layang-layang
Semoga mimpi dan impian tak pernah lari dari lubuk hati yang paling dalam, Meski bunga mekar dipagi hari dan kecut disore nan syahdu, Meski ilalang menari gemulai dan berhenti begitu saja saat tak ada angin, Meski berhujan tawa dan cemooh semoga doa dapat menguatkan, Meski luka bernanah menyapa tetaplah balut dengan senyum dan sabar.
Lihat lah di kala sore itu anak-anak ngumpul sambil membawa layang layang sebagai harta yang paling berharga dikalangan nya, di tengah sawah yg baru sudah di panen kan, jerami pun menjadi tempat hiburan, layang- layang pun di terbangkan, lihat lah seni yg berhasil membuat keringat petani di sawah itu berubah menjadi senyuman. Hei lihat lah layang layang ku berhasil membuat langit tak hanya biru, ujar raju.
Berkata anak petani ,Heii raju lihat lah layang-layang ku berhasil membuat ayah ku tersenyum di tengah sawah itu, lihat lah pakai mata asli mu, apa yang ada di layang- layang ku itu, layang-layang ku sedang memantulkan cahaya dari mentari yang berhasil menghilangkan keringat para petani. Kata “ si zul”
Langit di saat itu tak lagi hanya biru semua berubah, mengalahkan indah nya warna pelangi, anak-anak di lorong itu berkumpul dengan layang-layang di punggung nya. Persawahan adalah tongkrongan yang mengasikkan, musik nya pun berasal dari alam. layang-layang tak bisa di hentikan, kecuali dia akan mendarat ketika mendengar suara adzan. Tapi sore itu bukan adzan yang menghentikan layangan, entah kenapa langit tak suka di lukis di kala itu, entah kenapa awan hitam datang unutk menghapus latar belakang, entah kenapa petir mengusir layang-layang kami. Dengan tenaga yang tersisa si zul pun menggulung benang layangan nya, dalam pertengahan usaha nya tiba tiba angin kencang disertai air hujan menggoncang dengan sisa-sisa tenaga nya si zul belum bisa selamatkan layang-layang nya. Sambil kebingungan.
Angin datang tanpa perundingan, jerami berterbangan, membuat layang-layang pergi dengan penuh keterpaksaan. Sore itu bukan hanya langit yang sedih anak petani di saat itu, ikut serta membasahi sawah dengan air mata yang penuh amarah. Layang-layang raju dan yang lain nya udah siap di punggung bergegas pulang melihat cuaca tak mendukung. Kecuali anak si petani, layang-layang nya di telan oleh bumi. Tanpa peduli kondisi pada saat itu layang-layang pun dikejar, dengan penuh semangat, sehingga menciptakan impian untuk meraih layangan tersebut. Dengan langkah kaki pertama cemoohan hadir di tengah-tengah sawah yang dilontarkan pada anak petani tersebut. Lantunan musik alam disawah yang tadi nya mengikuti irama membentuk keharmonisan sesama, sekarang berubah semenjak adanya suara petir dan cemoohan yg terlontarakan di sawah itu.
Membuat para penerbang layangan memainkan lidah nya.
ngejar layang-layang dengan cuaca segini, gak gila itu orang? Ujar penerbang layangan
ayah nya si zul sibuk memasukkan sisa-sisa padi untuk di bawa pulang supaya tidak basah, perjalanan mengejar layang-layang itu pun segera dimulai. Cemoohan dari mulut ke mulut di tepi sawah itu terus terangkai.
Anak petani ini sunnguh sangat keras kepala dengan cuaca pada saat itu dia berlari mengejar layang-layang itu, sampai pada akhir nya, layang-layang pun tak kunjung di temui, hilang di telan bumi. Dengan senyuman wajah yang telah hilang pada saat itu, anak petani ini pun balik arah pulang dengan baju yang basah , di saat perjalanan balik arah, timbul lah pertanyaan dari anak petani itu yang mengganjal pada pikiran nya. Dan menggelisah kan hati nya
Hei bumi, kamu tak takut sama langit? Layang-layang aku tadi membuat langit terhias sehingga langit tadi tak hanya sekedar biru.
Heii badai kamu tak takut sama ayah ku? Layang-layangku tadi bisa membuat ia tersenyum, lantas kenapa engkau curi senyum nya?
Hei hujan, kamu yakin sudah membasahi ku? baju aku ini basah bukan karena mu tapi karena air mata ku. Air hujan mu belum mampu mengguyur baju ku.
Hei alam kenapa engkau curi layang-layang ku? Tidak kah engkau kasihan melihat diriku yang telah engkau curi kebahgiaan nya, engkau tak takut sama tuhan yang telah membuat orang menderita
“ujar anak petani
Pertanyaan-pertanyaan itu pun dilontarkan pada alam, membuat papan alam saat itu pun terbentur. hening suasana, membuat para penerbang layang-layang berkata, memang benar anak petani ini sudah gila.
