Merdeka.com - pria kulit putih'.
Dari semua kekejaman itu, yang paling parah adalah genosida kebudayaan sistematis pemerintah kulit putih Australia terhadap suku Aborigin pada awal abad 20. Untuk mengatasi 'ketertinggalan peradaban' warga pribumi, karena memilih hidup di alam bebas atau memakai busana seadanya, muncul kebijakan pembauran.
Masalahnya, asimilasi ini dijalankan secara paksa. Ronald Wilson mengumpulkan kesaksian lebih dari 100 ribu anak-anak Aborigin pada periode 1910-1970, direbut paksa dari orang tuanya, untuk hidup bersama orang tua angkat kulit putih.
Mereka diwajibkan berbahasa inggris, membuang semua budaya Aborigin. Banyak dari mereka sampai akhir hayatnya tak pernah bertemu orang tuanya.
Kasus ini menggemparkan dunia internasional. Ratusan ribu anak Aborigin malang itu disebut 'generasi yang diculik'. Ratusan bersaksi di bawah sumpah, bahwa mereka justru diperkosa polisi maupun orang tua angkat yang baru, setelah diambil paksa dari rumahnya di pedalaman.
Laporan rinci Ronald menyatakan cara pemerintah Australia 'memacu peradaban Aborigin' melanggar Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948, Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965, dan Piagam PBB 1948.
"Praktik diskriminasi dan genosida ini dijalankan bahkan setelah Australia secara sukarela menandatangani traktat internasional tersebut," tulis Hakim Ronald.
Setelah laporan tersebut, publik Negeri Kanguru kembali dikejutkan naskah akademik "Genosida di Australia" oleh Guru Besar Universitas Macquarie, Colin Tatz, pada 1999.
Selain menculik anak-anak Aborigin supaya lebih beradab, genosida pemerintah Australia dijalankan dengan melarang wanita dewasa Aborigin hamil. Bagi pria pribumi yang melawan asimilasi, maka polisi berhak memukulinya. Kasus-kasus pembunuhan aborigin dewasa karena menolak anaknya diambil pemerintah masih terjadi hingga 1970.
Dampak dari rasisme merusak pendatang kulit putih di Australia, terlihat dari anjloknya populasi warga Aborigin. Pada 1788, diperkirakan populasi penduduk pribumi lebih dari 750 ribu.
Pemerintah Australia baru sudi melibatkan Aborigin dalam sensus pada 1971. Pada sensus 1996, tercatat penduduk pribumi tinggal 1,97 persen dari total populasi Benua Kelima itu.
Mengingat fakta pemerintah Australia berlumur darah puluhan ribu Aborigin, itu sebabnya komentar Abbott ditanggapi panas.
Keturunan korban penculikan paksa Aborigin Matilda House menilai Abbott seakan tidak pernah belajar sejarah.
"Bagaimana bisa sebuah kapal kecil berisi narapidana dari Inggris bisa lebih menentukan dari warga yang hidup sejak 60 ribu tahun lalu di benua ini." [ard] SEBELUMNYA
21 Jam Sebelum Teror di Mabes Polri
Mabes Polri Diserang, Fungsi Intelijen Dipertanyakan
Virus Radikalisme di antara Wahabi dan Milenial
Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami