Abdul Rivai si Dokter Wartawan Melayu Indonesia
Abdoel Rivai dikenal sebagai dokter dan wartawan Indonesia. Ia lahir dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria pada 13 Agustus 1871 di Palembayan, Agam, Sumatera Barat dan ia meninggal pada 16 Oktober 1937 di Bandung, Jawa Barat, yaitu pada saat ia umur 66 tahun. Ayahnya bekerja sebagai guru di sekolah Melayu, sedangkan ibunya adalah keturunan raja-raja di Muko-Muko, Bengkulu. Rivai memiliki watak yang keras, ulet, serta otak yang cemerlang. Semasa hidupnya, ia merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari Eropa. Berkat kesuksesannya tersebut, Rivai dianugerahi gelar sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974 oleh Pemerintah Indonesia.
Abdul Rivai adalah seorang pelajar Indonesia lulusan dokter Bumiputera pertama yang mampu meneruskan kuliah ke sekolah kedokteran di Belanda, ia juga dikenal sebagai dokter Indonesia pertama yang diterima sebagai calon doktor (strata-3) di Eropa. Selain dikenal sebagai dokter, Abdul Rivai juga meriwayatkan namanya di ranah pers dan nasional. Rivai merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Eropa, yaitu koran berkala Pewarta Wolanda yang diterbitkan dari Amsterdam, Belanda, pada tahun 1900. Selain itu, dia juga tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengirimkan tulisan jurnalistiknya dari luar negeri ke tanah air.
Pada tahun 1886, di saat masih berusia 15 tahun Rivai diterima bersekolah di STOVIA. Setamatnya sekoah dari STOVIA pada tahun 1894, ia ditugaskan menjadi dokter di Medan. Sisi prestasi akademis Rivai memang cukup menonjol. Belum ada data dalam proses Rivai berkeinginan melawat ke Eropa dan untuk itu kemudian dia mengumpulkan uang. Setelah tabungannya terkumpul sebanyak 20.000 gulden, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dokter di Medan. Tujuannya kini adalah meneruskan sekolah ke Belanda. Van Deventer, salah seorang penganjur politik etis, sangat menyokong maksud Rivai itu (Agung DH, 2007: 12). Namun, birokrasi berkata lain. Izin Rivai untuk menuju Belanda dipersulit orang pemerintahan yang tidak suka padanya. Rivai terpaksa harus menunggu keputusan dari pemerintah Hindia Belanda. Penghujung tahun 1899, Rivai akhirnya mendapatkan rekomendasi untuk meneruskan pendidikan ke Belanda. Tinta emas telah ditorehkannya: Abdul Rivai adalah dokter Bumiputera pertama yang berhasil merasakan bangku sekolah kedokteran di Belanda. Kendati Rivai akhirnya diterima di Universitas Utrecht, Belanda, lagilagi dia mengalami kendala birokrasi. Rivai terancam tidak dapat mengikuti ujian akhir karena tak memiliki ijazah HBS (Hogeere Burger School, sekolah menengah). Sementara ijazah STOVIA yang dikantonginya dianggap tidak cukup memenuhi syarat untuk menempuh ujian sekolah dokter Belanda di fakultas kedokteran. Rivai diminta agar lebih dulu menempuh ujian persiapan sebelum sepenuhnya dapat dianggap sebagai mahasiswa kedokteran. Meski kecewa, Rivai akhirnya mengalah. Dari Ultrecht, dia pindah ke Amsterdam untuk menempuh ujian persiapan sebelum mengikuti kuliah kedokteran di Universitas Utrecht. Dari Amsterdam inilah pada 1900 Abdul Rivai memprakarsai penerbitan surat kabar Pewarta Wolanda dengan bantuan Y. Strikwerda, seorang mantan asisten residen (Ahmat Adam, 2003: 160). Kendati diterbitkan dari Belanda, Pewarta Wolanda hadir dengan bahasa Melayu! Gebrakan yang tak biasa inilah yang menjadi bukti kentalnya rasa nasionalisme yang mengalir di darah Abdul Rivai sebagai orang Indonesia sejati.
Majalah Pewarta Wolanda diterbitkan menggunakan bahasa Melayu yang diprakarsai oleh satu orang saja. Dialah Abdul Rivai. Niat Rivai untuk menerbitkan majalah itu telah diumumkan sejak Juli 1899. Ia hanya mengandalkan satu tenaga redaksi saja, yang juga merangkap sebagai tenaga administrasi. Meskipun pelanggannya tidak terlalu banyak, Rivai merasa telah berhasil merealisasikan visinya untuk menyebarluaskan kehidupan Negeri Belanda di Hindia, begitupun sebaliknya. Di samping itu juga, sebagai langkah konkret untuk mendekatkan bangsa pribumi dengan bangsa tuannya.Beberapa majalah Melayu yang beredar di Hindia Belanda kerap kali memuat tulisan Rivai yang diambil dari Majalah Pewarta Wolanda. Namun, tanpa memberikan royalti. Keterbatasan materi membuat Majalah Pewarta Wolanda tidak panjang umur. Pelanggan yang sedikit, bertempat tinggal jauh pun tidak tertib membayar. Otomatis pendapatan yang masuk ke saku tidak bisa memelihara atau bahkan membesarkan majalah ini. Dengan terpaksa Rivai menghentikan produksi Pewarta Wolanda pada 1901. Sebagai majalah pertama ciptaan jerih payah bumiputra, banyak hal yang setidaknya patut diapresiasi. Terutama terkait perintisnya, yakni Abdul Rivai. Seorang dokter yang dikemudian hari lebih terkenal sebagai jurnalis ini menjadi lebih terkenal di kalangan yang menggemari dunia jurnalistik. Baik itu orang Belanda ataupun sejawat setanah air. Pewarta Wolanda merupakan pijakan pertamanya untuk melanjutkan kesenangannya di segmen jurnalistik. Setelah itu, nama Rivai semakin termashyur karena turut menjadi responden di majalah Bandera Wolanda dan Bintang Hindia bersama beberapa orang Belanda dan kawan sebangsa.
Pada tahun 1901, sebuah majalah bulanan Insulinde diterbitkan atas kerjasama para terpelajar di Kota Padang dengan guru-guru Belanda di sekolah raja (Kweekschool) Bukittinggi, terutama van Ophuysen, ahli bahasa Melayu. Ketua redaksi majalah itu adalah Dja Endar Muda, seorang wartawan keturunan Tapanuli yang juga telah menerbitkan surat kabar Pertja Barat dan majalah bulanan berbahasa Batak, Tapian Nauli. Majalah Insulinde itu disebarkan ke seluruh Sumatera dan Jawa. Majalah itulah yang pertama memperkenalkan slogan “kemajuan” dan “zaman maju”. Satu diantara artikel menarik yang dimuat dalam Insulinde adalah kisah kemenangan Jepang, negara “kecil” yang menang mengalahkan Tiongkok “yang besar”. Kemenangan Jepang itu disebabkan keberhasilannya dalam memasuki “dunia maju”. Ulasan tentang perkembangan yang terjadi di “dunia maju” secara terbuka mengajak para pembaca untuk ikut serta dalam zaman “kemajuan”. Majalah itu tidak saja memuat artikel tentang bangsa Hindia Belanda, akan tetapi juga memuat tentang berita Asia dan Eropa. Sementara itu, tokoh muda dr. Abdul Rivai yang baru datang dari Belanda menganjurkan pada tokoh muda di Hindia untuk membentuk sebuah organisasi. Dalam tulisantulisannya dalam Bintang Hindia ia selalu memuat tentang “kemajuan” dan “dunia maju”. Rivai menggolongkan masyarakat menjadi tiga golongan, yaitu kaum kolot, kaum kuno, dan kaum muda. Menurut Rivai, kaum muda adalah orang yang senantiasa ingin mendapatkan harga diri melalui pengetahuan dan ilmu. Untuk mencapai kemajuan dan terwujudnya dunia maju, Rivai menganjurkan agar ada organisasi bernama Persatuan Kaum Muda didirikan dengan cabang di semua kota-kota penting di Hindia. Seorang pensiunan “dokter Jawa” yaitu Wahidin Soedirohoesodo tertarik dengan tulisan Rivai. Saat itu ia sebagai editor majalah berbahasa Jawa, Retnodhumilah, dalam tulisan itu disarankan agar kaum lanjut usia dan kaum muda membentuk organisasi pendidikan yang bertujuan untuk memajukan masyarakat. Gagasan Wahidin akhirnya terwujud ketika para pelajar “Stovia”, Sekolah dokter Jawa, mendirikan suatu organisasi bernama Boedi Oetomo, pada 2 Mei 1908.
Selain mengurusi Pewarta Wolanda, dokter Abdul Rivai memutuskan untuk terjun ke dunia jurnalistik. Rivai sering mengirimkan tulisan tulisannya ke berbagai media massa yang terbit di Belanda maupun di tanah air. Boleh jadi Abdul Rivai merupakan orang Indonesia pertama yang mengirimkan tulisan jurnalistiknya dari luar negeri, melalui jasa telegraf yang kala itu menjadi teknologi informasi yang tercepat dan terhebat. Dalam artikelartikelnya, Rivai banyak menyoroti soal diskriminasi –seperti yang dialaminya sendiri atas hegemoni orangorang Belanda terhadap kaum Bumiputera– dan sekaligus memperjuangkan supaya siswasiswa Bumiputera lulusan STOVIA dapat langsung diterima di perguruan tinggi kedokteran di negeri Belanda. Rivai sebenarnya sudah melakoni kegiatan menulis sejak berusia 21 tahun. Pada 1892, Abdul Rivai meluncurkan karya terjemahan berjudul “Pengadjaran Perihal Melakukan Kewadjiban Orang Beristeri”, yang berisi tentang panduan pernikahan. Selanjutnya, berkat ketajaman pena dan tulisantulisannya yang menikam ketidakberesan, nama Rivai sebagai jurnalis segera melambung tinggi, bahkan melebihi statusnya sebagai dokter. Rivai dikenal sebagai seorang penulis yang pandai menyusun katakata, terlebih lagi dia selalu berani mengkritik segala apa yang dianggapnya kurang baik. Ketangkasan dan keberanian Rivai menyebabkan dia tak mau kalah dan tak mau dihinakan oleh siapapun, terlebih oleh orang Belanda.
Pada awal abad ke20 itulah Rivai terlibat debat dengan AA Fokker, pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang Melayu sendiri. Jelas, sebagai orang asli Melayu, Rivai tidak terima atas kecongkakan Fokker. Melalui Pewarta Wolanda, juga lewat beberapa surat kabar lainnya, Rivai turun gelanggang menghadapi Fokker. Rivai bahkan menantang Fokker untuk berdebat di mimbar publik. Dalam forum tersebut, emosi Fokker terpancing, dia berang karena ada seorang inlander rendahan yang mencari perkara dengan orang Belanda dari kalangan terhormat seperti dirinya. Serangan Rivai semakin tidak terbendung, sedangkan Fokker yang kian kalap akhirnya mengucap pledoi tanda kekalahan: “Seorang Belanda tidak boleh berbahasa Melayu!” (Soebagijo IN, 1981: 545). Dalih Fokker justru menandai kemenangan Rivai. Fokker tidak hanya terbukti payah dalam menunjukkan kebisaan berbahasa Melayu yang diakui dimilikinya. Sebaliknya, keluarbiasaan Rivai membikin para penganjur politik etis serta para pembesar di Belanda jadi terpesona, dan hikmahnya, Abdul Rivai diperkenankan untuk segera melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Ultrecht.
