Perketat Regulasi Olahraga Profesional
JAKARTA (HN) -
Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto. (DOK. KEMENPORA)
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) perlu memperketat regulasi di cabang olahraga (cabor) profesional. Hal ini wajib dilakukan demi mengantisipasi kejadian yang dialami atlet muay thai Ricky Refwalu yang sempat koma usai bertanding di Johor International Muay Thai Championship III/2018 pada awal April.
Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) telah memanggil Granat Fighting Camp (GFC), klub yang menaungi Ricky, bersama Muay Thai Profesional Indonesia (MPI)dan Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI), pekan lalu. Disimpulkan GFC, yang sebenarnya anggota KOBI, melakukan kesalahan prosedur karena memberangkatkan atlet pro di kompetisi internasional tanpa izin MPI dan BOPI.
Kesalahan ini berdampak fatal karena tulang kepala belakang Ricky retak setelah dipukul knockout (KO) tuan rumah Muzz Antar Cosms pada duel kelas +100 kg. Paling pelik, operator turnamen tidak menyediakan asuransi bagi petarung yang berkompetisi. BOPI sendiri hanya bisa memberikan sanksi indisipliner kepada GFC karena tak ada regulasi ketat yang mengatur.
"Sanksi tertulis kepada GFC tidak ada, hanya indisipliner. Yang jelas ke depan pengiriman atlet bertanding di luar harus mendapat rekomendasi. Saat ini, Ricky sedang dalam masa pemulihan. Pembiayaan pengobatan katanya urunan dari teman-temannya," Sekretaris Jenderal BOPI Heru Nugroho kepada HARIAN NASIONAL, Selasa (1/5).
"Kami juga meminta federasi profesional memperketat prosedur. Pengiriman atlet ke luar negeri harus memiliki asuransi. Kasus Ricky belum ada asuransi sudah berangkat tanding."
Terpisah, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto mengatakan, regulasi pemerintah sudah ketat. Namun, lanjut dia, klub bandel tetap tak bisa dicegah.
"Jika sudah seperti ini, ujung-ujungnya pemerintah disalahkan," ungkap Gatot. "Kami tidak ingin kejadian ini terulang. Federasi profesional dan khususnya klub harus menaati aturan yang berlaku. Mereka tidak berhak mengatur aturan sendiri. Bagaimana olahraga di Indonesia mau maju kalau regulasi ditabrak."
Reportase : Ridsha Vimanda Nasution
Editor :