas Angkatan Udara di dekat wilayah Tawan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk dengan melanggar garis tengah di Selat Taiwan yang sensitif dan menjadi perbatasan tak resmi kedua wilayah.
China menegaskan pihaknya merespons 'kolusi' antara Taiwan dan Amerika Serikat (AS). China diketahui marah atas dukungan AS untuk Taiwan, yang hingga kini dianggap bagian wilayah kedaulatannya.
Berbicara saat perayaan Hari Nasional Taiwan pada Sabtu (10/10) waktu setempat, seperti dilansir Reuters, Sabtu (10/10/2020), Presiden Tsai menggambarkan situasi di Selat Taiwan 'cukup tegang'.
Disebutkan bahwa meningkatnya aktivitas militer China, juga sengketa di Laut China Selatan dan konflik perbatasan China-India, serta aksi keras China di Hong, telah menunjukkan bahwa demokrasi dan perdamaian di kawasan sedang menghadapi tantangan besar. Jika China bisa mendengarkan suara Taiwan dan bersama-sama memfasilitasi rekonsiliasi dan dialog damai, sebut Presiden Tsai, maka ketegangan kawasan bisa diselesaikan.
"Selama otoritas Beijing bersedia menyelesaikan antagonisme dan meningkatkan hubungan lintas selat, sementara paritas dan martabat dipertahankan, kami bersedia untuk bekerja sama dalam memfasilitasi dialog yang berarti," cetus Presiden Tsai.
Tonton juga video 'WHO Bantah Taiwan Telah Peringatkan Soal Virus Corona':