Setelah itu, Rivai bergabung dengan koran “Bandera Wolanda”. Koran ini merupakan hasil kerjasama Rivai dengan seorang Belanda anggota KNIL, Brousson. Koran ini sangat moderat. Di edisi pertamanya dijelaskan misi koran ini: pengajaran dan pengetahuan. Bukan polemik dan pertikaian. Selain bergiat sebagai jurnalis, Abdul Rivai juga konsentrasi menyelesaikan studinya. Di beberapa artikelnya di koran, Abdul Rivai menyisipkan nasehat-nasehat soal perlunya menjaga kebersihan dan kesehatan.
Tahun 1906, Abdul Rivai melanjutkan studi di Paris, Perancis. Di sana, ia belajar di Universitas Pasteur. Ia aktif mempromosikan bahasa melayu. Pada tahun 1907, ia sudah mengikuti ujian doktoral. Selain itu, ia juga mengikuti kuliah semi-arts. Namun, karena soal waktu, Rivai kesulitan mengejar gelar doktoralnya. Ia pun terpaksa mengejar gelar doktoral di sebuah universitas di Belgia. Ujian doktoral berlangsung pada 23 Juli 1908. Ia lulus dengan nilai memuaskan. Dengan demikian, Abdul Rivai menjadi orang “hindia” pertama yang meraih gelar doktor. Kartini, seperti ditulis Pramoedya Ananta Toer, sangat menghargai Abdul Rivai. Bagi Kartini, Abdul Rivai telah menjadi harapan bagi kaum pribumi untuk mengangkat kehormatan dan martabat bangsanya. Kartini juga memuja sikap Abdul Rivai yang berani bersikap terhadap pemerintah kolonial.
Bintang Hindia dengan warna nasionalismenya beranjak redup saat Rivai mengundurkan diri pada 1907. Perlahan tapi pasti, Bintang Hindia semakin kehilangan pamor, gairah yang dulunya bergejolak mulai luruh, suarasuara yang menyerukan kemajuan Bumiputera seperti yang dulu keluar dari pena Rivai kian lamatlamat terdengar, lirih, bahkan kemudian senyap samasekali. Hingga akhirnya, koran yang pernah menggebrak dunia pers di Belanda maupun di Hindia itu menghembuskan nafas cetak penghabisan tahun 1910 Setelah mentas dari Bintang Hindia, tersiar kabar baik untuk Rivai, dia diterima di Universitas Gent, Belgia, yang menyediakan program doktor tanpa disertasi tetapi dengan ujian terbuka. Pengumuman resmi dari Universitas Gent tertanggal 23 Juli 1908 menegaskan sukacita itu: “Abdul Rivai telah diuji secara terbuka sesuai dengan undangundang. Fakultas memutuskan bahwa yang bersangkutan telah lulus dengan memuaskan.” Dengan demikian, Abdul Rivai menjadi orang Indonesia alumni STOVIA (sekolah pendidikan dokter Bumiputera) pertama yang diterima sebagai calon doktor (Strata3) di universitas di Eropa (Abdul Rivai, 2000: xvii) Pada 1911, Rivai pulang ke tanah air dengan menyandang titel dokter lulusan Eropa. Rivai langsung diganjar jabatan tinggi sebagai opsir kesehatan pada angkatan militer di Cimahi, Jawa Barat. Dokter Pribumi yang mampu menempati jabatan sepenting itu merupakan hal yang istimewa.
Pada tahun 1911, Rivai sudah kembali ke Indonesia. Setahun kemudian, Rivai dipindahtugaskan ke Padang. Seringkali Rivai bentrok dengan atasannya yang orang Belanda, kaum Bumiputera masih dianggap orang rendahan. Karena merasa selalu direndahkan dan dipersalahkan, Rivai mengajukan surat pengunduran diri dari pegawai Dinas Kesehatan pada Januari 1912 (Perniagaan, 23 Januari 1912). Abdul Rivai kemudian membuka praktek partikelir, awalnya di Semarang kemudian pindah ke Surabaya. Berprofesi menjadi dokter tidak lantas membuat Abdul Rivai mandul dalam upaya terus berusaha memajukan bangsanya. Ketika pada 5 Oktober 1912 Tiga Serangkai menggagas Indische Partij alias IP, Abdul Rivai pun turut serta dengan mempelopori pendirian IP pertama di Sumatra pada 19 November 1912 (Tjahaja Timoer, 21 November 1912). Ketika pergerakan nasional berkobar di tanah air, ditandai dengan berdirinya Indische Partij, Abdul Rivai turut mendirikan cabang IP di Sumatera. Begitu IP dibubarkan oleh pemerintah kolonial, Rivai juga turut berpindah ke Insulinde. Ia sempat menjadi pengurus organisasi borjuis kecil-radikal ini.
Rivai memimpin pembentukan IP cabang Padang (Perniagaan, 10 Februari 1913). IP sendiri adalah organisasi yang terbuka bagi segala kalangan. Selain itu, IP juga merupakan perhimpunan politik pertama di Indonesia yang dengan tegas menyerukan kemerdekaan Hindia untuk Hindia, kemerdekaan Hindia (Indonesia) dari Belanda (Iswara N Raditya, 2008: 199). Pada 1913, IP dibubarkan karena dianggap membahayakan. Para mantan aktivis IP kemudian mendirikan Insulinde sebagai organiasasi pengganti IP (De Expres, 1 April 1913 dan Perniagaan 2 April 1913). Abdul Rivai pun masuk dalam jajaran pengurus Insulinde. Organisasi ini kemudian mewujud besar dengan banyak cabangcabangnya di daerah. Pendirian beberapa cabang Insulinde tersebut semisal di Yogyakarta pada 17 April 1913,
Kendal pada 21 April 1913, Batavia pada 14 Mei 1913, serta di beberapa daerah lainnya (Perniagaan, 23 April 1913, 2 dan 16 Mei 1913). Insulinde berideologi sama dengan IP, organisasi politik untuk segala kalangan yang menjadi warga Hindia Belanda, dan berjuang demi kedaulatan rakyat Hindia. Selama beberapa tahun ke depan, gerakan Insulinde berperan cukup sentral dalam mengawal proses penyadaran kebangsaan. Hingga akhirnya dibentuklah Volksraad (Dewan Rakyat) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada Mei 1918. Volksraad didirikan sebagai lembaga dengan satu majelis yang hanya mempunyai wewenang memberi nasehat kepada Gubernur Jenderal (Ricklefs, 1995: 243). Gubernur Jenderal van Limburg Stirum mengumumkan anggotaanggota Volksraad pada 18 Mei 1918. Abdul Rivai, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo, terpilih sebagai wakil dari Insulinde (Djawi Hiswara, 21 Januari 1918). Abdoel Moeis dan Tjokroaminoto mewakili Sarekat Islam (SI), Achmad Djajadiningrat dan Pangeran Prangwedono dari Regentbond, Koesoemo Joedho, Koesoemo Oetojo, dan Radjiman Wediodiningrat dari Boedi Oetomo (BO), serta beberapa orang Bumiputera lainnya (Suradi, 1997: 15). Abdul Rivai sangat vokal semasa menjadi anggota dewan. Dia tidak hanya cakap dalam memainkan pena, namun juga jago pidato. Orasiorasi yang dilantangkannya di forumforum Volksraad selalu berapiapi dan berisi. Pada Juli 1918, Rivai dan Radjiman Wediodiningrat menyampaikan surat permohonan pengunduran diri dari keanggotaan Volksraad. Alasan keduanya mengundurkan diri adalah karena mendapat tugas dari Raja Surakarta Susuhunan Pakubuwono X untuk pergi ke Eropa guna mendampingi putraputra Susuhunan (Djawi Hiswara,18 Juni 1918). Abdul Rivai kembali melawat ke Eropa, antara lain ke Belanda dan Swiss untuk mendampingi para pangeran kasunanan yang menuntut ilmu di sana. Pada kurun 19191921 Rivai berkelana ke negaranegara Eropa yang dulu belum sempat dia singgahi dan kemudian ke Amerika. Sepanjang perjalanannya itu, Rivai selalu mengirim tulisantulisannya ke tanah air demi kemajuan bangsanya. Selama di benua seberang, Rivai terlibat dalam keredaksian Bintang Timoer selaku redaktur pembantu. Tulisan Rivai tetap ganas, berisi kritik, menelanjangi ketidakberesan. Slogan “kemajuan” dan “tanah air” yang didengungkan Rivai menjalar ibarat benih yang disemaikan di antara pemudapemuda Indonesia, baik yang berada di tanah air maupun yang sedang merantau di negeri orang. Dengan berbekal pena, Rivai memimpin dan menyadarkan bangsanya, sehingga berpuluhpuluh surat dari tanah air diterimanya. Kebanyakan dari suratsurat itu berisi sanjungan serta pujian atas jasa Rivai membuka mata banyak orang yang tertindas tentang politik penjajahan. Ketika menetap di Belanda, Rivai menjadi saksi hidup ketika Mohammad Hatta dan kawankawannya yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) ditangkap pemerintah Belanda pada 1927 dengan tuduhan menjadi anggota perkumpulan terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut. Rivai segera menulis kritikannya terhadap pemerintah Belanda melalui Bintang Timoer. Selain itu, Rivai juga menggagas dibentuknya studiefonds alias lembaga donor untuk membantu anakanak Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Belanda
Cerita kesuksesan Abdul Rivai menaklukkan seorang Belanda, Fokkers, tersebar hingga ke Hindia-Belanda. Koran Fafa Bode di Batavia menyebut Rivai sebagai “inlander yang lupa daratan.” Pasca di koran “Bandera Wolanda”, Ahmad Rivai bekerja di koran “Bintang Hindia”. Majalah ini mengalami sukses besar. Di koran ini, ia berjuang keras membangkitkan kesadaran orang Hindia agar bisa mengejar kemajuan. Rivai meninggalkan koran ini tahun 1907. Setelah itu, tiga tahun kemudian, Bintang Hinda pun meredup. Ahmad Rivai sudah merampungkan gelar doktoralnya. Ia sempat pulang ke tanah-airnya dan terlibat aktivitas pergerakan di sana.
Tahun 1919, Rivai kembali ke Eropa. Di sinilah ia mulai terlibat di koran “Bintang Timur”. Melalui Bintang Timur, Rivai aktif menelanjangi kebusukan kolonialisme dan menyokong pergerakan pemuda Indonesia di Belanda. Pada periode itu, Bintang Timoer melaporkan secara khusus tentang kelompok Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, yang salah satu anggotanya adalah Bung Hatta, yang kemudian hari akan menjadi Wakil Presiden Indonesia pertama. Pemimpin Redaksi Bintang Timoer, Parada Harahap, menyebut tulisan-tulisan Abdul Rivai sebagai “tajam, meski diatur segala sederhana, tetapi sampai beripuh menusuk jantung, membangunkan semangat yang hampir terpendam.” Abdul Rivai sering menulis reportase mengenai kegiatan pergerakan pemuda-pemuda Indonesia di Belanda. Ia juga menggalang berbagai bantuan untuk membantu pemuda-pemuda tersebut.
Sosok Abdul Rivai cukup lekat dengan pencitraan sebagai seorang yang sangat pro kemajuan. Rivai berjuang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda dengan jalan yang cerdas. Rivai bukan orang yang bertipe kolot dan kalap dalam menyiasati perjuangannya melawan ketidakadilan. Sebaliknya, dia teramat menikmati berbagai “fasilitas” modern yang “disediakan” pihak lawan dengan tujuan kebaikan dan kemajuan rakyat Indonesia. Perihal pemaknaan bangsa yang maju, Rivai punya rumusan khusus. Secara garis besar, Rivai membagi manusia Indonesia dalam dua golongan, yaitu bangsawan usul dan bangsawan pikiran. Melalui artikelnya yang dimuat dalam Bintang Hindia tahun 1902, Rivai menjabarkan dua golongan manusia Indonesia yang dirumuskannya itu.
