Kasus Typhoid Mary (Jawaban Cerita "Tahanan")
George Soper secepat kilat menghindar dari serangan ayunan garpu mendadak itu. Ia meminta wanita di hadapannya agar bersedia dicek kesehatannya, tapi dia menolak bahkan mengancam. Dia adalah adalah Mary Mallon, wanita yang disebut-sebut sebagai carrier atau pembawa wabah demam tifoid di Amerika pada awal abad ke-20. Kasusnya ini dikenal juga sebagai Typhoid Mary.
Namanya Mary Mallon. Lahir pada 1869 di Irlandia dan bermigrasi ke Amerika Serikat saat remaja setelah kematian kedua orang tuanya. Tinggal bersama dengan paman dan bibinya, Mary bekerja sebagai pembantu, lalu kemudian dengan kemampuannya ia menjadi juru masak di rumah-rumah keluarga kaya.
Tampaknya kehidupan Mary berjalan sempurna. Pekerjaan sebagai koki memberikannya gaji yang sangat besar. Apalagi hidangan buatannya selalu menjadi favorit keluarga-keluarga elit. Dari satu keluarga, kemudian ia direkomendasikan ke kalangan keluarga kaya lainnya, dan begitulah seterusnya bagaimana kemampuan Mary kemudian lambat laun dikenal oleh kalangan atas. Tapi tiba-tiba segalanya berubah menjadi aneh tanpa disadarinya.
Tahun 1900, Mary Mallon bekerja di wilayah Mamaroneck, New York. Baru 2 minggu bekerja di kawasan itu, dilaporkan terjadi wabah demam tifoid. Penduduk di sana tiba-tiba saja jatuh sakit. Namun tidak diketahui asal muasal penyakit tersebut.
Mary kemudian pindah bekerja ke Manhattan tahun 1901. Di sana dia bekerja pada sebuah keluarga. Hanya beberapa hari setelah kedatangannya ke rumah tersebut, anggota keluarga itu mengalami demam dan diare parah. Tidak ada yang mencurigainya sama sekali, tentu saja karena Mary terlihat sangat sehat.
|Mary Mallon|
Seperti itulah polanya dan parahnya lagi Mary sama sekali tidak mengetahui bahwa dialah yang menjadi penyebab penyakit. Orang-orang di sekitarnya juga sama sekali tidak menaruh curiga karena wanita ini terlihat sehat bugar secara fisik.
Pada Juni 1904, Mary dipekerjakan oleh seorang pengacara kaya bernama Henry Gilsey. Dalam seminggu, segera empat dari tujuh pelayan di rumah itu jatuh sakit. Tapi tidak ada anggota keluarga Gilsey yang terinfeksi, karena mereka tinggal terpisah dengan para pelayan.
Setelah itu Mary diketahui pindah ke Tuxedo Park. Di sana dia dipekerjakan oleh George Kessler. Dua minggu kemudian, pelayan di rumah tersebut jatuh sakit dan dibawa ke Pusat Medis Regional St. Joseph. Kasusnya menjadi kasus typhoid pertama yang terjadi di wilayah Tuxedo Park.
Petualangan Mary Mallon terus berlanjut. Ia terus bekerja menjadi koki, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya selama bertahun-tahun.
Pada Agustus 1906, Mary bekerja di Oyster Bay di Long Island di rumah keluarga bankir New York yang kaya, Charles Henry Warren. Mary pergi bersama keluarga Warren ketika mereka menyewa rumah di Oyster Bay untuk liburan musim panas tahun 1906. Pada akhir Agustus separuh anggota keluarga itu terserang demam tifoid.
Dokter-dokter di sana merasa keanehan karena peyakit tersebut sangat tidak biasa menyerang di kawasan Teluk Oyster. Pemilik rumah itu lalu menyewa beberapa ahli untuk mengecek penyakit tersebut. Mereka mengambil sampel air dari pipa, keran, toilet, sampai tangki septik. Tapi anehnya semuanya negatif.
Pada akhir 1906, Mary dipekerjakan di kediaman keluarga Walter Bowen di Park Avenue. Tak lama berselang sejak ia dipekerjakan di sana, pembantu keluarga itu jatuh sakit pada 23 Januari 1907. Dan yang paling membuat terpukul keluarga itu adalah putri semata wayang Charles Warren jatuh sakit dengan diagnosa penyakit tipus dan meninggal.
Warren mempekerjakan George Soper, seorang insinyur sanitasi. Soper yang menyelidiki penyakit ini merasa aneh karena biasanya wabah tersebut menyerang di lingkungan yang kotor. Tapi mengapa justru terjadi di lingkungan keluarga yang bersih bahkan punya kehidupan mewah.
Baca juga: Sejarah Penyakit Berkeringat (Sweating Sickness)
Pada tahun 1906, Soper memulai penyelidikannya. Saat itu sudah ada 639 orang yang dilaporkan meninggal karena tifus di New York.
Soper akhirnya menemukan bahwa seorang juru masak wanita ada di balik wabah yang terjadi. Dia menyadari kalau di suatu wilayah ada wabah typhoid yang merebak, pasti di sana ada Mary Mallon. Dan biasanya wanita itu juga akan pergi ketika wabah mulai merebak. Ketika ia pergi untuk berganti ke pekerjaan lain, dia sama sekali tidak meninggalkan alamatnya yang baru. Jadi sangat sulit untuk bisa melacak keberadaannya.
|George Soper|
Soper tidak asal menuduh. Sebelumnya ia telah menyusun riwayat kerja Mary Mallon selama lima tahun. Dia menemukan bahwa delapan keluarga yang mempekerjakan Mallon sebagai juru masak, nyaris semuanya terkena demam tifoid di mana beberapa di antaranya meninggal dunia.
Kemudian Soper mengajak Dr. Raymond Hoobler untuk membujuk Mary agar ia bersedia memberi sampel urin dan feses untuk dianalisis. Tetapi Mary menolak untuk bekerja sama. Ia berdalih kalau ia sama sekali tidak memiliki masalah kesehatan dan percaya kalau penyakit itu merebak di mana-mana karena makanan dan air yang terkontaminasi.
Soper melapor pada Departemen Kesehatan Kota New York. Mary Mallon sempat mencoba melarikan diri tetapi gagal. Ia lalu dipaksa masuk ambulans oleh beberapa petugas dari kepolisian, didampingi Dr. Josephine Baker. Mary lalu dibawa ke Rumah Sakit Willard Parker, di mana dia ditahan dan dipaksa untuk memberikan sampel.
Saat dikarantina, dia memberi sampel tinja dan urin tiga kali seminggu. Pihak berwenang menyarankan untuk mengoperasi kantong empedunya, tetapi dia menolak karena dia tidak percaya dia membawa penyakit itu. Sepertinya Mary tidak mengerti apa arti kata pembawa atau carrier sebenarnya, apalagi karena dia sendiri tidak menunjukkan gejala sakit.
|Mary Mallon (depan)|
Satu-satunya yang bisa menyembuhkanya, kata dokter kepada Mary adalah dengan operasi pengangkatan kandung empedu. Mary menolak menjalani operasi tersebut. Pada saat itu, operasi pengangkatan kandung empedu sangat berbahaya, dan banyak yang meninggal akibat prosedur tersebut.
Lalu bagaimana sampai Mary bisa menularkan penyakit tifoid? Diduga kuat kalau penyakit itu didapatnya saat masih dalam kandungan ibunya. Jadi ia terlahir dengan penyakit tersebut karena ibunya tertular saat hamil.
Kasus Mary Mallon ini mendapatkan perhatian publik secara luas setelah publikasi artikel oleh George Soper di Journal of American Medical Association. Tak lama setelah itu, Mary Mallon menerima julukan "Typhoid Mary".
Selain itu keduanya juga menganggap isolasi sebagai hukuman yang tidak perlu dan terlalu ketat. Mary sendiri menderita gangguan saraf setelah penangkapannya dan pemindahan paksa ke rumah sakit.
Pada tahun 1909, dia pernah mencoba menuntut Departemen Kesehatan New York, tetapi pengaduannya ditolak dan kasusnya ditutup oleh Mahkamah Agung New York . Dalam surat kepada pengacaranya, dia mengeluh bahwa dia diperlakukan seperti "kelinci percobaan".
Mallon sendiri tidak pernah percaya bahwa dia adalah seorang carrier. Dengan bantuan seorang teman, Mary mengirim beberapa sampel ke laboratorium independen di New York. Hasilnya semua negatif. Sementara itu pemeriksaan di North Brother Island menunjukkan hampir seperempat dari analisisnya dari Maret 1907 hingga Juni 1909 juga negatif.
Setelah 2 tahun 11 bulan menjalani isolasi, Eugene H. Porter, Komisaris Kesehatan Negara Bagian New York, memutuskan untuk membebaskan Mary asalkan dia setuju untuk berhenti bekerja sebagai juru masak dan menghindari penularan tifus ke orang lain.
|Mary Mallon (keempat dari kanan)|
Setelah dibebaskan, Mary bekerja di binatu. Tetapi rupanya pekerjaan di binatu tidaklah menghasilkan uang yang banyak seperti ketika dia bekerja menjadi juru masak. Tambah lagi dia kurang menyukai pekerjaannya tersebut. Pada suatu hari terjadi kecelakaan di tempatnya bekerja. Lengannya terluka dan lukanya itu menjadi terinfeksi. Luka itu sepertinya bertambah parah karena Mary menjadi tidak dapat bekerja sama sekali selama enam bulan.
Setelah ketahuan identitasnya, Mary melarikan diri. Tetapi polisi dapat menemukan dan menangkapnya ketika dia sedang membawa makanan ke seorang teman di Long Island. Mary dikembalikan ke karantina di Pulau North Brother pada tanggal 27 Maret 1915.
Sedikit yang diketahui tentang hidupnya selama karantina kedua. Mary berada di North Brother selama lebih dari 23 tahun. Enam tahun sebelum kematiannya, dia mengalami stroke. Mary tidak pernah sembuh total, dan setengah dari tubuhnya tetap lumpuh setelah itu.
|Rumah di mana Mary Mallon dikarantina (North Brother Island)|
Setelah meninggalnya Mary, pejabat kesehatan New York mengidentifikasi ternyata ada lebih dari 400 carier penyakit Salmonella typhi lainnya yang sehat, sama seperti Mary Mallon.
Salah satu dari mereka adalah seorang pria bernama Tony Labella, seorang imigran Italia, yang diduga menyebabkan lebih dari 100 kasus tifoid (dengan lima kematian). Lalu ada juga seorang lagi yang dijuluki "Typhoid John" dan diduga telah menginfeksi 36 orang (dengan dua kematian). Selain itu ada pula Alphonse Cotils, pria Belgia yang merupakan pemilik restoran dan toko roti di New York yang juga menjadi pembawa tifoid.
Setelah semua ini satu hal yang saya sadari. Hal yang menyedihkan dari kasus Mary Mallon adalah bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang dihukum karena menjadi carrier atau super spreader dengan penahanan di pulau terpencil selama lebih dari seperempat abad sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya terasing di pulau itu.
Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Mary_Mallon
#abu haidar ReplyDelete
pernah baca artikel ini tp dimana n situs apa gt?
tp diolah kembali secara apik oleh sang penulis 👍👍👍
mirip kaya orang tanpa gejala/otg pada pandemi corona.
apakah mungkin ada seorang carier yg bertahan sebegitu lama sampe seperempat abad lamanya?
Halo Haidar, sudah banyak kok blog dan website yang bahas Typhoid Mary ini. Cuma ternyata masih banyak juga yang belum tahu. Mudah-mudahan nambah wawasan buat pembaca Merinding.. ^^ Iya kasusnya seperti orang tanpa gejala. Entahlah kalau carrier yang bertahan lebih lama :) Delete
#,abu haidar ReplyDelete
ini link nya mba admin
https://www.anehdidunia.com/2015/06/pembunuhan-massal-tidak-sengaja.html?m=1
sekali lg salut dengan admin yg mengolah sebuah kasus secara apik dan runtut....
semoga tidak berkecil hati kalo sedikit yg komen👍👍👍
Iya Haidar, situs anehdidunia pernah membahas ini tapi dengan kasus lainnya juga. Wahh.. terima kasih apresiasinya yaa..^^ Delete
anjay pembaca stius anehdidunia ternyata Delete
Situs anehdidunia memberi info yang unik tapi dikemas ringan. Salut karena situs ini masih eksis dan terus update sampai sekarang. Delete
Poor marry...saya sendiri seumur hidup pernah beberapa kali terserang tifus dan itu rasanya seperti mau sekarat...dan waktu itu dokternya bilang kalau kita sudah kena penyakit tifus memang bisa sembuh tapi penyakit nya engga bisa hilang sewaktu2 bisa kambuh kalau kondisi kita lagi ga bagus...Wallahu'alam.. ReplyDelete
Pengalaman pribadi ya, Green-green.. :) Ternyata kambuhan gitu ya tifus ini? Btw menurut ceritanya sih waktu kasus ini merebak (awal abad 20) para petugas kesehatan malahan belum mengenal istilah pembawa/carrier yang sehat. Delete
Iya Thor kirain cuman penyakit hemofilia aja yang ada career nya... ReplyDelete
Kalau hemofilia sudah terkenal sekali ya green-green, terutama dalam sejarah monarki Eropa.. Delete
#abu haidar ReplyDelete
udah nyoba log in tp tetep aja keluarnya unknown...ini nama anakq nama emailq panggysyahriar@gmail.com
q dr jaman jebod udah hobi berselancar mengarungi blog misteri dunia dan konspirasi
dari blognya bung enigma
blog harist cryptozoology
blog alam mengembang jadi guru
blog misteri tesla
blog anehdidunia.com
blog merinding
terus berkarya mba admin ditunggu karya karyanya....
Itu sudah ada kok nama penggunanya, Haidar ^^ Delete
Wah..sudah jadi pembaca blog misteri dari jaman dulu ya.. Iya semoga bisa terus menulis untuk Merrior :)
Bertemu disini juga para pembaca AMJG=verses of universe 👍👍😅 Delete
Serasa reuni ya, Harllie.. Pembaca blog-blog misteri jaman dulu kumpul hehe.. :D Delete
Blog Alam Mengembang Jadi Guru itu keren sekali, bahas tentang alam dan misterinya. Baru-baru ini penulisnya sudah update lagi. Tapi tidak bisa komen sepertinya..
Alam Mengembang Jadi Guru merupakan peribahasa minang. Iya sayang tidak ada kolom utk komentar sama seperti blog anehdidunia.com. Delete
Peribahasa Minang? Wah, baru tahu Harllie.. Orang Minang kah yang punya? Delete
Sial,ane kesiangan :v ReplyDelete
BTW,ternyata Typhoid Mary itu sejenis penyakit tifus,ya.
Makasih ya,Min.Pengetahuan ane jdi bertambah.
Semangat buat upload cerita baru,Min.
Semangat, Tsubasaki!! ^^ Delete
Sebenarnya kita bisa belajar dari kisah ini, polanya mirip dengan keadaan sekarang: ReplyDelete
- pembawa penyakit tanpa gejala
- setiap dites hasil negatif
- dia jarang mencuci tangan
- soal karantina dan isolasi yg menggangu psikis
Setuju dengan kutipan terakhir, seperti ada diskriminasi terhadap Mary pada saat itu. Dan plot twistnya ternyata semua yg telah terjadi 1 abad yg lalu gak beda jauh dengan keadaan saat ini.
Iya mirip sekali dengan apa yang terjadi sekarang ya.. Hanya saja wilayah penyebaran penyakitnya jauh lebih luas. Sebenarnya masih tidak mengerti juga kenapa hanya Mary yang dihukum seperti itu ya, Harllie.. Delete
blog lain yang kontennya kayak merinding.com apa ya??? yang lawas-lawas juga gpp, tapi saya tetep akan jadi penggemar setua merinding.com kok :) ReplyDelete
Banyak kok blog lain yang kontennya sama seperti blog ini. Sayangnya kalau yang lawas banyak yang sudah tidak update lagi. Kalau suka misteri alam bisa ke Alam Mengembang Jadi Guru. Kalau suka makhluk-makhluk cryptid bisa ke blog misteri Tesla. Kalau suka riddle mampir ke Mengaku Backpacker. Delete