Memang alam akan menjawab semua pertanyaan nya? Kata orang di tepi sawahan.
Dengan suasana di persawahan tadi tak terasa adzan telah dilantunkan dari ujung kampung itu, membuat semua orang pulang ke rumah masing masing. Tapi entah kenapa si zul masih duduk merenung di persawahan itu, ayah nya pulang duluan unutk menyelamatkan padi yang tadi yang kebasahan, dan mengira biasa nya anak nya akan pulang seperti biasa. Raju pun datang menyapa nya.
Zul ayo pulang udah adzan nih?
Iya, kamu aja duluan aku lagi nunggu jawaban dari alam, pertayaan ku belum dijawab oleh nya
Sudahlah nanti kita bikin lagi layang-layang untuk mu besok. Ujar si raju
Iya kamu bisa bikin layang-layang sebagus yang kamu bisa, tapi layang-layang aku tadi tak bisa engkau bikin, tidak kah engkau lihat layang-layang itu memantulkan cahaya dari mentari dan menghapus karingat para petani?
Iya aku melihat nya, tapi untuk sekarang ayok pulang? Ajak si raju
Iya aku akan pulang nanti, setelah mendapat kan jawaban dari nya.
Terheran raju apakah sahabat nya ini memang sudah gila atau gimana? Raju pun dengan rasa persahabatan nya yang cukup lama, ia pun menemani anak petani tersebut untuk mendapat kan jawaban nya.
Lama kelamaan waktu terus berputar, alam tak kunjung memberi jawaban, jam pada saat itu menunjuk jam 8 malam sudah 2 jam anak itu setia duduk pembatang sawah. Sambil berharap alam menjawab. Entah kenapa ia yakin bahwa alam akan menjawab nya, raju pun ikut yakin bahwa alam akan menjawab nya, tapi pada saat dia khawatir dengan orang tua nya di rumah. Dengan penuh kekecewaan kedua anak tersebut pulang membawa sebuah harapan dan yakin besok jawaban akan di jawab oleh alam, anak layang-layang ini melangkah menuju rumah masing masing.
Si zul pun dengan rasa sedih nya, membuat ia tergila-gila dengan layang-layang nya. Layang-layang itu telah mengganggu tidurku, bunyi jantung jarum jam seperti bunyi langkah ku ketika mengejar layang-layang ku, kasur tak lagi bersahabat pada saat itu, bantal tak lagi tempat kepala yang empuk, semua berubah membuat diriku merasakan ada yang aneh ketika kehilangan itu, membuat ku bingung entah kenapa tuhan senang sekali melihat orang menderita seperti ku?, dia cabut kebahagian dari ku dengan menghilangkan kepunyaan berharga ku, membuat ku gila seperti ini. Sepanjang malam itu layangan tersebut telah mungusik ku, membuat mata ku tak lagi bisa terpejam sampai pagi hari. Ujar anak petani sambil menatap alam
Pagi pun datang bergegas tanpa sarapan yang ada dipikiran ku sekrang adalah layang-layang, dengan baju yang sama, gaya yang sama, aku pun langsung ke persawahan itu, melihat aku lah pengunjung persawahan pertama kali hari ini.yang melebihi rajin nya petani, dan langsung mengambil posisi yang sama, seperti kemaren, duduk tanpa ada raju di sebelah nya, dan terus berharap alam menjawab pertanyaan nya, berharap pada angin untuk membawa kembali layangan ku, berharap pada bumi untuk memuntahkan layangan ku, dengan perut kosong pada saat itu, ia masih bersabar menunggu.
Setelah lama duduk disana raju pun datang untuk menemui nya. Dan raju melihat sahabat nya yang selalu menunggu tanpa lelah, raju pun senantiasa menemani nya, dengan perut yang kosong si raju senantiasa mengantar makanan di persawahan itu dengan rutin nya, raju memberi sarapan di pagi hari, memabawa makan siang di siang hari, dan malam nya si zul pulang menagajak si raju makan di rumah nya.
Hari demi hari anak petani ini selalu menjadi orang pertama menginjak tanah persawahan, membuat para petani heran dengan apa yang dilakukan oleh si zul ini, semua orang berkata memang anak petani yang punya sawah disana sudah gila, kecuali satu yang memandanag raju ini tidak gila yaitu orang yang berasal dari kampung sebelah, meliahat si zul tiap hari duduk di tempat yang sama. Orang ini pun terus memerhatikan nya tanpa lelah melihat tingkah laku yang dilakukan anak petani tersebut.orang ini baru sampai di kampung nya setelah mendapatkan gelar doktor di jakarta dan membawa ilmu tersebut pulang ke kampung nya, karena keluarga pak tedi ini berasal dari keluarga yg petani maka ia sering mengunjungi sawah yang dimiliki oleh orang tua nya. Pak deti di persawahan tersebut tak hanya bekerja, tapi di samping itu setiap saya pergi ke sawah aku selalu melihat anak kecil yang terus duduk disana dengan baju yang sama dan posisi duduk yang sama. Dan memubuat aku berfikir apakah ini anak tidak gila? Dengan ilmu yang dia bawa dari jakarta tersebut dia gak bisa mengambil kesimpulan langsung ketika melihat suasana seperti ini, aku herus menanyakan kepada anak itu, timbul rasa simpati pada pak tedi itu.
Pada hari berikut dan berikut nya lagi raju senantiasa menemani. Membawa makanan setiap hari, baju yang sama tetap dipakai meski telah kumuh dan robek, suatu hari datang lah pak deti ini.
Nak lagi ngapain?
Aku tak percaya dengan siapapun, aku hanya percaya dengan alam ini, bahwa ia bisa mengembalikan permainan ku. Ujar si zul
Oo gitu, kamu jangan percaya sama aku, aku bukan orang yang patut di percayai, aku ingin kamu terus lah mencari jawaban itu dengan tidak melakukan cara yang sama. Kata pak deti.
Aku sudah menjadi orang gila disini, petani-petani disini tak lagi memandangku ku sebagai manusia, untuk itu biarlah aku menunngu disini seperti orang gila.
Dan aku yakin layangan ku pasti kembali.
Iya kamu bukan lah gila, tapi mereka lah yang gila yang menuduh mu itu gila. Aku pernah menemui orang seperti mu di jakarta sana ketika aku sedang di bangku perkuliahan, di saat itu dalam perjalanan pulang aku melihat orang gila dengan baju robek-robek, badan yang kumuh seperti mu. Sambil duduk dipinngir kali itu.
Untuk itu membuat saya terheran dan langsung menghampiri nya. Obrolan kami awal awal nya tak nyambung dengan apa yang saya katakan. Dan terus berusaha dengan obrolan tersebut orang gila itu pun nyambung terhadap apa yang diertanyakan jawaban demi jawaban ia jawab dengan baik.
Kenapa kamu jadi seperti ini? Tidak mau kah kamu hidup normal seperti saya ?
Kalau dikatakan normal, aku lebih normal dari pada mu. Ujar si gila
Membuat jantung ku berdetak kencang ternyata orang gila ini adalah orang yang berilmu pengetahuan.
Jika kamu normal kenapa pakaian mu robek seperti ini?
Pakaian aku lebih baik robek dari pada pakaian mu, karena di dalam pakaian yang robek ini ada manusia di dalam nya, tapi di pakaian yang rapi sepertimu aku lihat tak ada manusia di dalam nya.
Tersentak dengan jawaban orang gila tersebut bertanya-tanya pada diriku sendiri, sebenarnya siapa kah yang sedang gila, aku atau dia?
Obrolan berkahir dengan penuh tanda tanya. Ditengah sawah itu membuat anak petani itu, terharu dengan cerita pak tedi tadi.membuat Si zul semakin hari semakin gila, cara- cara yang ia lakukan tak hanya menunggu untuk mendapatkan jawaban, si zul pun terkena virus gila dari orang jakarta yang disampaikan pak tedi tadi. Cara-cara ia menjawab pertanyaan ia sendiri pun semakin gila, ia tak lagi berharap pada alam, tapi dia belajar dari alam, di tengah sawah itu ia terus belajar bersama pak tedi tanpa ada bangku sekolah, tanpa ada meja sekolah, tanpa ada papan tulis, tanpa ada kertas, semua alat yang di pakai nya adalah alam, seperti papan tulisan , ia menulis di tanah sawahan itu, alat hitung ia menggunakan jerami untuk menghitung, sehingga membuat ia sedang dalam misi balas dendam, yaitu mencuri ilmu dari alam. Karena alam telah mencuri layang layang ku. Membuat pepatah minang memang benar “alam takambang menjadi guru” hari demi hari tempat aku selalu menunggu layang-layang aku itu menjadi tempat aku mencari ilmu, sampai-sampai aku gila pada nya. Dengan baju robek aku ini, aku telah membuktikan ada manusia di dalam nya meski dibilang gila, lihat lah baju yang rapi disana, aku cuman lihat pakaian nya tapi tak pernah aku lihat manusia nya, untuk itu siapakah diantara aku dan mereka yang gila? Pertanyaan itu pun dilontarkan lagi oleh anak yang di bilang gila itu. Iya mereka lah yang gila, dan aku termasuk orang gila juga pada saat itu. Ujar pak tedi
No comments:
Post a comment