Menurut Abdul Rivai, bangsawan usul terdiri atas orang-orang dari golongan ningrat yang status priyayinya berasal dari faktor keturunan, dengan kata lain memang sudah tergaris ningrat. Selengkapnya tentang bangsawan usul, Rivai menulis: “Dari hal bangsawan oesoel itoe ta oesahlah kita berpandjangan kalam, karena bangsawan ini ialah soeatoe takdir djoea. Djika nenek moyang kita –oleh sebab jang atjapkali tiada disengadja– pada zaman poerbakala terhitoeng di dalam kaoem orang bangsawan, maka nyatalah kita poen ‘orang yang berbangsa‘; walaoepoen pengetahoean dan kepandaian kita seperti keadaan ‘kodok di bawah tempoeroeng.‘ Nistjajalah kita berhak, akan berbesar diri; akan tetapi djika ada orang jang tiada hendak meindahkan hak itoe maka tiadalah boleh kita berketjil hati. Sebabnja, maka demikian, karena kita sekarang hidup di abad jang ke XX.” (Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902) Dalam tulisan itu Abdul Rivai menyatakan bahwa status keningratan bangsawan usul sudah berasal dari nenek moyangnya. Rivai menekankan, bagi kalangan yang tidak memiliki garis darah biru tidak perlu khawatir sebab masa itu adalah abad ke20 di mana yang lebih diperlukan justru pengetahuan yang mumpuni “ketimbang” status sosial keningratan semata. Kaum berpengetahuan maju inilah yang disebut Rivai sebagai bangsawan pikiran. Bangsawan pikiran merupakan golongan priyayi yang muncul bukan karena faktor keturunan melainkan karena halhal yang Rivai sebut sebagai kelebihan luar biasa.
“Kekoeatan badan, ketinggian bangsa, dan kemoeliaan oesoel tiadalah pasal yang pertama lagi akan mendjadi orang jang terbilang. Sekarang bolehlah kepandaian dan ilmoe meatoerkan ke dalam bahagian manakah kita terhitoeng. Keadaan inilah menimboelkan ‘bangsawan pikiran‘ … Adapun bangsawan pikiran itu boleh didapat oleh sekalian manoesia. Oleh sebab ini, bangsa Hindia (Indonesia) poen boleh menjadi sedemikian.” (Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902) Kesimpulannya, bangsawan pikiran adalah mereka yang mau belajar dan mempelajari pikiran serta pendapat orangorang lain yang lebih berilmu, dalam hal ini adalah kaum intelektual bumiputera. Penggolongan Rivai atas intelektual sebagai bangsawan pikiran menunjukkan bahwa dia menempatkan kaum terpelajar Indonesia dalam posisi yang sangat penting dalam memimpin bangsanya menuju kemajuan. (Ahmat Adam, 2003: 176). Abdul Rivai sudah dapat memandang jauh ke depan bahwa perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme tidak akan kekal bila dilawan dengan kekuatan fisik. Abdul Rivai cenderung menekankan perjuangan dengan ilmu pengetahuan dan kepandaian, seperti yang ditulisnya dalam salah sebuah edisi surat kabar Bintang Hindia tahun 1902: “Musuh yang bersenjata itu hanya boleh dilawan oleh musuh yang bersenjata pula. Demikian juga ilmu dan kepandaian itu hanyalah cakap dilawan dengan ilmu dan pengetahuan pula.”
Berikut adalah karya dan karir Abdul Rivai selama menjadi jurnalis, diantaranya.
- Penggagas penerbitan surat kabar Pewarta Wolanda dari Amsterdam, Belanda (1900).
- Redaktur surat kabar Bandera Wolanda, terbitan Batavia (1901).
- Pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia, terbitan Batavia (1902).
- Redaktur dan koresponden surat kabar Bintang Timoer.
- Menulis buku terjemahan “Pengadjaran Perihal Melakukan Kewadjiban Orang Beristeri” (1892).
- Menulis buku “Student Indonesia di Eropa” yang merupakan hasil reportase Abdul Rivai selama berkunjung ke Eropa dan melihat dari dekat perjuangan mahasiswa Indonesia di Belanda pada masa kolonial.