Reformasi kerajaan menjadi tuntutan utama tapi unjuk rasa juga menyuarakan kebebasan demokratis yang lebih besar, termasuk hak kelompok LGBTQ dan perempuan, termasuk reformasi pendidikan dan ekonomi.
Aktivis mengatakan mereka muak dengan ketidakadilan seperti militer terus memegang kekuasaan melalui konstitusi, keadaan darurat virus corona yang berkepanjangan - yang mereka katakan dimanfaatkan untuk melumpuhkan oposisi politik dan kebebasan berbicara - dan hilangnya aktivis demokrasi yang hidup di pengasingan.
Bahkan pelajar sekolah menengah ikut berunjuk rasa, menolak menyanyikan lagu kebangsaan di sekolah dan mengacungkan hormat tiga jari.
Sebagian besar kemarahan mereka ditujukan kepada Perdana Menteri Prayut, yang rancangan konstitusinya memungkinkan dia untuk mengamankan jabatan perdana menteri pada Maret 2019 melalui Senat yang ditunjuk militer.
Ketika Partai Maju Masa Depan pro-demokrasi yang populer - memenangkan jumlah suara tertinggi ketiga dalam pemilihan - diperintahkan untuk dibubarkan pada Februari, anak muda menyerbu jalan-jalan dalam unjuk rasa massal, menyebut langkah itu tidak demokratis.
Bulan lalu, kelompok protes Bebaskan Rakyat memimpin sekitar 1.000 pengunjuk rasa menuntut perubahan konstitusional ke parlemen setelah memutuskan untuk menunda keputusan apakah akan mengubah konstitusi hingga November.
"Sistem pemilu tidak benar-benar demokratis," kata Punchada.
"Bukan hanya pelajar tetapi kelas menengah dan orang miskin yang ingin melihat pemilu yang demokratis dan pemerintahan (dibangun) di atas sistem demokrasi yang nyata."
Panusaya kini mulai terkenal dan menjadi simbol gerakan massa. Keluarganya mendukung aktivismenya.
"Ayah saya sangat mengkhawatirkan saya. Orang tua saya mendukung keputusan saya, tetapi mereka mengkhawatirkan keselamatan saya."
Dia juga sadar bicara di depan umum tentang kerajaan bisa berbahaya.
"Ya, mereka menempatkan orang di depan asrama saya. Saya diikuti oleh mobil atau motor tak dikenal," katanya.
Pengacara Thailand untuk Hak Asasi Manusia melaporkan 62 orang telah ditangkap selama tiga bulan unjuk rasa, beberapa di antara mereka menghadapi tuduhan penghasutan.
Panusaya mengatakan dia sepenuhnya mengakui apa yang bisa terjadi jika dia melanjutkan tuntutannya tetapi mengatakan dorongan untuk reformasi terlalu penting.
"Saya tahu semua kemungkinan dan masalah yang bisa menimpa saya, termasuk hidup saya sendiri," katanya.
"Kami bertujuan untuk menyebarkan ideologi reformasi monarki ini sejauh yang kami bisa." [pan]
Baca juga:
Thailand Keadaan Darurat, Unjuk Rasa Memanas dan Massa Dilarang Berkumpul
Suasana Jalanan Kota Bangkok Mendadak Sepi Pendemo Usai Dekrit Darurat Dikeluarkan
Ribuan Demonstran Tuntut Reformasi Kerajaan Thailand dan Perdana Menteri Mundur
Serukan Reformasi, Mahasiswa Thailand Pasang Plakat 'Negara Milik Rakyat'
Polisi Thailand Tangkap Tujuh Aktivis Prodemokrasi Terkait Unjuk Rasa Anti Pemerintah
Apa yang Membuat Rakyat Thailand Berani Demo Turun ke Jalan Menentang Raja?
Percikan Revolusi di Thailand, Suara Pemuda yang Ingin Mengguncang Kerajaan
Halaman
21 Jam Sebelum Teror di Mabes Polri
Mabes Polri Diserang, Fungsi Intelijen Dipertanyakan
Virus Radikalisme di antara Wahabi dan Milenial
Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami