Selama beberapa tahun terakhir, perkembangan esports tanah air terasa begitu pesat. Dari yang tadinya hanya sebatas hobi, kini esports sudah menjelma menjadi salah satu industri yang patut diperhitungkan.
Perkembangan esports yang begitu pesat hingga dapat diketahui oleh masyarakat luas tentu tidak terlepas dari perjuangan-perjuangan orang yang akan RevivalTV bahas di artikel ini.
Lalu siapa saja figur-figur paling berpengaruh di komunitas esports Indonesia? Dan mengapa kehadiran mereka begitu penting bagi sejarah perjalanan esports di negara kita? Tanpa basa-basi yang panjang, langsung saja kita simak.
1. Giring Ganesha (Kincir, IESPL)
Bagi pecinta musik, nama Giring Ganesha mungkin tidak akan asing di telinga. Sebelum terjun ke dunia esports, Giring memang adalah seorang musisi.
Dulunya dia adalah vokalis dari band musik ternama di tanah air bernama Nidji. Bersama teman-temannya di Nidji, Giring pernah menghebohkan dunia musik Indonesia di beberapa tahun silam.
Pada tahun 2018 lalu, Giring resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia musik untuk terjun ke dunia politik. Tapi siapa tahu, bersamaan dengan masuknya dia ke politik, Giring juga pelan-pelan merambah ke dunia game dan esports.
Resmi terjun ke esports, Giring pun mendirikan sebuah website berita yang membahas tentang game dan esports bernama Kincir.
“Di era sekarang yang serba digital, cita-cita kita sekarang tidak ada batasnya. Asal kita usaha dan kerja keras semua pasti bisa.” — Giring Ganesha
Kepeduliannya terhadap perkembangan esports tanah air semakin terlihat sewaktu dia membentuk IESPL. Berbagai turnamen esports diadakan melalui IESPL, di mana salah satu yang terbesar adalah Piala Presiden Esports 2019.
2. Ricky Setiawan (IDEA Network, Duniaku, GGWP.ID)
Para penggemar turnamen esports Arena of Valor, kebanyakan dari kalian mungkin pernah mendengar tim bernama GGWP.ID.
Yep, nama GGWP.ID memang sering muncul di turnamen-turnamen AOV bergengsi di Indonesia. Bahkan tak jarang mereka menjadi juara di turnamen yang mereka ikuti. Akan tetapi, apakah kalian tahu siapa orang di balik kehadiran tim ini?
Tentu saja, kehadiran tim GGWP.ID di dunia esports Indonesia sangat erat hubungannya dengan pria ini.
Dia adalah Ricky Setiawan, bos besar di balik grup media GGWP yang menaungi beberapa situs berita dan event game ternama di tanah air, seperti Duniaku, BEKRAF Game Prime, dan tentunya GGWP.ID.
Nama Ricky Setiawan memang sudah dikenal lama, bahkan semenjak esports masih belum begitu besar di Indonesia. Berkat kesuksesannya dalam memimpin website Duniaku, dia sering menjadi pembicara di event-event video game.
Tahun 2017, Ricky Setiawan mendirikan GGWP.ID. Dia mendedikasikan website barunya tersebut sebagai pusat informasi dan berita esports di tanah air.
Lalu, sewaktu Garena mengumumkan kehadiran turnamen untuk AOV, secara bersamaan Ricky Setiawan pun membentuk tim baru untuk bertanding di sana—dengan nama yang sama yaitu GGWP.ID.
3. Tribekti Nasima (Garena)
Nama Tribekti Nasima mungkin kurang terkenal di kalangan pemain game esports di Indonesia. Akan tetapi, hampir sebagian besar orang-orang yang berkecimpung di industri ini pasti kenal dengan pria yang dijuluki Bapak Esports Indonesia ini.
Yep, Tribekti Nasima merupakan salah satu pengamat esports yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh besar di esports dalam negeri.
Bagaimana tidak? Dia pernah menjadi orang di balik berdirinya raksasa esports EVOS dan beberapa tim Dota 2 yang dulunya pernah merajai turnamen-turnamen Dota 2 di negara kita, di mana salah satunya adalah Zero Latitude.
Dia juga adalah pendiri dari DTVI (Dota 2 TV Indonesia), satu-satunya studio yang menyiarkan pertandingan esports di saat itu yang sekaligus merupakan pencetus di balik munculnya studio-studio penyiaran esports di zaman sekarang.
Selain itu, Tribekti Nasima atau yang biasa disapa Bekti ini juga merupakan bagian dari Garena Indonesia. Dia pernah menjabat sebagai Project Manager untuk Esports League of Legends Indonesia. Dia juga sempat bergabung ke Mineski Event Team atau Met Indonesia sebagai Head of Operations.
“Keep pushing our dreams in a good way and realize that in doing so, we unlocks people motivation and inspires someone to hit their full potential. “ — Tribekti Nasima
Saat ini, Tribekti Nasima sedang menjalankan tugasnya sebagai Special Project Officer untuk Garena Free Fire.
4. Ivan Yeo (EVOS)
Rasanya tidak berlebihan apabila kita menyebut EVOS sebagai salah satu tim esports tersukses yang tidak hanya di sukses Indonesia namun juga satu Asia Tenggara.
Sejak berdiri pada tahun 2016, dalam waktu singkat EVOS langsung mendapatkan banyak prestasi gemilang. Tim yang mempunyai logo kepala harimau ini menjuarai banyak sekali turnamen bergengsi dari game-game ternama seperti Dota 2, League of Legends, dan AOV.
Tentu saja, keberhasilan EVOS di dunia kompetitif esports tidak terlepas dari sang pendirinya, Ivan Yeo.
Di bawah kepemimpinan Ivan Yeo, EVOS yang tadinya hanya sebatas tim pendatang baru dalam kurun waktu yang cukup singkat pun langsung menjelma menjadi penguasa turnamen sekaligus organisasi esports paling menguntungkan di Asia Tenggara.
“This is my love, my passion and my life.” — Ivan Yeo
Sewaktu membangun EVOS, Ivan Yeo sangat teguh dengan prinsip hidupnya yang mengatakan bahwa “Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika setiap orang diberi kesempatan untuk mengejar apa yang mereka sukai”.
Dari sini, kita bisa merasakan seberapa besar rasa cinta Ivan Yeo kepada EVOS yang saat ini sudah menjadi cinta, passion, sekaligus hidupnya.
5. Ahmad Syahndy (RevivalTV)
Dikenal sebagai salah satu pionir komunitas esports di Indonesia, perjalanan RevivalTV hingga mampu menjadi seperti sekarang ini menyimpan banyak cerita menarik.
Salah satunya adalah tentang perjuangan sang pendirinya, Ahmad Syahndy, yang rela mengorbankan apapun demi mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan.
Ahmad Syahndy, pria yang akrab disapa Senz ini merupakan pendiri sekaligus pemilik dari media esports RevivalTV. Rasa cintanya kepada esports menjadi satu-satunya alasan dia bekerja keras selama bertahun-tahun dalam membangun RevivalTV.
Bahkan diketahui bahwa dia rela menjual mobil pribadinya demi membayar segala kebutuhan yang saat itu diperlukan oleh perusahaannya tersebut.
“You don’t need to play just to prove something.” — Ahmad Syahndy
Perjalanan Senz dalam membangun RevivalTV dimulai dari tahun 2013. Saat itu, dia hanyalah seorang anak muda yang sangat menyukai bertanding di turnamen esports. Hanya saja, dikarenakan merasa diri sendiri tidak sejago pemain lain, dia pun membentuk tim esports sendiri, lalu menamainya Revival Esports.
Revival Esports berkembang cukup pesat di mana saat itu tim ini memiliki beberapa divisi berbeda untuk Dota 2, CSGO, League of Legends, Overwatch, dan Vainglory.
Setelah tiga tahun membentuk tim esports, Senz pun mengakui susahnya membuat tim esports di Indonesia apalagi yang bisa berkelanjutan. Ia akhirnya memilih untuk membuat RevivaLTV untuk fokus memberikan eksposur terhadap esports.
Semenjak didirikan, RevivalTV mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan tidak diperlukan waktu lama bagi media ini untuk berdiri sejajar dengan media-media besar lainnya di Indonesia yang lebih dulu dibentuk.
Hari ini, RevivalTV sudah menjadi sebuah media yang bisa diandalkan oleh kalangan pecinta esports dalam mendapatkan informasi seputar esports. Tidak hanya sebagai sumber informasi, RevivalTV bahkan sering diberikan kepercayaan untuk menjadi penyelenggara turnamen-turnamen esports bergengsi di Indonesia.
6. Eddy Lim (IESPA, Ligagame)
Eddy Lim memegang peranan yang sangat penting dalam sejarah esports di Indonesia. Beliau sudah menjadi penyelenggara turnamen esports sejak awal tahun 2000-an.
Salah satu turnamen terbesar yang pernah dipegang langsung olehnya adalah World Cyber Games (WCG) pada tahun 2002. Turnamen esports berskala internasional pertama yang diadakan di Indonesia.
Selain menjadi penyelenggara turnamen esports, Eddy Lim yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum IESPA juga adalah pendiri dari salah satu media game tertua di Indonesia yaitu Ligagame, yang pada awal dibentuknya bernama Indonesia Gamers.
Ligagame sendiri mempunyai pengaruh yang besar khususnya terhadap perkembangan komunitas pecinta game di mana saat itu hampir semua orang yang bermain game pastinya akan mengunjungi Ligagame.
Hal ini berjalan searah dengan tujuan utama Ligagame didirikan, yaitu sebagai wadah untuk mengumpulkan para pecinta game dari seluruh Indonesia.
Selain itu, Ligagame juga menjadi pionir bagi kemunculan esports di Indonesia sewaktu menghelat turnamen game online pertama pada 1999.
Kala itu, mengadakan turnamen esports tidak semudah sekarang. Eddy Lim dan rekan-rekannya dari Ligagame harus merasakan yang namanya terjun ke lapangan langsung demi memperkenalkan dan mengajak pemain game untuk ikut berkompetisi.
“Tahun 1999, kami sudah melangsungkan sebuah kejuaraan. Tapi, tidak semudah sekarang. Kalau dulu, kami harus mendatangi warnet satu per satu. Lalu kami jelaskan bahwa akan ada kejuaraan dengan aturannya seperti apa dan lokasinya di mana. Saat itu, game yang ditanding hanya Quake II dan Starcraft.” — Eddy Lim (Source: Kumparan)
Dapat dibilang, Eddy Lim adalah saksi hidup bagaimana perkembangan game online dan esports di Indonesia. Dari turnamen antar warnet hingga ke yang skala internasional seperti Asian Games 2018, semuanya sudah pernah dirasakan olehnya.
Tahun 2013 menjadi tahun penting bagi esports Indonesia, khususnya untuk Eddy Lim sendiri yang sudah bertahun-tahun mengabdi di industri ini. Dibentuknya IESPA di tahun 2013 secara tidak langsung membuka jalan masuk dukungan pemerintah kepada industri esports di tanah air.
7. Richard Permana (Team NXL>)
Kita semua tentu tahu, bahwa membangun sebuah tim esports adalah hal yang tidak mudah. Terutama dalam hal bekerjasama untuk mengejar target yang sama.
Tidak sedikit tim esports di tanah air terpaksa harus bubar dikarenakan perbedaan visi antar pemain. Bahkan beberapa di antaranya bubar hanya karena masalah yang cukup sepele.
Sebagai pendiri dari Team NXL> yang merupakan tim esports papan atas di Indonesia, jelas Richard Permana sudah merasakan semua itu, tentang betapa sulitnya membentuk dan menjaga sebuah tim esports agar tetap eksis selama bertahun-tahun.
Perjalanan membentuk tim esports tersebut dimulai sejak tahun 2004, di mana pada saat itu Richard Permana masih duduk di bangku perguruan tinggi.
Bersama dengan beberapa temannya, Richard merasakan turnamen esports amatir pertamanya. Hadiah yang didapatkan dari turnamen di saat itu pun tidak seberapa, di mana hadiahnya hanya bisa digunakan untuk membayar biaya warnet.
Tetapi hal ini ternyata tidak mematahkan semangat Richard Permana untuk terus mengembangkan Team NXL> dalam berkompetisi di panggung kompetitif. Dengan masih bermodalkan uang pribadi yang dikeluarkan dari kantong, Richard selangkah demi selangkah membawa Team NXL> menjadi lebih baik.
“You may have a long way to go, but if you’ll look back, you’ll see how far you’ve already come.” — Richard Permana
Hingga akhirnya pada tahun 2013, Team NXL> sukses membuktikan kemampuannya di ajang Asian Cyber Games 2013 di Beijing, Tiongkok.
Sampai hari ini pun, perkembangan Team NXL> masih terus berlanjut. Kini, Team NXL> dikenal sebagai salah satu tim esports paling sukses di Indonesia dengan segudang prestasi yang mereka dapatkan dari berbagai turnamen berskala nasional dan internasional.
8. Pratama Indraputra (Met Indonesia)
Terlahir sebagai seseorang yang mempunyai jiwa kompetitif di video game, Pratama Indraputra mendedikasikan hampir sepanjang karirnya bekerja di industri video game dan esports.
Pria yang biasa dipanggil Yota ini sudah merasakan hampir sebagian besar profesi pekerjaan yang dibutuhkan di industri ini. Dimulai dari Designer, Esports Producer, Sutradara, Presenter, Photographer, Jurnalis, Script Writer, hingga ke Operator Warnet.
Pengaruh Yota di esports Indonesia dimulai dari tahun 2014 sewaktu dia mendirikan Dota 2 TV Indonesia. Bersama tiga koleganya saat itu, Yudi Anggi, Andi Joe, dan Tribekti Nasima, Yota membangun sebuah studio penyiaran esports yang hari ini telah menjadi standar bagi banyak studio di zaman sekarang.
Yota juga merupakan cikal bakal lahirnya banyak Shoutcaster Esports profesional di Indonesia. Tak jarang dia memberikan tips bagaimana cara membawakan pertandingan esports yang disukai oleh penonton.
Dikarenakan hal ini, maka tak heran hingga sekarang pun Yota tetap dianggap sebagai salah satu mentor terbaik bagi orang-orang yang ingin merintis karir sebagai Shoutcaster Esports di Indonesia.
Pada tahun 2016, Yota resmi bergabung ke Garena sebagai Esports Publisher dan Shoutcaster untuk League of Legends Indonesia. Melalui turnamen League of Legends Garuda Series (LGS), Yota memperlihatkan standar baru pembuatan konten esports yang berkualitas.
Setelah 3 tahun pengabdian kepada esports League of Legends, pada tahun 2018 Yota pun memutuskan untuk meninggalkan Garena dan bergabung ke Met Indonesia sebagai Show Director.
9. Riki Kawano Suliawan (Rex Regum Qeon)
Mungkin orang akan lebih mengenal Andrian Pauline selaku CEO sebagai orang di balik kesuksesan Rex Regum Qeon dalam merajai turnamen esports di Indonesia.
Tapi apakah kalian tahu bahwa selain Andrian Pauline, ternyata terdapat satu lagi orang penting yang juga memiliki pengaruh besar di tim ini?
Yep, dia adalah Riki Kawano Suliawan, bos besar pemilik Rex Regum Qeon, tim yang dijuluki sebagai “Sang Raja” di esports Indonesia.
Riki Kawano Suliawan, pria yang merupakan anak dari pemilik Midplaza Holding ini memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah berdirinya Rex Regum Qeon.
Lahir dari keluarga konglomerat, ternyata Riki mempunyai ketertarikan yang sangat tinggi di dunia video game khususnya esports. Dia menghabiskan sebagian besar masa remajanya untuk bermain game dengan unsur kompetitif seperti Counter-Strike.
Pada tahun 2013, Riki mendirikan sebuah perusahaan penerbit game online bernama Qeon Interactive. Perjalanannya sebagai pebisnis di industri game tergolong lancar. Saat itu, di bawah pimpinannya, Qeon Interactive berhasil mendapatkan predikat sebagai salah satu publisher game online terbaik sekaligus terbesar di Indonesia.
Di tahun ini jugalah, Rex Regum Qeon dilahirkan. Riki merekrut sejumlah pemain Dota 2 legendaris untuk bergabung ke dalam timnya. Kehadiran Rex Regum Qeon pada saat itu seolah mendatangkan angin segar kepada esports scene di Indonesia.
Akhir tahun 2017 lalu, Riki pun memutuskan untuk menambah divisi baru untuk Rex Regum Qeon, diantaranya Point Blank dan Mobile Legends. Sampai sekarang, Rex Regum Qeon sudah memiliki 8 divisi, mencakup CSGO, FIFA, AOV, PUBG, dan PUBG Mobile.
Kesuksesan Riki dalam memimpin Rex Regum Qeon tentu akan menjadi contoh bagi banyak calon pemilik tim esports di masa depan. Semoga saja ke depannya dunia esports Indonesia akan kedatangan semakin banyak figur berpotensi seperti bos RRQ ini.
10. Andrew Tobias (Tencent Games)
Ketika membahas esports, khususnya Dota 2, tentunya kita tidak bisa melewatkan nama Andrew Tobias. Pria yang bernama asli Andrew Gunawan ini merupakan salah satu tokoh penting di balik perkembangan komunitas Dota 2 di Indonesia.
Andrew Tobias, atau yang biasa disapa Ndruw, mulai mendedikasikan hidupnya untuk bekerja di industri esports sejak beberapa tahun silam.
Kala itu, Ndruw seringkali ditunjuk untuk menyelenggarakan turnamen Dota. Atas dasar hal ini, maka tidak mengejutkan Ndruw selalu terlihat di hampir setiap turnamen yang diadakan untuk Dota.
Rasa cintanya yang besar kepada Dota membuat Ndruw semakin serius untuk merintis karir di dunia esports. Pada tahun 2014, Ndruw bergabung ke Team NXL sebagai Team Manager.
Bersama sang pemilik tim, Richard Permana, Ndruw memperlihatkan tolok ukur bagaimana mengatur sebuah tim esports secara profesional, yang kemudian ia aplikasikan ke TeamNXL.
Semenjak saat itu, Team NXL secara tidak langsung pun menjadi sebuah standar yang kerap dicontoh oleh orang orang yang ingin mendirikan tim esports.
When we believe this thing (esports) is fun, don’t leave it and this passion is worth a living.” — Andruw Tobias
Setahun bersama Team NXL, Ndruw akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tim tersebut. Kepergiannya dari Team NXL ternyata tidak membuat karirnya surut, melainkan justru semakin bersinar.
Pada tahun 2015, Ndruw pun mencoba hal baru namun masih berada di lingkup esports. Dia menjadi pendiri dari salah satu Event Organizer Esports ternama di Indonesia, World of Gaming.
Selain itu, dia juga sempat bekerja untuk dua produsen gaming terkemuka NVIDIA dan Logitech sebelum akhirnya bergabung ke Tencent Games sebagai Esports Manager untuk PUBG Mobile.
***
Di atas adalah 10 Figur paling berpengaruh di komunitas esports Indonesia. Semoga artikel ini dapat menambah wawasanmu tentang perkembangan esports di negara kita.
Discussion about this post